telkomsel halo

AI in RAN Ericsson janjikan efisiensi jaringan lebih tinggi

06:44:00 | 14 Jun 2026
AI in RAN Ericsson janjikan efisiensi jaringan lebih tinggi
JAKARTA (IndoTelko) Ericsson memperkenalkan AI in RAN, sebuah solusi perangkat lunak yang membawa kecerdasan buatan langsung ke jaringan akses radio (Radio Access Network/RAN). Teknologi ini dirancang untuk membantu operator telekomunikasi meningkatkan kinerja jaringan, efisiensi spektrum, serta penghematan energi melalui pemanfaatan AI yang bekerja secara real-time di dalam infrastruktur jaringan.

Peluncuran AI in RAN menjadi langkah terbaru Ericsson dalam mendorong evolusi jaringan menuju era AI-native. Solusi tersebut memungkinkan operator memanfaatkan model AI khusus telekomunikasi tanpa perlu menambahkan platform perangkat lunak baru, sehingga implementasinya dapat dilakukan secara lebih sederhana dan ekonomis.

AI in RAN mengintegrasikan model AI kelas telekomunikasi yang mampu beroperasi secara real-time di dalam jaringan radio. Teknologi ini dirancang untuk terus belajar dan beradaptasi berdasarkan data jaringan yang dikumpulkan secara berkelanjutan, sekaligus mendukung pemanfaatan Agentic AI guna meningkatkan tingkat otomasi dan kecerdasan operasional jaringan.

Bagi Indonesia, pendekatan tersebut dinilai dapat membantu operator memaksimalkan investasi jaringan 5G yang telah dibangun melalui optimalisasi berbasis perangkat lunak. Di tengah kebutuhan investasi yang besar untuk pengembangan jaringan generasi kelima, penggunaan AI menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan tanpa harus selalu mengandalkan ekspansi infrastruktur fisik.

Data Global System for Mobile Association (GSMA) menunjukkan kebutuhan investasi 5G di Indonesia diperkirakan mencapai US$18 miliar dan dapat meningkat hingga sekitar US$50 miliar pada 2030. Karena itu, optimalisasi jaringan melalui teknologi AI dinilai dapat membantu operator memperoleh nilai tambah dari investasi yang telah dilakukan.

President Director Ericsson Indonesia, Nora Wahby, mengatakan kecerdasan buatan kini menjadi penggerak utama inovasi di berbagai sektor sekaligus menciptakan kebutuhan baru terhadap konektivitas yang lebih andal dan otomatis.

“Melalui AI in RAN, kami membantu penyedia layanan memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi jaringan dan menjaga relevansi jangka panjang bisnis mereka. Teknologi ini juga dapat membantu operator menjawab lonjakan kebutuhan data di tengah tantangan investasi yang terus meningkat,” ujarnya.

Menurut Nora, kemampuan tersebut sejalan dengan upaya mendukung visi Indonesia Digital 2045 melalui pembangunan fondasi jaringan yang lebih cerdas, efisien, dan berkelanjutan.

Model AI yang dikembangkan Ericsson dirancang untuk mengambil keputusan dalam hitungan mikrodetik sehingga mampu merespons kondisi jaringan yang dinamis secara cepat dan akurat. Teknologi tersebut dibangun menggunakan data berkualitas tinggi serta pengalaman Ericsson dalam pengembangan jaringan telekomunikasi global.

AI in RAN dapat diterapkan pada solusi Ericsson 5G Advanced, baik pada jaringan berbasis perangkat keras khusus maupun Cloud RAN. Teknologi ini juga didukung oleh Ericsson Silicon dan generasi terbaru RAN Compute yang menyediakan kemampuan komputasi lebih besar dengan efisiensi energi yang lebih baik.

Pada tahap awal, Ericsson menghadirkan sejumlah fitur seperti AI-native Scheduler untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya jaringan secara otomatis, AI-powered Positioning untuk meningkatkan akurasi penentuan lokasi pengguna, serta AI-managed Beamforming yang dapat menyesuaikan kualitas sinyal secara dinamis.

Selain itu, tersedia pula fitur AI-powered Multi-layer Coordination untuk meningkatkan koordinasi antar lapisan jaringan, sistem Performance Management yang lebih cerdas, serta Augmented Observability yang memberikan transparansi lebih besar terhadap cara AI bekerja dan mengambil keputusan.

Fitur-fitur tersebut mulai tersedia secara bertahap sejak kuartal kedua 2026 dan akan terus dikembangkan sepanjang tahun.

Berdasarkan lebih dari 15 implementasi dan uji coba yang dilakukan secara global, Ericsson mengklaim AI in RAN mampu meningkatkan kecepatan downlink hingga 20%, meningkatkan efisiensi spektrum sekitar 10%, serta mendukung hingga dua kali lebih banyak pengguna dengan trafik tinggi. Teknologi ini juga mampu meningkatkan akurasi prediksi cakupan jaringan hingga 95% dan menghasilkan ketepatan penentuan lokasi pengguna yang jauh lebih tinggi dibanding metode konvensional.

Sejumlah operator global seperti SoftBank, Bell, SK Telecom, dan Rogers telah menyampaikan dukungan terhadap pengembangan AI in RAN. Mereka menilai integrasi AI langsung ke jaringan radio dapat membantu meningkatkan performa layanan, efisiensi energi, serta mendukung lahirnya berbagai layanan digital baru yang membutuhkan konektivitas berlatensi rendah dan berkeandalan tinggi.

Ericsson sendiri telah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam portofolio produknya sejak era 4G. Perusahaan kemudian memperkuat kemampuan tersebut melalui pengembangan akselerator AI pada platform RAN Compute dan teknologi Neural Network Accelerators untuk radio Massive MIMO yang diperkenalkan pada awal 2026.

GCG BUMN
Dengan AI in RAN, Ericsson menargetkan terbentuknya fondasi jaringan generasi berikutnya yang tidak hanya lebih cerdas dan otomatis, tetapi juga mampu mendukung kebutuhan layanan AI yang terus berkembang di masa depan. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories