telkomsel halo

Trafik Uplink melonjak, AI ubah pola penggunaan jaringan seluler

06:07:00 | 24 Jun 2026
Trafik Uplink melonjak, AI ubah pola penggunaan jaringan seluler
JAKARTA (IndoTelko) Jumlah pelanggan 5G global telah melampaui 5 miliar pada kuartal pertama 2026. Pertumbuhan tersebut dibarengi dengan meningkatnya adopsi layanan berbasis 5G Standalone (5G SA) dan network slicing, serta perubahan pola trafik jaringan yang menunjukkan pertumbuhan trafik uplink lebih cepat dibandingkan downlink.

Temuan tersebut terungkap dalam edisi terbaru Ericsson Mobility Report (EMR) Juni 2026 yang memotret perkembangan industri telekomunikasi global serta proyeksi pertumbuhannya hingga beberapa tahun ke depan.

Sepanjang kuartal pertama 2026, terdapat tambahan sekitar 162 juta pelanggan 5G baru secara global sehingga total pelanggan mencapai 5,1 miliar. Ericsson memperkirakan angka tersebut akan terus meningkat hingga mencapai 6,4 miliar pada akhir 2031.

Saat ini sekitar 390 operator telekomunikasi di dunia telah meluncurkan layanan 5G secara komersial. Dari jumlah tersebut, lebih dari 90 operator telah mengoperasikan jaringan 5G Standalone yang memungkinkan hadirnya layanan dengan kualitas konektivitas yang lebih spesifik sesuai kebutuhan pelanggan.

Pada akhir 2025, jaringan 5G telah menangani sekitar 48% dari total trafik data seluler global. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 85% pada 2031 seiring semakin luasnya adopsi teknologi generasi kelima tersebut.

Di kawasan Asia Tenggara dan Oseania, jumlah pelanggan 5G diperkirakan terus tumbuh hingga mencapai sekitar 670 juta pada 2031. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan konektivitas digital serta percepatan transformasi teknologi di berbagai sektor.

Laporan Ericsson juga mencatat peningkatan penggunaan layanan konektivitas berbasis 5G Standalone network slicing. Jumlah penawaran komersial layanan tersebut naik dari 65 pada November 2025 menjadi 84 pada Juni 2026.

Network slicing memungkinkan operator menyediakan kualitas layanan yang berbeda untuk berbagai kebutuhan, mulai dari aplikasi industri hingga layanan konsumen yang membutuhkan performa jaringan tertentu.

Chief Technology Officer Ericsson, Erik Ekudden, mengatakan perkembangan AI akan mendorong perubahan besar pada arsitektur jaringan seluler di masa depan.

Menurutnya, penggunaan AI tidak lagi hanya terpusat di pusat data, tetapi akan semakin tersebar ke berbagai perangkat, kendaraan, dan lingkungan yang saling terhubung melalui jaringan 5G. Karena itu, jaringan seluler akan berkembang menjadi infrastruktur strategis yang mendukung beragam aplikasi digital masa depan.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menilai pembangunan jaringan 5G harus dipandang sebagai bagian dari infrastruktur nasional yang strategis untuk mendukung transformasi berbasis AI dan ekonomi digital.

Ia menekankan pentingnya dukungan kebijakan jangka panjang, koordinasi lintas sektor, serta penerapan standar keamanan yang kuat guna mempercepat pemanfaatan teknologi tersebut.

Sementara itu, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menambahkan bahwa keberhasilan transformasi digital juga membutuhkan ekosistem industri yang sehat dan kompetitif, termasuk dukungan ketersediaan spektrum yang memadai untuk mempercepat pengembangan layanan 5G di Indonesia.

Selain perkembangan 5G, laporan ini juga menyoroti meningkatnya popularitas layanan Fixed Wireless Access (FWA). Operator telekomunikasi semakin banyak menawarkan paket broadband berbasis kecepatan sebagai strategi monetisasi jaringan 5G.

Teknologi FWA dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas akses broadband, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan fiber secara optimal. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dinilai membuka peluang pemanfaatan 5G FWA untuk mempercepat pemerataan konektivitas digital.

Laporan Ericsson juga menunjukkan perubahan perilaku pengguna jaringan. Trafik uplink kini tumbuh lebih cepat dibandingkan trafik downlink pada sebagian besar operator telekomunikasi di dunia.

Peningkatan tersebut dipicu oleh tingginya penggunaan aplikasi komunikasi dan kolaborasi, maraknya konten buatan pengguna (user-generated content), serta meningkatnya aktivitas penyimpanan data berbasis cloud.

Berdasarkan pengukuran Ericsson, sebanyak 45 dari 55 operator yang diamati mencatat pertumbuhan trafik uplink lebih tinggi dibandingkan downlink. Bahkan, 17 operator mengalami pertumbuhan uplink lebih dari 1,5 kali lipat dibandingkan trafik downlink.

Ke depan, Ericsson memperkirakan perkembangan AI akan semakin meningkatkan kebutuhan trafik uplink. Dalam skenario tertentu, volume trafik uplink pada 2031 diproyeksikan dapat meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan 2025.

Selain itu, industri telekomunikasi global juga mulai mengarahkan perhatian pada pengembangan teknologi 6G. Proses standardisasi saat ini sedang berlangsung dengan target penyelesaian spesifikasi awal pada akhir 2028 atau awal 2029.

GCG BUMN
Teknologi 6G diharapkan mampu menghadirkan integrasi yang lebih erat antara jaringan terestrial dan satelit, efisiensi energi yang lebih tinggi, serta dukungan AI yang lebih luas. Peluncuran layanan komersial awal diperkirakan mulai berlangsung sekitar tahun 2030. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories