JAKARTA (IndoTelko) Bali Culinary Pastry School (BCPS) menandai sepuluh tahun operasionalnya dengan lebih dari 1.000 lulusan yang kini berkarier di industri kuliner dalam dan luar negeri. Capaian ini menempatkan BCPS sebagai salah satu institusi vokasi kuliner dengan jejaring internasional paling aktif di Indonesia.
Berada di bawah naungan grup Nyanyi Bali dan berlokasi di kawasan Bali International Training and Development Centre (BITDeC), Tabanan, BCPS merayakan tonggak tersebut melalui wisuda 65 mahasiswa tingkat akhir. Momentum ini sekaligus menjadi pijakan ekspansi akademik dan penguatan positioning sebagai pemasok talenta kuliner global.
Memasuki dekade kedua, BCPS bersiap meluncurkan Bali Chocolatier Pâtissier Professional School. Program baru ini menyasar ceruk pastry dan cokelat artisan—segmen dengan pertumbuhan tinggi di industri hospitality premium.
Kurikulum dirancang menggabungkan teknik, pemahaman rantai pasok bahan, serta aspek keberlanjutan. Pendekatan tersebut memperluas model bisnis BCPS dari sekadar pendidikan vokasi menjadi institusi yang membangun kompetensi berbasis nilai dan diferensiasi produk.
Founder BCPS, Made Ariani Siswanto, menyebut dekade pertama sebagai fondasi untuk memperluas dampak pendidikan dan membuka akses karier global yang lebih luas bagi generasi muda.
Didirikan pada 2016 dengan enam siswa, BCPS kini memiliki mahasiswa dari 66 kota di Indonesia dan 10 kewarganegaraan. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar untuk memastikan kesiapan kerja di pasar internasional.
Institusi ini aktif menempatkan siswa magang di jaringan Relais & Châteaux serta restoran berbintang Michelin seperti La Maison Paul Bocuse, Don Alfonso, Guy Lassausaie, dan Mosu.
Sejak 2023, lebih dari 60 siswa mengikuti program magang enam bulan di Prancis, Italia, dan Hong Kong. Pada 2025, salah satu alumninya, Yovita Ariandini, memperoleh posisi kerja penuh waktu di restoran Paul Bocuse setelah menyelesaikan program magang.
Deputy School Director BCPS, Priska Cinthia Sondakh, menegaskan penguasaan teknik berjalan beriringan dengan pembentukan karakter profesional. Model ini dirancang agar lulusan tidak hanya kompeten, tetapi juga adaptif terhadap standar industri global.
BCPS juga menjalin kemitraan dengan institusi Prancis seperti CFAiE dan Lycée Hôtelier Le Touquet. Kurikulum dibimbing oleh Christophe Quantin guna menjaga standar teknik sesuai praktik Eropa.
Selain ekspansi internasional, BCPS tetap menjalankan program beasiswa penuh dan kolaborasi komunitas lokal di Bali sebagai bagian dari model pendidikan berkelanjutan.
Memasuki babak baru, BCPS memposisikan diri sebagai talent pipeline kuliner Indonesia untuk pasar premium global—menggabungkan kualitas teknik, jaringan internasional, dan diferensiasi berbasis identitas lokal sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang. (mas)