Minat baca Gen Z lampaui generasi lain di tengah penurunan hiburan digital

05:16:00 | 25 Jan 2026
Minat baca Gen Z lampaui generasi lain di tengah penurunan hiburan digital
JAKARTA (IndoTelko) - Pola konsumsi hiburan digital masyarakat Indonesia mengalami perubahan signifikan pada semester kedua 2025. Aktivitas hiburan berbasis perangkat seluler tercatat menurun, seiring bergesernya preferensi pengguna terhadap jenis konten yang dikonsumsi.

Temuan tersebut diungkapkan Jakpat melalui survei yang melibatkan 2.240 responden pada paruh kedua 2025 untuk memetakan kebiasaan masyarakat dalam mengakses hiburan digital dan media sosial.

Hasil riset menunjukkan penggunaan media sosial seperti YouTube, Instagram, dan TikTok masih mendominasi dengan tingkat penetrasi mencapai 83%. Namun, angka ini turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Aktivitas hiburan digital lainnya mencakup bermain gim (40%) dan mendengarkan musik melalui layanan streaming (34%).

Menariknya, membaca buku, komik, atau novel digital mencatatkan angka 22%, lebih tinggi dibandingkan mendengarkan siniar atau podcast yang berada di kisaran 13%. Sementara itu, layanan streaming video over-the-top (OTT) seperti Netflix, Vidio, dan Viu mengalami penurunan tajam dari 48% menjadi hanya 14% dalam kurun satu tahun.

Gen Z Jadi Penggerak Tren Membaca Digital

Di tengah pelemahan konsumsi hiburan digital secara umum, aktivitas membaca justru menunjukkan tren berlawanan. Berdasarkan segmentasi generasi, minat membaca paling tinggi tercatat pada Gen Z dengan persentase 26%, melampaui Milenial (20%) dan Gen X (18%).

Head of Research Jakpat, Aska Primardi, menilai fenomena ini sebagai pergeseran preferensi Gen Z dari konten digital yang bersifat pasif menuju aktivitas yang menawarkan nilai reflektif dan ketenangan mental. Ia menyebut membaca kini dipersepsikan sebagai aktivitas yang lebih bermakna.

Tren tersebut juga sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) terkait Indeks Tingkat Kegemaran Membaca yang meningkat dari 66,77% pada 2023 menjadi 72,44% pada 2024.

Menurut Aska, perubahan ini dipengaruhi oleh transformasi citra membaca di kalangan Gen Z. Buku tidak lagi dipandang semata sebagai kebutuhan akademik, melainkan bagian dari gaya hidup sehat dan sarana eksplorasi identitas diri.

Ia menambahkan bahwa peningkatan minat baca bukan disebabkan berkurangnya penggunaan gawai, melainkan keberhasilan algoritma media sosial dalam membingkai aktivitas membaca sebagai tren yang menarik. Peran komunitas seperti BookTok di TikTok dan Bookstagram di Instagram disebut turut mendorong literasi menjadi fenomena sosial yang interaktif dan relevan.

“Di semester kedua 2025, membaca telah bertransformasi menjadi simbol gaya hidup dan identitas baru bagi Gen Z,” tutup Aska. (mas)

Artikel Terkait