telkomsel halo

Ini tren perilaku bisnis di Instagram

11:34:40 | 28 Jan 2018
Ini tren perilaku bisnis di Instagram
JAKARTA (IndoTelko) - Di awal tahun 2018, Instagram membagikan proyeksi perusahaan terhadap perilaku bisnis selama setahun kedepan, yang dikumpulkan berdasarkan perilaku 800 juta pengguna Instagram sepanjang tahun 2017 lalu, serta kerjasama dengan berbagai brand di seluruh dunia.

Berikut prediksinya:
1. Maraknya bisnis di media sosial: Baik untuk mencari destinasi perjalanan paling populer, mencari restoran yang sedang hits, maupun mengikuti tren fashion terbaru, kini konsumen semakin ingin untuk lebih terhubung dengan sebuah bisnis.

Dengan 62% millennial yang menyatakan bahwa mereka akan cenderung menjadi pelanggan setia sebuah brand jika mereka terhubung di platform jejaring sosial dengan brand tersebut (Forbes x Elite Daily), platform sosial kini semakin dihadapkan pada sebuah tantangan untuk mematahkan hambatan yang menghalangi direct sales outcome dari interaksi dengan konsumen.

Di tahun 2018, selagi para brand mulai mengkapitalisasi interaksi ini, media sosial akan menjadi platform perdagangan utama yang akan mendorong direct sales outcome dari social channels. Selama satu tahun terakhir di Amerika Serikat, kami telah menguji fitur Shopping on Instagram, sehingga memudahkan konsumen dalam membeli sebuah produk dalam aplikasi. Dan kami tidak sabar untuk meluncurkan fitur ini di beberapa negara lainnya pada tahun 2018 mendatang.

2. Video singkat: Instagram memprediksikan bahwa di tahun 2019, perangkat mobile akan berkontribusi sebesar 72% dari seluruh aktivitas menonton video online (Zenith Media, Jul 2017). Dengan demikian, brand-brand akan memiliki kesempatan untuk menjadi lebih kreatif dan membangun pengalaman menonton video yang berkesan sehingga dapat berinteraksi dengan konsumen dari telapak tangan mereka.

Kami berharap format video sementara seperti Stories akan semakin populer. Sembari menyongsong datangnya tahun depan, kami berharap dapat melihat lebih banyak brand yang berani mengambil resiko dalam format sementara ini, karena mereka menyadari bahwa seluruh konten yang di-post akan hilang setelah 24 jam, dan oleh sebab itu memungkinkan mereka untuk semakin bebas berkreasi.

3. Mengirim pesan akan menjadi medium utama bisnis: Di samping maraknya aktivitas yang dilakukan secara mobile, kami juga melihat adanya pergeseran pilihan metode komunikasi ke arah pengiriman pesan – sebuah gaya komunikasi yang instan, langsung dan personal.

Konsumen kini semakin menginginkan komunikasi kepada sebuah bisnis dapat dilakukan dengan cara yang cepat dan informal layaknya bercakap dengan teman. 64% konsumen memilih untuk mengirim pesan dibandingkan menelpon atau mengirim email kepada sebuah bisnis (sumber). Kami memprediksi hal ini dapat terus bertumbuh di tahun 2018, bahkan semakin banyak transaksi dilakukan melalui pengiriman pesan.

4. UKM akan memacu inovasi pemasaran: Dulu, menciptakan kampanye pemasaran secara global merupakan sebuah cara untuk menjaga image brand besar, dan tentunya menghabiskan budget yang besar. Tetapi, media sosial telah menawarkan kemudahan dan efisiensi dalam pemasaran, sehingga memudahkan UKM untuk tumbuh dan berkembang dalam jangkauan global.

Di tahun 2018, kami berharap UKM-UKM seperti @amazara.id, @coldpressid, @nagarey, @ggpartystore, @simplyhampers, @lestari_id, dan @rupanecraft tidak akan terbebani oleh proses lama, dapat terus berkembang dan menciptakan cara pemasaran yang baru dalam industri ini.

5. Bangkitnya komunitas dan bisnis niche: Media sosial telah menghubungkan orang-orang di seluruh dunia berdasarkan passion dan interest yang sama. Di Instagram, terdapat jutaan komunitas niche, dimulai dari diet sehat hingga ilustrator dan pecinta mainan.

Bagi setiap brand, hal ini berarti bahwa semakin banyaknya audience yang dapat dijangkau. Bangkitnya komunitas niche telah memicu munculnya bisnis niche seperti @3skinnyminnies, @lesssaltdiet, @kongandri, dan @renataowen yang terspesifikasi di sebuah produk dan jasa yang terhubung ke target audience tertentu.

6. Mengevaluasi nilai konten: Ketika banyaknya likes dan komentar digunakan sebagai parameter kesuksesan pemasaran di media sosial, parameter sebenarnya yang penting adalah tindakan bisnis dan penjualan. Dengan tersedianya insights pembeli yang lebih detail, brand dapat memetakan informasi yang dapat ditindaklanjuti tentang siapa followers mereka dan tipe konten terbaik.

Dengan brand dapat memahami lebih dalam tentang tingkah laku dan demografi audience-nya, mereka dapat menciptakan konten yang lebih relevan dan terkini – yang pada akhirnya akan membantu peningkatan penjualan.(pg)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year