JAKARTA (IndoTelko) – Akuisisi Uber China oleh Didi Xuching pada awal Agustus semakin menunjukkan bahwa gagasan dominasi global eCommerce oleh beberapa merek tertentu merupakan suatu bentuk generalisasi yang malas dan dangkal.
Perusahaan Internet terbesar di dunia menemukan bahwa melakukan lebih dari sekedar akuisisi pelanggan hingga monetisasi aktual hubungan yang telah terjalin sulit dilakukan tanpa adanya lokalisasi distribusi, konten, penawaran dan model bisnis yang signifikan.
Banyak pemain besar yang sadar akan hal ini: Facebook sedang berusaha memahami bagaimana cara untuk memasarkan dengan lebih baik di Asia, LinkedIn melakukan ekspansi tim penjualan di negara-negara berkembang utama di dunia.
Amazon menyadari sengitnya persaingan melawan Flipkart di India, Netflix tersandung masalah perpajakan di berbagai negara, bahkan di beberapa negara langkah Netflix terhenti, serta Google dan Facebook telah menghabiskan banyak waktu dan uang demi menjajaki bisnis satelit sehingga mereka dapat memperoleh konektivitas langsung yang lebih baik dengan pasar setempat.
Pengambilalihan Uber oleh Didi mungkin suatu keniscayaan yang telah diramalkan sebelumnya yang meyakinkan kita bahwa dunia tidak akan didominasi oleh sekelumit merek dari negara-negara Barat.
Seperti kesalahan tulisan yang dibuat oleh Francis Fukuyama, seorang profesor dari Stanford University pada tahun 1990 yang menyatakan bahwa kita berada di era “akhir sejarah” karena demokrasi akan menjadi sistem politik yang dominan, siapapun yang menyatakan bahwa barangsiapa menjadi “orang pertama yang menembus internet” akan menang juga terbukti salah.
Di Indonesia kita melihat begitu banyaknya pemain eCommerce bermunculan yang memahami dan memenuhi selera dan kebutuhan lokal, bahwa hal ini sangat jelas bagi kami. Blibli, Go-Jek, MatahariMall dan lainnya menjadi pilihan masyarakat Indonesia, dan tentu baik Amazon maupun Uber tidak dapat masuk begitu saja.
Namun terdapat kekhawatiran yang ditimbulkan oleh akuisisi oleh Didi, dan kekhawatiran ini adalah soal pilihan pelanggan.
Apabila pasar transportasi di Tiongkok didominasi oleh satu pemain saja, apa yang akan terjadi dengan pilihan pelanggan di Tiongkok? Apakah pelanggan akan merasakan manfaat yang sama dengan jika berbagai pemain bersaing untuk mendapatkan pelanggan, berusaha sekuat mungkin agar pengemudi mereka tetap sopan dengan harga yang kompetitif? Semua aspek yang memerlukan ketangkasan dan uang: mengapa perlu bersusah payah jika tidak ada pesaing yang mengganggu usaha?
Jasa transportasi seperti taksi harus memiliki kompetisi yang sewajarnya (atau standar jasa dan tarif tetap yang ketat) agar dapat memberikan jasa yang berkualitas dan nilai: sebenarnya jasa transportasi taksi tidaklah bersifat monopoli.
Di Indonesia, Blue Bird, White Horse dan penyedia jasa lainnya seluruhnya memberikan kualitas jasa yang baik karena adanya persaingan sengit di antara mereka untuk mendapatkan pelanggan. Hal ini menjadi insentif bagi perusahaan taksi tidak saja untuk menjaga agar tarif tetap murah, namun juga menjaga agar armada yang mereka gunakan baru dan berkondisi baik.
“Saya belum dapat memperkirakan apa yang dipikirkan oleh Otoritas Persaingan Usaha di Tiongkok, dan Didi tentu memiliki visi besar agar dapat memberikan lebih kepada pelanggan, namun kita harus berharap bahwa peristiwa minggu ini tidak mengakibatkan jutaan masyarakat Tiongkok “diajak berkeliling”. Di Indonesia pula, seiring dengan kiprah pemain eCommerce, mari kita berharap akan sebuah pasar yang kompetitif dimana kita dapat memperoleh transaksi yang baik dan pelayanan pelanggan yang berkualitas dengan harga yang sewajarnya dan terjangkau,” kata Mohammad Chowdhury TMT Leader Asia Tenggara, Australia & Selandia Baru, dalam kajian terbarunya.(ak)