September jadi bulan krusial bagi arah bitcoin

07:57:00 | 02 Sep 2026
September jadi bulan krusial bagi arah bitcoin
JAKARTA (IndoTelko) - Pergerakan Bitcoin (BTC) memasuki fase konsolidasi setelah reli kuat sepanjang Agustus. Sempat menembus level psikologis US$80.000, aset kripto terbesar dunia tersebut kini bergerak di kisaran US$78.000 sambil menunggu katalis ekonomi global yang berpotensi menentukan arah pasar.

Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin diperdagangkan pada rentang sekitar US$77.314 hingga US$78.310 dalam 24 jam terakhir. Sebelumnya, Bitcoin sempat menyentuh level tertinggi di atas US$81.000 setelah mengalami kenaikan sekitar 26% dari posisi US$62.700 pada 12 Agustus.

Level US$80.000 menjadi perhatian utama investor karena dianggap sebagai batas penting untuk menentukan apakah tren kenaikan Bitcoin masih berlanjut atau mulai memasuki fase koreksi.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan pelemahan setelah menyentuh US$80.000 tidak secara langsung mengubah prospek positif Bitcoin, tetapi menunjukkan pasar mulai menguji kekuatan permintaan.

“Reli Bitcoin sepanjang Agustus menunjukkan minat investor masih kuat. Namun setelah gagal bertahan di atas US$80.000, pasar masuk ke fase pembuktian, terutama melihat apakah permintaan spot dan arus dana institusional masih mampu menopang volatilitas,” ujar Yudhono.

Kebijakan The Fed Jadi Perhatian

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Jackson Hole pada 28 Agustus. Warsh menegaskan inflasi Amerika Serikat masih berada di atas target 2% dan menyebut perbaikan inflasi belum menunjukkan tren yang cukup kuat.

Pernyataan tersebut mendorong sentimen pasar menjadi lebih hati-hati. Bitcoin sempat turun ke bawah US$77.000 sebelum kembali stabil di area US$78.000.

Selain kebijakan moneter AS, investor juga mencermati pergerakan dana institusional melalui produk ETF kripto. Sepanjang pekan yang berakhir 24 Agustus, ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih sekitar US$2,71 miliar, dengan Bitcoin menyumbang sekitar US$1,92 miliar.

Namun, tren positif tersebut mulai melambat. Data Farside Investors menunjukkan ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$201,9 juta pada 28 Agustus.

Menurut Yudhono, pergerakan ETF menjadi indikator penting untuk melihat apakah investor institusional masih melihat penurunan harga sebagai peluang akumulasi.

“Jika arus ETF kembali positif saat Bitcoin berada di area US$77.000 hingga US$80.000, hal itu dapat menjadi sinyal bahwa investor besar masih membangun posisi,” katanya.

Data Ekonomi AS Jadi Penentu

Memasuki September, pasar Bitcoin akan menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan Agustus akan dirilis pada 4 September, disusul data inflasi Consumer Price Index (CPI) pada 11 September.

Kedua data tersebut akan menjadi perhatian sebelum pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 1516 September 2026.

Kondisi tenaga kerja dan inflasi akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah investor kembali meningkatkan eksposur terhadap aset berisiko seperti Bitcoin atau memilih strategi yang lebih defensif.

“September kemungkinan menjadi periode yang sangat bergantung pada data ekonomi. Jika ekonomi mulai melambat tanpa tekanan inflasi meningkat, aset berisiko berpeluang kembali menguat. Namun inflasi yang tetap tinggi dapat memperpanjang tekanan terhadap Bitcoin,” jelas Yudhono.

US$80.000 Masih Jadi Level Kunci

Dalam jangka pendek, area US$80.000 hingga US$81.000 masih menjadi batas penting bagi Bitcoin. Jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, momentum kenaikan berpotensi kembali menguat.

Sebaliknya, jika Bitcoin masih bergerak di bawah level tersebut, pasar diperkirakan akan melanjutkan fase konsolidasi sambil menunggu arah kebijakan ekonomi global.

Yudhono menilai investor tidak seharusnya hanya berfokus pada satu level harga, tetapi perlu memperhatikan kombinasi faktor teknikal, arus dana institusional, dan kondisi makroekonomi.

“Pertanyaan utamanya bukan hanya apakah Bitcoin bisa kembali ke US$80.000, tetapi apakah level tersebut mampu berubah menjadi support baru. Jika didukung arus institusional dan kondisi ekonomi yang lebih kondusif, struktur pasar menuju kuartal berikutnya akan semakin menarik,” pungkasnya. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait