JAKARTA (IndoTelko) - Queensi, bisnis kecantikan dan wellness asal Malang, Jawa Timur, mengklaim mampu menangani 250% lebih banyak percakapan pelanggan setelah menggunakan Meta Business Agent di WhatsApp Business. Dalam periode satu bulan, perusahaan juga mencatat peningkatan penjualan hingga 60% tanpa menambah jumlah tenaga kerja.
Queensi merupakan bisnis yang didirikan Mega Putra Md pada 2020. Berawal dari usaha kecil yang menjual suplemen kecantikan secara online, bisnis tersebut kini mengelola enam merek suplemen kecantikan.
Menurut perusahaan, sekitar 85% penjualan Queensi berasal dari WhatsApp Business. Kanal pesan ini dimanfaatkan untuk melayani pertanyaan pelanggan, memberikan informasi produk, hingga membantu calon pembeli menentukan pilihan sebelum bertransaksi.
Seiring pertumbuhan bisnis, meningkatnya volume percakapan menjadi tantangan tersendiri. Pelanggan membutuhkan informasi dan konsultasi sebelum membeli, sementara tim layanan pelanggan harus menjaga kualitas interaksi di tengah bertambahnya permintaan.
Untuk mengatasi hal tersebut, Queensi menggunakan Meta Business Agent, agen berbasis kecerdasan buatan (AI) yang bekerja langsung di WhatsApp. Sistem ini dapat dilatih menggunakan pengetahuan dari percakapan pelanggan sebelumnya untuk menjawab pertanyaan umum dan memberikan rekomendasi produk.
Sementara itu, pertanyaan yang membutuhkan konsultasi lebih personal dapat diteruskan kepada tim layanan pelanggan. Dengan pembagian tugas tersebut, tim manusia dapat lebih berfokus pada interaksi yang membutuhkan perhatian khusus.
Founder dan CEO Sastro Group, Mega Putra Md, mengatakan pemanfaatan AI membantu perusahaan meningkatkan kapasitas pelayanan tanpa harus menambah personel.
“Dengan Meta Business Agent, kini kami dapat menangani 250% lebih banyak percakapan untuk Queensi, tanpa menambah tim atau mengurangi kualitas interaksi,” ujarnya.
Ia juga menyebut teknologi tersebut membantu meningkatkan penjualan hingga 60%, termasuk mendorong pelanggan memilih paket produk dengan nilai lebih tinggi.
Menurut Meta, Business Agent dirancang untuk membantu bisnis mengelola percakapan pelanggan dalam skala lebih besar. Selain menjawab pertanyaan terkait bisnis, agen ini dapat memberikan rekomendasi berdasarkan katalog produk, mengidentifikasi calon pelanggan, dan mendukung proses penjualan. Bisnis juga tetap dapat menentukan kapan percakapan perlu dialihkan kepada staf manusia.
Bagi Queensi, penggunaan AI bukan berarti menggantikan seluruh peran tim layanan pelanggan. Teknologi tersebut digunakan untuk menangani pertanyaan yang berulang, sementara staf tetap berperan dalam membangun hubungan dan kepercayaan dengan konsumen.
“AI membantu kami tetap tersedia 24/7, sementara tim kami dapat fokus pada hal yang paling penting, yakni membangun kepercayaan dengan pelanggan,” kata Mega.
Pengalaman Queensi memperlihatkan bagaimana pemanfaatan AI pada aplikasi pesan berpotensi membantu UMKM meningkatkan kapasitas layanan dan mendukung penjualan, tanpa harus langsung memperbesar tim operasional. (mas)