JAKARTA (IndoTelko) Fortinet memperluas kapabilitas platform keamanan endpoint FortiEndpoint dengan menambahkan fitur pengelolaan dan pengamanan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu perusahaan mengendalikan risiko kebocoran data dan ancaman siber.
Pembaruan tersebut mengintegrasikan visibilitas penggunaan AI, perlindungan data, penilaian risiko perangkat, hingga operasional keamanan berbasis AI dalam satu agen, satu konsol, dan satu lisensi.
Founder, President, dan Chief Technology Officer Fortinet Michael Xie mengatakan meningkatnya adopsi AI di lingkungan kerja membuat perusahaan membutuhkan sistem keamanan yang terintegrasi.
“Fortinet Security Fabric dirancang untuk menyatukan fungsi keamanan dan jaringan sehingga pelanggan dapat mengurangi kompleksitas, meningkatkan visibilitas, dan memperkuat perlindungan,” ujarnya.
Fortinet menilai penggunaan aplikasi AI di perusahaan memunculkan tantangan baru, seperti penggunaan layanan AI tanpa persetujuan organisasi (shadow AI), potensi paparan data sensitif, hingga meningkatnya ancaman yang menyasar perangkat pengguna.
Melalui pembaruan tersebut, perusahaan dapat memantau penggunaan aplikasi dan agen AI, sekaligus menerapkan kebijakan untuk mengizinkan, membatasi, memantau, atau memblokir akses sesuai kebutuhan keamanan.
FortiEndpoint juga dilengkapi fitur Data Loss Prevention (DLP) bawaan untuk membantu mencegah kebocoran informasi penting, termasuk data pribadi, kekayaan intelektual, dan informasi keuangan melalui aplikasi AI maupun layanan berbasis web.
Selain itu, Fortinet menambahkan fitur edukasi pengguna secara real time agar karyawan memahami kebijakan penggunaan AI tanpa mengurangi produktivitas.
Di sisi operasional, FortiEndpoint mengintegrasikan FortiAI-Assist yang memungkinkan tim keamanan melakukan investigasi menggunakan bahasa alami, menyusun ringkasan insiden, mengidentifikasi perangkat berisiko tinggi, serta memperoleh rekomendasi kebijakan keamanan.
Technology Analyst 650 Group Chris DePuy menilai perusahaan membutuhkan kontrol yang lebih baik terhadap penggunaan AI di lingkungan kerja.
“Organisasi membutuhkan visibilitas terhadap penggunaan AI, perlindungan data sensitif, serta edukasi pengguna secara langsung agar AI dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab,” katanya.
Fortinet menyebut pembaruan tersebut ditujukan untuk membantu organisasi mempercepat adopsi AI dengan tetap menerapkan pendekatan keamanan zero trust tanpa menambah kompleksitas pengelolaan infrastruktur keamanan. (mas)