telkomsel halo

Fortinet ungkap 92% organisasi Indonesia alami insiden siber

08:18:00 | 20 Jul 2026
Fortinet ungkap 92% organisasi Indonesia alami insiden siber
JAKARTA (IndoTelko) - Fortinet merilis 2026 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang menunjukkan bahwa keterbatasan tenaga ahli keamanan siber masih menjadi tantangan utama bagi organisasi di Indonesia. Kondisi tersebut semakin kompleks seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) yang menghadirkan peluang sekaligus risiko baru bagi perusahaan.

Chief Information Security Officer (CISO) Fortinet, Carl Windsor, mengatakan keamanan siber kini telah menjadi isu strategis yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan bisnis. Menurutnya, meningkatnya ancaman berbasis AI dan masih lebarnya kesenjangan talenta menuntut organisasi untuk meningkatkan investasi pada sumber daya manusia maupun teknologi.

Laporan tersebut mengungkapkan sebanyak 92% organisasi di Indonesia mengalami sedikitnya satu insiden keamanan siber dalam 12 bulan terakhir, sementara 64% di antaranya menghadapi lima insiden atau lebih. Dampaknya tidak kecil. Sebanyak 62% organisasi mengaku mengeluarkan biaya pemulihan lebih dari US$1 juta, sedangkan 64% membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk memulihkan operasional setelah serangan terjadi.

Keterbatasan tenaga ahli menjadi salah satu faktor utama. Sebanyak 76% pemimpin TI di Indonesia menilai kurangnya personel keamanan siber yang memiliki keterampilan memadai menjadi penyebab tingginya risiko serangan. Lebih dari separuh responden juga menyatakan organisasi mereka membutuhkan tenaga keamanan siber senior, sementara 75% menganggap kekurangan talenta tersebut telah meningkatkan risiko bisnis.

Dampaknya bahkan dirasakan hingga tingkat manajemen. Sebanyak 47% responden menyebut anggota dewan direksi atau jajaran eksekutif di organisasinya pernah menerima konsekuensi, mulai dari denda, kehilangan jabatan, hingga persoalan hukum setelah terjadi insiden keamanan siber.

Di sisi lain, penggunaan AI di lingkungan perusahaan juga memunculkan tantangan baru. Meski 68% responden meyakini dewan direksi telah memahami risiko AI, Fortinet menilai masih dibutuhkan peningkatan pemahaman terhadap ancaman yang muncul dari penggunaan teknologi tersebut. Sekitar 73% responden memperkirakan kebutuhan tenaga kerja yang fokus pada tata kelola dan pengawasan AI akan meningkat dalam tiga tahun mendatang.

Laporan ini juga menunjukkan semakin tingginya komitmen perusahaan dalam meningkatkan kompetensi keamanan siber. Sebanyak 93% organisasi menyatakan bersedia membiayai sertifikasi keamanan siber bagi karyawannya, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Seluruh organisasi yang disurvei juga telah menjalankan berbagai program pengembangan talenta, seperti magang, apprenticeship, maupun kemitraan untuk memperluas sumber rekrutmen.

Adopsi AI dalam keamanan siber pun terus meningkat. Sebanyak 98% responden telah menggunakan atau sedang menguji solusi keamanan berbasis AI. Bahkan 90% mengaku teknologi tersebut membantu meningkatkan efektivitas operasional tim keamanan dan TI. Namun demikian, separuh responden masih menyimpan keraguan terhadap implementasi AI di bidang keamanan siber.

Fortinet juga mencatat kebutuhan kompetensi baru terus berkembang. Sebanyak 82% organisasimengaku kesulitan menemukan tenaga keamanan siber yang memiliki pengalaman di bidang AI. Karena itu, 97% responden berencana meningkatkan investasi pada pelatihan dan sertifikasi keamanan siber berbasis AI dalam 12 bulan ke depan.

Selain itu, perusahaan mulai membangun program peningkatan keterampilan untuk mendukung implementasi AI, mulai dari pengembangan model AI, pengawasan penggunaan AI, hingga otomatisasi keamanan. Sekitar 70% organisasi telah menjalankan program pelatihan internal maupun reskilling, sementara jumlah yang sama juga memanfaatkan program pelatihan dari mitra industri.

GCG BUMN
Fortinet menilai upaya memperkuat ketahanan siber tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Organisasi juga perlu memperluas pengembangan talenta melalui edukasi, sertifikasi, serta investasi berkelanjutan pada keterampilan keamanan siber agar mampu menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks di era AI. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories