JAKARTA (IndoTelko) - Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) mendorong peningkatan literasi kesehatan sebagai fondasi penguatan self-care atau perawatan diri yang bertanggung jawab. Langkah ini dinilai penting untuk membantu masyarakat mengambil keputusan kesehatan secara tepat sekaligus memperkuat sistem layanan kesehatan di kawasan Asia-Pasifik.
Momentum tersebut disampaikan dalam peringatan International Self-Care Day. APSMI menilai edukasi publik, pengobatan mandiri yang bertanggung jawab, serta kolaborasi lintas sektor menjadi tiga pilar utama untuk membangun ekosistem self-care yang berkelanjutan.
Ketua APSMI, Rachmadi Joesoef, mengatakan self-care memungkinkan individu, keluarga, dan masyarakat menjaga kesehatan, mencegah penyakit, serta menangani gangguan kesehatan ringan secara mandiri. Namun, praktik tersebut harus didukung literasi kesehatan yang memadai agar masyarakat memahami kapan dapat melakukan pengobatan sendiri dan kapan harus berkonsultasi dengan tenaga medis.
Menurutnya, laporan riset sosial ekonomi Global Self-Care Federation (GSCF) 2026 menunjukkan penerapan self-care yang bertanggung jawab mampu menghemat anggaran kesehatan global sekitar US$144 miliar per tahun, mengurangi beban layanan dokter hingga setara 2,2 jam pelayanan, menghasilkan tambahan 43,6 miliar hari produktif, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Ia menambahkan, manfaat ekonomi dan sosial tersebut diperkirakan dapat meningkat hingga 50% pada 2040 apabila didukung kebijakan yang memperkuat literasi kesehatan, memperluas akses terhadap obat bebas berkualitas, serta regulasi yang mendukung.
Director-General Global Self-Care Federation (GSCF), Greg Perry, mengatakan integrasi self-care ke dalam sistem kesehatan memberikan tingkat pengembalian investasi yang tinggi karena mampu memberdayakan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap layanan kesehatan.
APSMI menegaskan self-care bukan berarti mengonsumsi obat secara sembarangan. Masyarakat perlu memahami cara memilih obat bebas yang tepat, membaca informasi pada label dan kemasan, mengikuti aturan penggunaan, serta mengenali gejala yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Menurut Rachmadi, peningkatan literasi kesehatan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi regulator, tenaga kesehatan, industri, akademisi, dan masyarakat agar sistem kesehatan dapat bekerja lebih efektif.
Sebagai tindak lanjut, APSMI akan menggelar APSMI Self-CARER Bali Summit 2026 pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Forum tersebut akan mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, pakar kesehatan, dan pelaku industri dari berbagai negara Asia-Pasifik untuk membahas penguatan ekosistem self-care berbasis bukti, peningkatan literasi kesehatan, serta perluasan akses terhadap produk self-care yang aman dan berkualitas.
Melalui berbagai inisiatif edukasi, dialog kebijakan, dan kemitraan lintas sektor, APSMI berharap self-care dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pencapaian Universal Health Coverage (UHC) sekaligus memperkuat ketahanan sistem kesehatan di kawasan Asia-Pasifik. (mas)