JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) memanfaatkan momentum satu abad pengembangan panas bumi di Indonesia sebagai pijakan untuk mempercepat transformasi sektor energi nasional. Melalui inovasi teknologi, kolaborasi lintas sektor, dan diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi, perusahaan menargetkan peran yang lebih besar dalam mendukung ketahanan energi sekaligus transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Komitmen tersebut disampaikan dalam ajang The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 bertema New Horizons in Geothermal: Beyond Conventional Boundaries yang digelar di Bandung. Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, investor, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas masa depan pengembangan panas bumi di Indonesia.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan perjalanan 100 tahun panas bumi Indonesia menjadi fondasi penting untuk memasuki fase pengembangan berikutnya.
“Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujarnya.
Perjalanan panas bumi Indonesia dimulai dari survei manifestasi di Kamojang yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Kini Indonesia menjadi salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di dunia dengan potensi mencapai sekitar 24 gigawatt (GW), terbesar kedua secara global.
Menurut PGE, potensi tersebut tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik, tetapi juga mendukung pengembangan industri hijau yang membutuhkan pasokan energi bersih dan stabil selama 24 jam.
Karena itu, perusahaan terus mengembangkan berbagai inovasi, termasuk pemanfaatan langsung (direct use) untuk sektor pertanian dan industri, serta pengembangan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
Akademisi Geotermal Institut Teknologi Bandung (ITB), Nenny Miryani Saptadji, menilai panas bumi memiliki prospek jangka panjang sebagai sumber energi nasional apabila dikelola secara berkelanjutan.
Ia menyebut Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang dapat menjadi contoh pengelolaan panas bumi yang berkelanjutan sekaligus mendorong generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan sektor tersebut.
Dalam ajang IIGW 2026, PGE juga menerima dua penghargaan, yakni Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusi perusahaan dalam mendukung riset, pendidikan, inovasi, dan pengembangan industri panas bumi nasional.
Di sisi operasional, PGE mempercepat transformasi digital melalui pengembangan berbagai teknologi, termasuk digitalisasi proses operasional dan teknologi pengujian sumur panas bumi untuk meningkatkan akurasi data, efisiensi operasi, serta mempercepat pengambilan keputusan.
Menurut Andi, pengembangan panas bumi pada masa mendatang membutuhkan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah, industri, akademisi, hingga mitra teknologi.
“Melalui penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan pemanfaatan panas bumi, PGE optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence,” katanya.
Selain mengoptimalkan aset yang telah dimiliki, PGE juga menyiapkan berbagai sumber pendapatan baru melalui diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.
Komitmen keberlanjutan perusahaan turut tercermin pada capaian ESG. PGE membukukan ESG Risk Rating sebesar 7,1 berdasarkan penilaian Sustainalytics, yang disebut menjadi skor tertinggi di Indonesia. Perseroan juga menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025.
Dari sisi lingkungan, operasional PGE berkontribusi menghindari emisi sekitar 4,29 juta ton COâ‚‚e dibandingkan pembangkit berbasis energi fosil. Perseroan juga mencatat intensitas emisi sebesar 0,041 ton COâ‚‚e per MWh yang menunjukkan peran panas bumi sebagai salah satu sumber energi rendah karbon.
Sebagai bagian dari strategi ekspansi, PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Target tersebut diharapkan semakin memperkuat kontribusi perusahaan dalam pengembangan industri panas bumi sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada energi Indonesia pada abad kedua pemanfaatan panas bumi. (mas)