JAKARTA (IndoTelko) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) terus memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen panas bumi terdepan dunia melalui percepatan transformasi digital. Langkah tersebut ditunjukkan dalam ajang G-Bionic Mid-Year Achievement 2026, yang menjadi momentum peluncuran lima inovasi digital guna meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung target optimalisasi kapasitas pembangkit hingga 3 gigawatt (GW).
Kelima solusi digital yang diperkenalkan meliputi G-COMPASS untuk pengelolaan kontrak dan pengadaan, PEDAS sebagai dashboard pemantauan proyek secara real-time, PIMS Historian untuk monitoring operasional, GENIUS sebagai asisten kerja berbasis kecerdasan buatan (AI), serta G-ENERGYZER yang berfungsi sebagai platform asesmen kompetensi karyawan.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan perusahaan kini memasuki fase transformasi digital yang lebih matang dengan menjadikan G-Bionic sebagai fondasi baru dalam menjalankan bisnis.
Menurutnya, seluruh inovasi tersebut didukung sistem keamanan siber yang kuat sehingga mampu menghadirkan proses kerja yang lebih cepat, efisien, dan adaptif dalam mendukung visi PGE sebagai world leading geothermal producer.
Transformasi digital tersebut juga menjadi jawaban atas berbagai tantangan industri panas bumi, mulai dari tingginya risiko eksplorasi, besarnya biaya pengembangan proyek, hingga kebutuhan menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis pembangkitan listrik.
Dikembangkan sejak 2023, G-Bionic mengintegrasikan proses bisnis panas bumi secara menyeluruh melalui tiga pilar utama, yakni People, Process, dan Technology. Seluruh aplikasi dirancang saling terhubung untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis data, meningkatkan efisiensi proyek, mempercepat proses bisnis, serta memastikan kesiapan kompetensi sumber daya manusia.
Implementasi teknologi tersebut telah memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan. Salah satunya melalui PIMS Historian yang berhasil mengoptimalkan operasi hot well pump di PLTP Ulubelu sehingga meningkatkan kapasitas produksi lebih dari 2 megawatt (MW). Optimalisasi tersebut menghasilkan nilai tambah sekitar US$312 ribu atau setara Rp5,15 miliar.
Di sisi tata kelola, G-COMPASS turut meningkatkan efisiensi proses administrasi dengan memangkas waktu peninjauan kontrak lebih dari 60 persen dan mempercepat proses persetujuan dokumen hingga lebih dari 70 persen.
Sementara itu, GENIUS dikembangkan sebagai platform AI internal yang terintegrasi dengan sistem dan data operasional perusahaan. Berbeda dengan layanan AI publik, platform ini dirancang untuk menjaga keamanan data perusahaan sekaligus mendukung kebutuhan analisis dan riset secara cepat.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menilai hasil tersebut menjadi bukti bahwa transformasi digital yang dijalankan selama tiga tahun terakhir telah memberikan manfaat nyata bagi perusahaan.
Ia menyebut berbagai inovasi digital PGE bahkan mulai menarik perhatian sejumlah pihak untuk direplikasi. Menurutnya, PGE tidak hanya berupaya menjadi perusahaan energi hijau, tetapi juga ingin tampil sebagai pemimpin inovasi digital yang mampu mendukung transisi energi serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Melalui penguatan ekosistem digital di seluruh rantai operasional, PGE optimistis dapat meningkatkan daya saing, mempercepat pertumbuhan kapasitas pembangkit, serta mempertahankan posisinya sebagai pusat keunggulan (geothermal centre of excellence) di industri panas bumi Indonesia. (mas)