telkomsel halo

Gigamon soroti visibilitas Cloud di era AI

05:03:00 | 09 Jul 2026
Gigamon soroti visibilitas Cloud di era AI
JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia semakin meluas seiring percepatan transformasi digital dan berkembangnya infrastruktur komputasi berbasis cloud. Namun, di balik peluang tersebut, perusahaan menghadapi tantangan baru dalam menjaga keamanan data dan memastikan visibilitas terhadap lingkungan cloud yang semakin kompleks.

Cloud Security Evangelist Gigamon, Steve Goudreault, mengatakan penerapan AI tidak lagi berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan berbagai platform cloud, aplikasi bisnis, data pipeline, hingga identitas mesin (machine identities). Kompleksitas tersebut membuat pengawasan keamanan menjadi semakin menantang.

“Seiring dengan meningkatnya skala penggunaan AI, perusahaan perlu memiliki visibilitas yang lebih jelas di seluruh lingkungan cloud mereka untuk mempertahankan kendali. Sekadar mengetahui lokasi penyimpanan data tidak cukup; perusahaan juga harus memastikan bahwa data tersebut aman, dapat dipantau, dan dikelola dengan baik,” ujarnya.

Menurut Gigamon, berkembangnya penggunaan AI juga mendorong organisasi mengelola kombinasi sistem lama, infrastruktur privat, public cloud, hingga layanan Software-as-a-Service (SaaS). Setiap koneksi baru memang membuka peluang bisnis, tetapi sekaligus memperluas potensi risiko keamanan.

Di Indonesia, isu tata kelola data juga semakin mendapat perhatian setelah berakhirnya masa transisi Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Kondisi tersebut membuat banyak organisasi mulai mempertimbangkan penggunaan sovereign cloud, cloud lokal, maupun hybrid cloud untuk memenuhi kebutuhan keamanan, kepatuhan, dan kedaulatan data.

Meski demikian, Steve menilai lokasi penyimpanan data bukan satu-satunya faktor yang menentukan tingkat keamanan. Organisasi tetap memerlukan visibilitas menyeluruh agar mampu mengetahui siapa yang mengakses data, bagaimana sistem saling berkomunikasi, serta apakah kontrol keamanan berjalan sebagaimana mestinya.

“Bagi para pemimpin bisnis, keputusan terkait cloud kini bukan lagi sekadar persoalan arsitektur teknis. Pilihan cloud berdampak langsung pada kepercayaan regulator, kepercayaan pelanggan, serta kelangsungan operasional perusahaan,” katanya.

Gigamon juga menyoroti meningkatnya ancaman siber di Indonesia. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 609 juta serangan siber terjadi sepanjang 2024, sementara serangan malware meningkat 12,67 persen. Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi perusahaan yang mengelola data pelanggan, sistem pembayaran, maupun rantai pasok digital.

Secara global, Gigamon 2026 Hybrid Cloud Security Survey menunjukkan jumlah insiden kebocoran data di kawasan Asia Pasifik meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 90 persen pemimpin TI dan keamanan juga mulai berinvestasi pada solusi baru untuk meningkatkan visibilitas terhadap lingkungan hybrid cloud.

Menurut Gigamon, salah satu tantangan terbesar berasal dari pergerakan lateral (lateral movement), yakni ketika ancaman berpindah melalui lalu lintas internal antarsistem sehingga lebih sulit dideteksi oleh perangkat keamanan konvensional. Pada lingkungan berbasis AI, aktivitas berbahaya bahkan dapat tersamarkan di balik trafik yang terlihat normal.

Meski banyak organisasi menambah berbagai perangkat keamanan, langkah tersebut belum tentu meningkatkan pengendalian risiko. Riset Gigamon menunjukkan rata-rata tim keamanan mengelola sekitar 15 solusi keamanan di lingkungan hybrid cloud. Namun, sebanyak 55 persen responden mengaku perangkat yang dimiliki belum mampu memberikan visibilitas yang memadai untuk mendeteksi maupun merespons insiden kebocoran data secara efektif.

Selain itu, kualitas data juga menjadi tantangan tersendiri. Sebanyak 46 persen pemimpin TI dan keamanan mengaku masih kekurangan data yang bersih dan berkualitas untuk mendukung implementasi AI secara aman. Padahal, AI kini semakin banyak digunakan dalam proses keamanan, kepatuhan, dan tata kelola sehingga kualitas data menjadi faktor penting dalam menghasilkan keputusan yang akurat.

Gigamon menilai AI dapat membantu organisasi menganalisis telemetri jaringan dalam skala besar untuk mendeteksi anomali, mengidentifikasi potensi pelanggaran kepatuhan, serta memprioritaskan risiko secara lebih cepat. Namun, kemampuan tersebut hanya dapat berjalan optimal apabila didukung data yang lengkap dan berkualitas.

Steve menegaskan bahwa ke depan keberhasilan perusahaan dalam memperluas pemanfaatan AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga kemampuan membuktikan bahwa sistem keamanan tetap berjalan efektif di seluruh lingkungan digital.

GCG BUMN
“Ke depan, keberhasilan organisasi dalam memperluas skala penerapan AI akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membuktikan bahwa kontrol keamanan tetap berjalan efektif seiring berkembangnya sistem. Organisasi yang mampu menjaga data, sistem, dan kepercayaan akan menjadi pihak yang paling siap memimpin pertumbuhan AI berikutnya,” tutupnya. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories