telkomsel halo

FedEx bantu UMKM dan Korporasi adaptasi regulasi baru Eropa

06:38:00 | 20 Jun 2026
FedEx bantu UMKM dan Korporasi adaptasi regulasi baru Eropa
JAKARTA (IndoTelko) Federal Express Corporation (FedEx) meningkatkan dukungannya kepada pelaku usaha di kawasan Asia Pasifik menjelang pemberlakuan penghapusan fasilitas de minimis oleh Uni Eropa pada 1 Juli 2026. Kebijakan baru tersebut akan menghadirkan persyaratan kepabeanan yang lebih ketat sekaligus berpotensi meningkatkan biaya perdagangan lintas batas menuju kawasan Eropa.

Sebagai bagian dari langkah persiapan, FedEx telah menggelar serangkaian webinar edukasi yang menjangkau lebih dari 5.000 pelaku usaha di 12 pasar Asia Pasifik. Program ini ditujukan untuk membantu perusahaan memahami perubahan regulasi, meminimalkan risiko gangguan operasional, serta mengantisipasi potensi biaya tambahan yang muncul akibat aturan baru tersebut.

Hasil survei pasca-webinar menunjukkan mayoritas perusahaan telah mengetahui perubahan kebijakan Uni Eropa. Namun, tingkat kesiapan implementasi masih menjadi tantangan. Sebanyak 59% responden mengaku siap menghadapi aturan baru, sementara 41% lainnya masih berada pada tahap awal persiapan atau belum siap sama sekali.

Tiga kendala utama yang dihadapi pelaku usaha meliputi keterbatasan akses terhadap panduan yang jelas dan aplikatif (27%), kurangnya keahlian internal terkait regulasi kepabeanan Uni Eropa (24%), serta kesulitan mengikuti perkembangan aturan dan jadwal implementasi yang terus berubah (22%).

Perusahaan yang belum menyesuaikan proses bisnisnya dengan persyaratan baru, termasuk terkait Product Identifier (PID), dokumentasi kepabeanan, dan biaya penanganan yang berlaku di Uni Eropa, berisiko mengalami keterlambatan proses clearance setelah kebijakan diterapkan.

Perubahan regulasi tersebut juga mendorong banyak perusahaan untuk meninjau kembali strategi perdagangan mereka. Sebanyak 45% responden menilai aturan kepabeanan Uni Eropa menjadi salah satu hambatan pertumbuhan bisnis, terutama akibat meningkatnya total biaya impor dan bertambahnya beban administrasi.

Selain itu, 36% perusahaan menyatakan telah atau berencana melakukan penyesuaian harga produk di pasar Eropa. Sementara sekitar separuh responden mengaku tengah mengevaluasi kembali strategi koridor perdagangan dan prioritas pasar ekspor mereka.

Di antara perusahaan yang mulai mendiversifikasi pasar tujuan ekspor, kawasan intra-Asia menjadi pilihan utama dengan porsi 28%, disusul Amerika Serikat sebesar 23%. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan jaringan logistik global yang mampu menghubungkan berbagai pasar utama secara efisien.

President Asia Pacific FedEx, Salil Chari, mengatakan perubahan regulasi perdagangan global menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif dalam mengelola operasional lintas negara.

Menurutnya, kombinasi keahlian perdagangan internasional, solusi digital, dan jaringan logistik global menjadi faktor penting dalam membantu pelanggan menjaga kelancaran bisnis sekaligus memperluas peluang pertumbuhan di pasar internasional.

Untuk mendukung transisi menuju aturan baru Uni Eropa, FedEx telah melakukan sejumlah penyesuaian pada sistem digital pengiriman, penagihan, dan proses kepabeanan agar sesuai dengan persyaratan terbaru.

Perusahaan juga memperluas layanan konsultasi dengan spesialis kepabeanan dan kepatuhan guna membantu pelanggan dalam klasifikasi barang, penyusunan dokumen, hingga proses clearance. Selain itu, FedEx menyediakan pusat informasi khusus mengenai aturan de minimis Uni Eropa yang diperbarui secara berkala dengan panduan dan materi edukasi.

Di sisi jaringan, FedEx terus memperkuat konektivitas perdagangan Asia-Eropa. Dalam setahun terakhir, perusahaan menambah lima penerbangan mingguan pada rute Asia-Eropa dan kini mengoperasikan total 26 penerbangan per minggu dari Asia Pasifik menuju Eropa. Jaringan tersebut memungkinkan layanan pengiriman ekspres dengan waktu tempuh mulai dari 48 jam.

GCG BUMN
FedEx menilai dukungan terhadap kepatuhan regulasi, pengelolaan biaya, serta akses logistik yang andal akan menjadi faktor penting bagi pelaku usaha untuk mempertahankan daya saing di tengah perubahan lanskap perdagangan global yang semakin dinamis. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories