JAKARTA (IndoTelko) — Teuku Feroz Taufan berupaya membuka akses pendidikan tinggi bagi pelajar Aceh melalui lembaga pendidikan Ekadanta Learning Center yang ia dirikan bersama sejumlah alumni Institut Teknologi Bandung.
Feroz menilai masih banyak pelajar di Aceh yang memiliki potensi akademik, tetapi kesulitan bersaing masuk perguruan tinggi negeri favorit akibat keterbatasan akses informasi, strategi belajar, hingga pendampingan menghadapi seleksi masuk kampus.
Ia mengingat kembali kondisi saat dirinya diterima di ITB pada 2015. Ketika itu, hanya 19 siswa dari seluruh Aceh yang lolos melalui jalur tes tulis ke kampus tersebut.
Jumlah itu bahkan terus menurun hingga tersisa empat orang pada 2019.
Menurut Feroz, kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat Aceh menerima dana Otonomi Khusus dengan salah satu fokus utama pada sektor pendidikan.
Berangkat dari kondisi itu, Feroz bersama sejumlah alumni ITB mendirikan Ekadanta Learning Center pada akhir 2019 untuk membantu siswa SMA dan SMK di Aceh menembus kampus-kampus negeri unggulan nasional.
Program pertama dijalankan secara gratis untuk 40 siswa terbaik di Banda Aceh yang diseleksi melalui tes.
Hasilnya, jumlah siswa asal Aceh yang diterima di ITB disebut meningkat hingga 300 persen pada tahun pertama program berjalan.
Saat ini, Ekadanta telah memasuki tahun ketujuh dengan model pembiayaan mandiri melalui sistem subsidi silang dan kerja sama dengan sekolah untuk memperkuat kapasitas guru serta memperluas dampak pendidikan.
Selain aktif di bidang pendidikan, Feroz juga berkarier sebagai konsultan profesional.
Setelah lulus dari Teknik Mesin ITB pada 2019, ia bergabung dengan EQUITEK dan menangani berbagai proyek transformasi di sejumlah BUMN seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, hingga Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Pada 2023, Feroz melanjutkan karier di Altha Consulting dan fokus menangani transformasi bisnis serta teknologi di sektor logistik BUMN.
Ia kemudian meraih promosi menjadi Senior Manager pada 2025.
Feroz juga mengaku banyak memperoleh bekal pengembangan diri dari Tanoto Foundation melalui program beasiswa yang pernah ia ikuti saat kuliah.
Menurut dia, program tersebut tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga membekali penerima beasiswa dengan pelatihan kepemimpinan, komunikasi, hingga manajemen program sosial.
Kemampuan tersebut kemudian menjadi modal penting saat dirinya membangun Ekadanta dan berkolaborasi dengan sekolah, pemerintah daerah, hingga alumni.
Ke depan, Feroz berharap semakin banyak anak muda Aceh yang berani memiliki cita-cita besar untuk masuk ke perguruan tinggi terbaik di Indonesia dan kembali membangun daerahnya.
Ia menilai keberhasilan satu siswa dari daerah dapat membuka jalan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri generasi berikutnya untuk bersaing di tingkat nasional. (mas)