telkomsel halo

PGE hemat energi 90 ribu MWh

07:09:00 | 18 May 2026
PGE hemat energi 90 ribu MWh
JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus memperkuat implementasi operasi berkelanjutan melalui berbagai program efisiensi energi dan pengurangan emisi di seluruh wilayah operasional panas bumi perusahaan.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGE berhasil mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang tahun lalu. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan capaian 2024 yang tercatat sebesar 40.058,77 MWh.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho mengatakan peningkatan efisiensi energi dilakukan melalui optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP).

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu agar sumur bertekanan rendah dapat masuk ke sistem produksi, optimalisasi vacuum pump pada Gas Extraction System untuk menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai guna mengurangi pembuangan uap ke rock muffler.

Selain efisiensi operasional, PGE juga memperluas pemanfaatan energi terbarukan untuk kebutuhan internal perusahaan, termasuk penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di area operasional dan perkantoran.

Perseroan mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun sekitar 10,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan tersebut menunjukkan penggunaan energi yang semakin efisien dalam mendukung produksi listrik panas bumi.

Di sisi lain, penggunaan energi terbarukan dalam operasional perusahaan tetap berada pada level tinggi, yakni mencapai 94,36 persen.

Dari aspek pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 g CO2e/kWh. Angka ini masih jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia yang ditetapkan sebesar 100 g CO2e/kWh.

Melalui kapasitas operasi panas bumi yang dimiliki, PGE juga berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang 2025.

Selain fokus pada energi dan emisi, perusahaan turut memperkuat pengelolaan limbah non-B3 melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Sepanjang 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola mencapai 17 ton atau meningkat 24,5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Pengelolaan limbah dilakukan melalui konsep waste circularity dengan melibatkan bank sampah dan masyarakat sekitar untuk proses pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, hingga pengomposan.

Sementara itu, konsumsi air perusahaan juga berhasil ditekan hingga 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter dibandingkan 393,23 megaliter pada 2024.

PGE juga terus mengembangkan pemanfaatan energi panas bumi di luar sektor kelistrikan atau beyond electricity. Salah satunya melalui pengembangan ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi lewat proyek Tanjung Sekong Green Terminal untuk mendukung kebutuhan energi terminal LPG di Cilegon.

Selain itu, perusahaan membuka peluang pengembangan green data center berbasis energi bersih rendah emisi untuk mendukung kebutuhan industri digital di masa depan.

Dari sisi ESG, PGE memperoleh skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 dengan kategori risiko dapat diabaikan pada 2025. Capaian tersebut menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk jajaran Top 50 ESG Global dari 42 negara.

Perseroan juga meraih 20 penghargaan PROPER Emas hingga 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.

GCG BUMN
Menurut Andi Joko Nugroho, pengembangan energi panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih, tetapi juga memastikan operasional berjalan efisien, bertanggung jawab, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories