JAKARTA (IndoTelko) PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (IDX: PGEO) mencatatkan pertumbuhan produksi listrik sebesar 15,22% secara tahunan (YoY) menjadi 1.370 GWh pada kuartal I-2026. Kenaikan ini menjadi pendorong utama kinerja keuangan perseroan di awal tahun.
Dalam paparan kinerja kepada investor, perusahaan membukukan pendapatan sebesar US$116,56 juta, naik 14,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara laba bersih melonjak 40% menjadi US$43,89 juta.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, menyebut peningkatan produksi ditopang optimalisasi aset serta efisiensi operasional di berbagai wilayah kerja. Kontribusi utama berasal dari Kamojang, Lahendong, Ulubelu, Lumut Balai, dan Karaha, termasuk tambahan kapasitas dari PLTP Lumut Balai Unit 2 berkapasitas 55 MW yang mulai beroperasi sejak pertengahan 2025.
Selain itu, kinerja operasional juga tercermin dari peningkatan capacity factor menjadi 90,77% dan availability factor menjadi 99,63%, menegaskan keandalan energi panas bumi sebagai salah satu pilar energi nasional.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan perseroan menargetkan produksi listrik dan uap terkonsolidasi mencapai 5.255 GWh sepanjang 2026. Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, perusahaan terus mengakselerasi proyek strategis, termasuk pengembangan PLTP Hululais Unit 1 & 2 serta proyek co-generation dengan total kapasitas sekitar 230 MW.
Ke depan, PGE membidik kapasitas terpasang mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034, dengan potensi pengembangan hingga 3 GW. Sejumlah proyek tambahan seperti Ulubelu Binary Unit, Kamojang LP, Lahendong LP, hingga Lumut Balai Unit 3 juga tengah disiapkan untuk memperkuat portofolio.
Dari sisi keberlanjutan, hingga Maret 2026, PGE berhasil menghindari emisi sebesar 1,16 juta ton CO2e dibandingkan pembangkit berbasis batu bara. Saat ini, perusahaan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW, baik yang dioperasikan langsung maupun melalui skema kerja sama. (mas)