Jobstreet bagikan strategi menyatukan Gen Z dan senior di era AI

07:09:00 | 29 Apr 2026
Jobstreet bagikan strategi menyatukan Gen Z dan senior di era AI
JAKARTA (IndoTelko) - Jobstreet by SEEK menyoroti pentingnya kolaborasi lintas generasi di tengah masifnya adopsi Artificial Intelligence di dunia kerja.

Di tengah perubahan strategi rekrutmen yang mulai mengarah ke profesional senior karena dinilai lebih berpengalaman, pencari kerja muda dari kalangan Gen Z kerap merasa tersisih. Padahal, masa depan dunia kerja dinilai akan dimenangkan perusahaan yang mampu menggabungkan energi generasi muda dengan pengalaman profesional senior.

Hal tersebut dibahas dalam episode perdana podcast Power Talks produksi Jobstreet by SEEK, yang menghadirkan Chief People Officer tiket.com, Dudi Arisandi.

Menurut Dudi, perusahaan perlu mengubah pendekatan rekrutmen dengan lebih menitikberatkan pada kemampuan kandidat dibanding usia maupun latar belakang pendidikan.

Ia menilai persoalan utama di pasar tenaga kerja bukan minimnya jumlah pencari kerja, melainkan ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan industri. Karena itu, perusahaan didorong mulai menerapkan rekrutmen berbasis skill dan asesmen yang relevan.

Selain itu, Dudi meminta perusahaan berhenti memberi stigma negatif pada Gen Z. Alih-alih dianggap “sulit diatur” atau “belum siap kerja”, generasi muda dinilai sebagai talenta potensial yang membutuhkan arahan dan pendampingan.

Menurutnya, tantangan terbesar Gen Z sering kali terletak pada kompetensi nonteknis seperti komunikasi, kolaborasi, kecerdasan emosional, hingga pengambilan keputusan.

Karena itu, mentoring, umpan balik yang jujur, serta penugasan terukur dinilai penting untuk mempercepat perkembangan mereka.

Di sisi lain, Dudi juga menilai program reverse mentoring perlu menjadi standar baru di perusahaan. Profesional senior membawa intuisi dan pengalaman, sementara Gen Z unggul dalam literasi digital serta pemanfaatan platform kreatif dan teknologi baru.

Dalam era AI, Dudi menilai perusahaan juga tak bisa lagi hanya fokus pada hard skill. Banyak pekerjaan administratif dan repetitif kini mulai diambil alih teknologi.

Kemampuan yang justru semakin bernilai adalah authentic judgement, seperti pengambilan keputusan, pemahaman konteks, analisis, dan pengelolaan pemangku kepentingan.

Untuk membangun strategi SDM jangka panjang, Dudi memperkenalkan kerangka “5B”, yakni Build, Buy, Borrow, Bridging, dan Bot.

Pendekatan ini menekankan pentingnya pengembangan talenta internal, rekrutmen eksternal untuk skill kritis, pemanfaatan pekerja lepas, rotasi lintas fungsi, hingga otomasi pekerjaan menggunakan teknologi.

Menurut Dudi, perusahaan yang tangguh adalah organisasi multi-generasi yang mampu mengoptimalkan berbagai jalur pengembangan SDM secara strategis.

Sementara itu, Head of Country Marketing Indonesia Jobstreet by SEEK, Sawitri, mengatakan Power Talks dihadirkan sebagai ruang diskusi seputar transformasi HR, percepatan karier, dan masa depan dunia kerja di Indonesia.

Podcast ini menyasar profesional HR, pemimpin bisnis, hingga pencari kerja yang ingin memahami dinamika ketenagakerjaan terbaru. Episode baru akan hadir setiap bulan. (mas)

Artikel Terkait