JAKARTA (IndoTelko) - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menegaskan komitmennya dalam mendukung penerapan Nilai Ekonomi Karbon (NEK) sebagai instrumen strategis untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mempercepat pencapaian target Nationally Determined Contribution(NDC) Indonesia menuju Net Zero Emission pada 2060.
Sebagai perusahaan panas bumi terkemuka di Indonesia, PGE mengembangkan bisnis karbon berbasis energi panas bumi guna memperkuat kontribusi sektor energi dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus membuka peluang nilai tambah melalui partisipasi di pasar karbon domestik maupun internasional.
Portofolio Karbon Panas Bumi
PGE saat ini mengelola portofolio proyek karbon panas bumi dengan estimasi potensi pengurangan emisi sekitar 1,5 juta ton COâ‚‚e per tahun. Proyek-proyek tersebut dikembangkan melalui berbagai standar nasional dan internasional, termasuk Clean Development Mechanism (CDM), Gold Standard, serta pendaftaran di Sistem Registri Nasional (SRN).
Portofolio tersebut mencakup sejumlah wilayah operasi PGE, seperti Kamojang, Karaha, Ulubelu, Lahendong, dan Lumut Balai. Dengan proyek yang telah terverifikasi, perusahaan memastikan kredit karbon yang dihasilkan memenuhi prinsip transparansi, akuntabilitas, dan integritas lingkungan.
Transisi ke Mekanisme Pasar Karbon Global
Seiring implementasi mekanisme pasar karbon berdasarkan Paris Agreement khususnya Pasal 6.4, PGE juga mempercepat transisi portofolio karbonnya ke skema tersebut.
Perusahaan bekerja sama dengan South Pole sebagai konsultan iklim dan berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyelesaikan proses transisi. Salah satu langkah penting adalah pengajuan Persetujuan Negara Tuan Rumah kepada United Nations Framework Convention on Climate Change pada Maret 2026.
Persetujuan ini menjadi prasyarat utama bagi komersialisasi kredit karbon panas bumi Indonesia di pasar global.
Peluang Perdagangan Karbon
Sebagai bagian dari kerja sama tersebut, PGE dan South Pole juga menandatangani kesepakatan optimalisasi pemasaran dan penjualan kredit karbon dari proyek Ulubelu dan Karaha.
Melalui skema ini, PGE berpeluang mengomersialisasikan setidaknya 110.000 ton COâ‚‚e kredit karbon pada 2026, sekaligus memperkuat kesiapan perusahaan dalam memanfaatkan perdagangan karbon lintas negara.
Dukung Ekonomi Hijau Indonesia
PGE menilai penguatan ekosistem ekonomi karbon menjadi elemen penting dalam mencapai target iklim nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di pasar karbon global berbasis energi bersih.
Melalui optimalisasi energi panas bumi dan pengembangan instrumen karbon yang transparan serta terverifikasi, PGE menegaskan posisinya sebagai mitra strategis pemerintah dalam mempercepat transisi energi, pembangunan berkelanjutan, dan penguatan ketahanan energi nasional. (mas)