telkomsel halo

Interkoneksi jadi fondasi masa depan digital

05:58:00 | 09 Mar 2026
Interkoneksi jadi fondasi masa depan digital
JAKARTA (IndoTelko) - Pencapaian 500.000 interkoneksi privat secara global dinilai menjadi sinyal penting bagi arah perkembangan infrastruktur digital, termasuk bagi Indonesia yang tengah mempercepat transformasi berbasis teknologi. Managing Director Indonesia Equinix, Haris Izmee, menilai konektivitas kini tidak lagi sekadar komponen teknis di belakang layar, tetapi telah berkembang menjadi elemen strategis yang menentukan keberhasilan transformasi digital.

Menurut Haris, meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI), strategi hybrid dan multicloud, serta operasional bisnis yang semakin terdistribusi membuat kebutuhan konektivitas menjadi semakin krusial. “Di tengah percepatan adopsi AI dan strategi hybrid maupun multicloud, konektivitas kini telah berkembang menjadi fondasi utama bagi transformasi digital perusahaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa interkoneksi merupakan mekanisme pertukaran data secara privat antara jaringan, perusahaan, cloud, dan berbagai mitra digital. Berbeda dengan internet publik, interkoneksi privat menawarkan latensi yang lebih stabil, tingkat keamanan yang lebih tinggi, serta keandalan yang lebih baik. Hal ini menjadi semakin penting bagi perusahaan di Indonesia yang tengah melakukan modernisasi layanan digital.

Ia menilai kebutuhan tersebut terlihat di berbagai sektor. Industri perbankan, misalnya, membutuhkan infrastruktur yang andal untuk mendukung layanan pembayaran real-time dan aplikasi digital. Di sektor ritel, konektivitas menjadi kunci dalam mengintegrasikan rantai pasok dengan marketplace online. Sementara di industri media, konektivitas berperan dalam memperluas distribusi konten digital, sedangkan sektor manufaktur mulai memanfaatkan teknologi pabrik terhubung. Di sisi lain, instansi pemerintah juga terus mempercepat digitalisasi layanan publik.

“Dalam berbagai sektor tersebut, performa jaringan dan ketahanan infrastruktur secara langsung memengaruhi pengalaman pengguna sekaligus menjaga kelangsungan operasional bisnis,” jelasnya.

Karena itu, banyak organisasi kini mulai beralih dari penggunaan internet publik menuju koneksi privat langsung dengan penyedia cloud, operator jaringan, maupun mitra digital. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan ekosistem digital karena memungkinkan infrastruktur berada lebih dekat dengan pengguna, sumber data, dan ekosistem bisnis.

Haris juga menyoroti peran AI yang semakin meningkatkan standar kebutuhan jaringan. Beban kerja berbasis AI memerlukan konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah untuk menghubungkan sistem komputasi, penyimpanan data, serta berbagai sumber data secara efisien.

“Beberapa aplikasi AI bahkan membutuhkan respons dalam hitungan mikrodetik dan kemampuan skalabilitas yang fleksibel di lingkungan hybrid. Ini membuat kesiapan infrastruktur konektivitas menjadi faktor yang sangat penting,” katanya.

Di Indonesia, sejumlah sektor seperti layanan keuangan, telekomunikasi, ritel, hingga sektor publik mulai mengadopsi teknologi AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari deteksi fraud, analisis prediktif, hingga personalisasi layanan. Seiring meningkatnya pemanfaatan teknologi tersebut, kebutuhan terhadap infrastruktur digital yang tangguh juga semakin besar.

Ditambahkannya, perkembangan ekosistem digital Indonesia turut mendorong pentingnya interkoneksi. Pertumbuhan e-commerce, pembayaran digital, super apps, hingga eksperimen pemanfaatan AI membuat arus data semakin besar dan kompleks.

Menurutnya, Jakarta kini semakin berperan sebagai salah satu hub infrastruktur digital di kawasan Asia Tenggara. Posisi ini semakin strategis seiring meningkatnya pertukaran data lintas negara, baik dari perusahaan Indonesia yang berekspansi ke pasar regional maupun perusahaan global yang berinvestasi di dalam negeri.

“Setiap interkoneksi baru yang tercipta di dalam ekosistem digital memberikan lebih banyak pilihan dan fleksibilitas bagi pelaku bisnis untuk terhubung dengan mitra, cloud, maupun jaringan lainnya secara lebih cepat dan efisien,” ujarnya.

Ke depan, ia memprediksi bahwa konektivitas akan berkembang menjadi semakin adaptif dan cerdas. Perusahaan tidak hanya membutuhkan kapasitas bandwidth yang lebih besar, tetapi juga proses penyediaan koneksi yang lebih cepat serta visibilitas yang lebih baik terhadap performa jaringan.

Ia juga melihat teknologi berbasis AI akan semakin banyak digunakan untuk mengoptimalkan pengelolaan lalu lintas data, meningkatkan efisiensi jaringan, serta mengurangi kebutuhan konfigurasi manual dalam pengelolaan infrastruktur.

“Dalam beberapa tahun ke depan, konektivitas kemungkinan akan menjadi lebih otonom dan terintegrasi secara langsung dalam arsitektur infrastruktur digital perusahaan,” katanya.

Menurutnya, bagi Indonesia yang tengah mengalami percepatan adopsi teknologi di berbagai sektor, kemampuan menggabungkan skala infrastruktur, netralitas ekosistem, serta konektivitas cerdas akan menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan inovasi digital.

GCG BUMN
“Pencapaian 500.000 interkoneksi privat secara global bukan sekadar angka. Ini mencerminkan perubahan struktural dalam cara perusahaan membangun arsitektur digitalnya. Bagi Indonesia, pesan utamanya jelas: strategi konektivitas kini bukan lagi pilihan, tetapi fondasi utama bagi masa depan digital,” jelasnya. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories