Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
telkomsel halo

Fjord Trends 2022: Perlu adaptasi bisnis karena dampak disruptif pandemi

08:30:12 | 17 Mar 2022
Fjord Trends 2022: Perlu adaptasi bisnis karena dampak disruptif pandemi
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) -- Laporan tahunan Fjord Trends 2022 dari Accenture menyatakan bahwa pelaku usaha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, perlu untuk melakukan adaptasi dalam praktik bisnis karena dampak disruptif pandemi selama dua tahun terakhir. Secara khusus, Fjord Trends melaporkan bahwa telah terjadi perubahan kolektif dalam hubungan masyarakat dengan cara mereka bekerja, mengonsumsi, teknologi, dan lingkungan. Sehingga, pelaku usaha perlu memikirkan ulang apa nilai dan relevansi mereka, tidak hanya terhadap konsumen tetapi juga bagi pegawai, dan masyarakat.

Laporan Fjord Trends juga menyebutkan bahwa selain nilai dan relevansi, pelaku usaha juga perlu memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap desain, inovasi, dan pertumbuhan bisnis. Hal ini adalah dampak dari faktor internal, seperti perubahan ekspektasi dan pola pikir para pekerja, atau faktor eksternal seperti terganggunya rantai pasok. Di luar itu perkembangan teknologi seperti munculnya Metaverse yang memungkinkan interaksi virtual yang lebih luas juga mungkin dapat mempengaruhi para pelaku usaha dalam kegiatannya.

“Sebagai pelaku usaha, kita perlu menyadari bahwa kita perlu merespons perubahan kolektif tersebut dan tidak meremehkannya,” kata Mark Curtis, Head of Global Innovation and Thought Leadership Accenture Interactive. “Para pelaku usaha juga perlu menganggap ini sebagai sebuah peluang untuk membangun hal-hal yang positif. Terutama untuk mendorong kehidupan yang baik bagi manusia, masyarakat, dan bumi.”

Lima poin perilaku dan tren manusia yang dinilai akan memengaruhi masyarakat, budaya, dan bisnis menurut Laporan Fjord Trends 2022 adalah;

  1. Apa adanya (Come as you are): Semakin tingginya persepsi diri (sense of agency) membuat individu mempertanyakan dan mempengaruhi cara mereka bekerja, berhubungan sosial, dan pola konsumsi. Sebagai contoh, para pekerja akan mulai menilai apa yang penting bagi mereka, sehingga para pelaku bisnis perlu memikirkan ulang cara mereka mengelola perusahaan baik kepada konsumen maupun kepada karyawan.
  2. Kesadaran konsumsi (The end of abundance thinking?): Kelangkaan bahan pokok atau meningkatnya pengeluaran selama pandemi yang dibarengi dengan berkurangnya pemasukan akan menggeser pola pikir masyarakat terhadap konsumsi. Selama ini masyarakat, terutama di perkotaan, telah terbiasa dengan adanya ketersediaan, kenyamanan, dan kecepatan dalam memperoleh produk atau layanan. Kelangkaan ini dapat mengubah pola pikir tersebut dan meningkatkan kesadaran untuk menjadi lebih berkelanjutan. Bagi pelaku usaha ini berarti sebuah tantangan untuk menyambut pola pikir yang baru tersebut, sekaligus untuk mengatasi kecemasan akan kelangkaan produk atau layanan.
  3. Ruang yang baru (The next frontier): Metaverse dipercaya akan menjadi ruang baru, di mana platform ini akan menggabungkan berbagai informasi, antarmuka, dan ruang berinteraksi. Keberadaan Metaverse akan membuka peluang bagi pelaku usaha dalam melakukan kegiatan mereka baik dalam bekerja atau hubungan dengan konsumen. Metaverse nantinya juga akan berevolusi dan menawarkan pengalaman di dunia nyata dan tempat untuk berinteraksi dengan dunia digital.
  4. Menumbuhkan kepercayaan (This much is true): Semakin banyak konsumen yang menginginkan jawaban atau kebutuhan mereka dapat diperoleh melalui satu sentuhan tombol atau percakapan singkat. Jumlah ini tentunya akan semakin bertambah, baik dari sisi jumlah konsumen, maupun kanal untuk menjawab. Maka dari itu, pelaku usaha perlu menjawab kebutuhan tersebut guna membangun kepercayaan dengan konsumen dan memastikan selalu kompetitif.
  5. Kepedulian dalam usaha (Handle with care): Konsumen kini makin sadar dan peduli dengan diri mereka sendiri atau orang lain. Tak hanya itu pandemi juga mendorong tumbuhnya berbagai macam kanal untuk mendapatkan perawatan baik secara fisik maupun digital. Hal ini berarti pelaku usaha perlu mempertimbangkan faktor kepedulian diri ini baik dalam produk mereka maupun dalam kegiatan operasionalnya. Lebih penting lagi, pelaku usaha mungkin perlu untuk menunjukkan kepedulian tersebut kepada konsumen mereka.
“Seiring dengan berubahnya hubungan manusia dengan berbagai hal, para pelaku usaha juga perlu menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan mereka melakukan praktik baik demi bumi. Pelaku usaha juga perlu berkembang dengan cara yang lebih berkelanjutan bagi bumi, bisnis, dan masyarakat,” ujar David Droga, CEO and Creative Chairman of Accenture Interactive. “Kuncinya terletak pada pemahaman yang mendalam tentang dampak dari perubahan hubungan yang telah kami rangkunm dan aspirasi yang terjadi di masyarakat. Pemahaman ini diperlukan sebagai dasar pembuatan strategi bisnis yang mampu untuk menjaga relevansi usaha dan mendorong pertumbuhan.”

Bakti
Setiap tahunnya, Accenture menerbitkan trilogi laporan tren yang menawarkan pandangan komprehensif mengenai masa depan manusia, teknologi dan bisnis. Fjord Trends adalah laporan yang fokus ke perilaku konsumen dan dampaknya terhadap masyarakat, budaya dan bisnis untuk tahun mendatang. Laporan ini dihimpun dari seluruh jaringan global Accenture Interactive yang terdiri atas lebih dari 2.000 desainer dan inovator di lebih dari 40 negara. (tep)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year