Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
telkomsel halo

Di Amerika, 5G dianggap ancam keselamatan penerbangan

16:04:10 | 19 Jan 2022
Di Amerika, 5G dianggap ancam keselamatan penerbangan
foto: euronews
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) -- 5G memang bisa membuat jaringan internet menjadi secepat kilat, baik unduh maupun unggah. Namun ada harga yang harus dibayar untuk kecepatan ini. Di Amerika, industri penerbangan merasakan keselamatan para penumpang dan pesawat terancam karena jaringan 5G.

Federasi Penerbangan di Amerika (FAA) mengkhawatirkan jika C-band yang digunakan oleh jaringan 5G mampu mengganggu radio altimeter, yang digunakan pesawat untuk keselamatan penerbangan yang bergantung pada gelombang udara terdekat. 

Intinya, antena 5G yang berada di dekat bandara dikhawatirkan dapat mengganggu sensor penerbangan, khususnya saat pesawat akan melakukan pendaratan dengan mode otomatis.

Tidak heran jika kemudian dua operator telekomunikasi di Amerika, Verizon dan AT&T menunda peluncuran 5G yang menggunaan C-band berjarak dua mil dari bandara. Presiden Joe Biden pun akhirnya menunda implementasi atau pembangunan menara BTS 5G yang akan mereka dirikan dalam waktu dekat.

"Langkah ini akan menghindari gangguan yang berpotensi mengganggu perjalanan penumpang, operasional kargo, dan pemulihan ekonomi. Perjanjian ini melindungi keselamatan penerbangan dan memungkinkan operasi penerbangan berlanjut tanpa gangguan signifikan dan akan menghadirkan lebih banyak opsi internet berkecepatan tinggi bagi jutaan orang Amerika,"  ujar Presiden Joe Biden, seperti dilansir dari Vox.com.

Ngebut Internetnya Banyak Bonusnya
Untuk meminimalkan gangguan, FAA mengaku telah menganalisis cara kerja masing-masing model altimeter saat C-band dihidupkan. Organisasi tersebut mengatakan, mereka telah menyetujui beroperasinya dua altimeter yang digunakan di banyak pesawat Airbus dan Boeing, atau sekitar 45 persen maskapai komersial AS. Altimeter tersebut diklaim bebas gangguan bersamaan dengan saat frekuensi 5G dihidupkan.

Frekuensi yang terganggu akibat adanya bentrokan altimeter dan 5G berada di jangkaua 3,7GHz dan 3,98GHz. Penyedia nirkabel menggunakan rentang frekuensi untuk mengirim data antara ponsel dan stasiun transmisi, seperti menara telepon, yang menghubungkan perangkat tersebut ke internet.

Bakti
Lalu bagaimana dengan nasib 5G di Indonesia? (SYR)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year
Financial Analysis
XL kurangi kepemilikan di PDGDC