Paket Phoenix
Paket Phoenix
telkomsel halo

Kolom Opini

Mengelola data yang tidak terstruktur

12:27:32 | 14 Jun 2020
Mengelola data yang tidak terstruktur
Angkasa Pura 2
telkomtelstra januari - maret
Data yang tidak terstruktur telah menjadi permasalahan umum bagi para pelaku bisnis serta admin TI. Selain permasalahan ini, muncul momok lain yang menghantui para personel TI di mana mereka membutuhkan ukuran penyimpanan yang sangat besar untuk tugas pencadangan data. 

Hal ini terjadi karena pada saat melakukan pencadangan data, hal yang sering dilakukan adalah dengan langsung menyalin dan menyimpan semua data dalam jumlah besar, yang kemudian menyebabkan banyaknya data yang terduplikasi, sehingga kebutuhan akan penyimpanan data terus meningkat secara drastis. Menurut Gartner, pada tahun 2024, “penyimpanan data tidak terstruktur milik perusahaan akan meningkat tiga kali lipat dibandingkan pada tahun 2019”, dan “40% pimpinan I&O akan menerapkan minimal satu infrastruktur penyimpanan berbasis hybrid cloud”.

Dan tentu saja, jumlah data yang dihasilkan oleh pelaku bisnis tidak bisa dianggap murah. 2017 Data Quality Market Survey milik Gartner mengungkapkan bahwa duplikasi dan kualitas data yang buruk dapat membebani perusahaan hingga US$15 juta. Sedangkan pada level makro, kualitas data yang buruk diperkirakan telah merugikan Amerika Serikat lebih dari US$3 triliun per tahun. Dengan kata lain, faktor penting yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan bisnis adalah dengan memiliki platform manajemen data yang dapat menyediakan kemampuan deduplikasi data secara cepat dan hemat biaya.

Salah satu metode deduplikasi yang paling umum digunakan adalah deduplikasi global. Namun, efektivitas rasio deduplikasi data serta efisiensi biayanya terkadang sulit untuk ditentukan tanpa adanya standar yang jelas. Oleh karena itu, diperlukan beberapa asumsi sehingga kita dapat menjadi lebih akurat saat membandingkan deduplikasi global dengan metode yang lain.

Seringkali beberapa vendor yang mengklaim bahwa mereka menawarkan fitur deduplikasi data, pada kenyataannya deduplikasi tersebut tidak mendeduplikasi data secara per job ataupun berbeda perangkat. Ini berarti apabila terdapat 100GB total pencadangan data, deduplikasi hanya akan dilakukan pada setiap tugas pencadangan. Jadi, jika pencadangan dilakukan 10 kali, pada akhirnya total ruang penyimpanan akan terpakai hingga 1TB!

Di sisi lain, dengan metode deduplikasi global, tugas pencadangan dilakukan di semua lingkungan fisik maupun virtual. Dengan menggunakan angka yang sama seperti di atas, apabila satu file pencadangan dengan total 100GB kemudian dilakukan backup secara inkremental, maka total ruang penyimpanan yang diperlukan, diluar backup yang pertama, hanya akan berisi file yang telah diubah saja. “Ketika melakukan deduplikasi global, rasio deduplikasi global yang dihitung oleh solusi seperti Active Backup for Business milik Synology, adalah dengan menggunakan ukuran disk yang terpakai dari sumbernya, sehingga memberikan tingkat deduplikasi yang lebih akurat”, ujar Hewitt Lee, Director of Product Management di Synology.

Paket Phoenix
Perdebatan tentang metode deduplikasi manakah yang lebih efektif untuk bisnis, per job ataupun global ini telah lama terjadi. Untuk mendapatkan pilihan yang akurat, kita harus melihat bagaimana kedua metode deduplikasi tersebut diukur, apakah dengan kemampuan reduksi data dan rasio deduplikasi maksimum yang bisa dicapai? Ataukah dengan melihat dampak menyeluruh pada infrastruktur penyimpanan, biaya serta sumber lain seperti jaringan bandwidth, replikasi data, dan cara pemulihan bencana?

Tantangan terakhir yang tidak kalah pentingnya untuk para admin TI yaitu tentang total biaya kepemilikan untuk menggabungkan server dengan layanan pencadangan beserta dengan lisensi tambahan dan biaya berlangganan. Vendor seperti Synology yang menawarkan software bawaan yaitu Active Backup for Businesses, di mana software ini tidak memerlukan biaya lisensi dapat memudahkan staf TI dalam memilih solusi yang efektif untuk perusahaan. Dengan menerapkan solusi yang telah terintegrasi dari sisi hardware dan software, hal ini dapat meringankan beban perusahaan serta personel TI.(*)

Ditulis oleh Hewitt Lee, Director of Product Management, Synology Inc

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom Digital Solution
Kuota Ketengan
More Stories
Data Center Service Provider of the year
Kuota Ketengan