telkomsel halo

Indonesia Tak Butuh MVNO

13:47:18 | 01 Jul 2013
Indonesia Tak Butuh MVNO
Alex J Sinaga (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Indonesia dianggap tidak membutuhkan pemain berbasis Mobile Virtual Network Operator (MVNO) karena jumlah operator sudah terlalu banyak dan bermain di semua segmen.

MVNO adalah sebuah layanan bergerak yang menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis.

MVNO dalam hal ini dapat hanya berperan sebagai reseller dari MNO atau bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang dibutuhkan sesuai dengan teknologi dan izin spektrum frekuensi yang dimiliki oleh MNO. 

“Kami rekomendasikan MVNO tak layak ada di Indonesia dalam waktu dekat ini. Kita harus realistis melihat kondisi pasar sekarang dimana ada sekitar 10 operator dan semuanya memegang lisensi penyelenggara jaringan dan jasa, bermain di semua segmen,” ungkap  Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Alex J Sinaga kala menjadi pembicara di IndoTelko Forum, belum lama ini.

Menurutnya, jumlah operator yang ada di Indonesia tak sebanding dengan populasi, hal itu jika  dibandingkan dengan China, India, atau  Amerika Serikat. Belum lagi dari sisi persaingan dimana Indonesia adalah pemilik tarif termurah di kawasan Asia.

“MVNO itu dari sisi regulasi memang memungkinkan, tetapi jika ada yang tertarik kalau tidak mendalami model bisnis ini secara bisa terperosok dalam kerugian investasi. Pasalnya, Indonesia tingkat penetrasi sudah 120% dan EBITDA margin itu tersebar dari yang plus 56% ke minus 50%. Kalau sudha begini, mau main di mana MVNO,” katanya.

Dijelaskannya, kondisi yang membutuhkan pemain MVNO  biasanya jika Network Operator (NO) tak mau masuk ke segmen tertentu atau kehilangan kreatifitas membangun pasar.

“Kondisinya sekarang berbeda. Pemain NO kreatif semua. Hal yang harus menjadi pelajaran adalah masuknya layanan seluler yang mematikan bisnis calling card dulu, jangan terulang lagi,” katanya.

Pasar kecil
Presiden Director & CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi mengungkapkan, hal yang harus disadari oleh semua pemain adalah kondisi pasar yang stagnan  walau sudah membuka pasar baru.

“Walau jaringan diekspansi ke area baru, tetapi sudah ada penguasanya, ekspansi itu hanya jadi biaya. Kami di XL untuk beberapa wilayah ada yang menjadi penguasa pasar, datang pemain baru yang hanya memperebutkan sisa kue 20%. Sisanya masih dikuasai oleh XL,” katanya.

Director & Chief Wholesale Infrastructure Indosat, Fadzri Sentosa menyarankan jika akan ada MVNO tatanan harus dibereskan antara pemain jaringan dan jasa.  

“Di tata pemain jaringannya  dan pemain jasa saja diperbanyak. Saat ini dalam pemasaran operator sudah konservatif kok, tak ada lagi jor-joran tarif flat di data,” katanya.(ak)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year