telkomsel halo

Layanan Logistik Pengaruhi Perkembangan e-commerce di Indonesia

7:01:16 | 25 Jun 2013
Layanan Logistik Pengaruhi Perkembangan e-commerce di Indonesia
Ilustrasi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA (Indotelko) – Kondisi industri logistik  yang tak mumpuni menjadi salah satu penghambat berkembangnya e-commerce di Indonesia.

Dikutip dari e27 belum lama ini, hasil riset online yang dilakukan  Vela Asia menunjukkan sebanyak satu dari empat pengguna internet di Indonesia berfikir dua kali sebelum berbelanja secara online karena buruknya kondisi pengiriman barang di negeri ini.

Para pembelanja online di daerah masih belum puas dengan kondisi pengiriman barang karena harus menunggu selama seminggu untuk kedatangan pemesanannya. Padahal, pemilik situs berjanji dalam dua atau enam hari barang akan datang.

Sebanyak 25% pengguna internet yang disurvei mengakui masalah pengiriman barang ini menjadi konsen utama. Hal ini juga menjadi perhatian rupanya dari investor yang tengah mengembagkan e-commerce di Indonesia.

Peringkat   Indonesia sendiri dalam  World Bank Logistics Performance Index berada di posisi 59. Angka ini di bawah sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Index logistik dilihat dari infrastruktur,  services, prosedur pabean, waktu dan realibiltas. Logistik Indonesia sangat rendah di kepabeanan dan infrastruktur.

Kabar yang menggembirakan adalah walau kondisi logistik tidak mendukung tetapi e-commerce terus tumbuh di negeri ini layaknya di China didukung oleh terus datangnya kelompok menengah baru.
 
Hampir 40% pengguna internet yang berbelanja online datang dari perkotaan dan area rural. Potensi pasar dari e-commerce di Indonesia justru datang dari masyarakat daerah yang merasa tak mendapatkan produk setara dengan masayarakat perkotaan. Hal ini ditunjukkan dimana 50% pengguna mengaku tak puas dengan produk yang ada di daerahnya.   

Namun, untuk menggarap masayarakat daerah ini selain menghadapi kendala logistic, hal lain yang harus diperhatikan adalah  masalah pembayaran.
Dari survei yang dilakukan 30% melakukan pembayaran dnegan metode Cash-On-Delivery (COD) dan hanya sedikit yang memilih melalui kurir yang dipilih.
 
Sebelumnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) pada tahun ini memprediksi pengguna Internet menjadi 82 juta. Sementara itu  Frost & Sullivan dalam laporan menyebutkan pendapatan transaksi e-Commerce di Indonesia mencapai US$ 120 juta pada 2010 dan akan menjadi US$ 650 juta pada 2015.

Riset Veritrans dan Daily Social pada Agustus 2012 memperkirakan pangsa pasar e-commerce berdasarkan laporan publik dan pelanggan adalah US$ 0,6 miliar hingga US$ 1,2 miliar. Pengeluaran e-commerce rata-rata per tahun adalah US$ 256 dan baru 6,5% dari pengguna internet yang bertransaksi online.(ak)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Telkom DES
More Stories
Data Center Service Provider of the year