Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

CT Corpora akan Goyang Pasar TV Berbayar?

10:51:26 | 08 Jun 2013
CT Corpora akan Goyang Pasar TV Berbayar?
Ilustrasi
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Pasar TV berbayar Indonesia menjadi gempar pada pertengahan pekan ini.

Hal yang ramai diperbincangkan adalah keberanian dari Taipan Indonesia, Chairul Tanjung (CT), melalui CT Corpora, membeli 80% saham TelkomVision yang dikuasai PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Kabar beredar mengatakan nilai transaksi  setara US$ 100 setara Rp 980,3 miliar. Secara enterprise value, TelkomVision dibanderol  sekitar US$ 200 juta atau Rp 1,9 triliun termasuk hutang oleh Telkom.

CT Corpora kabarnya membayarkan sebesar  US$ 100 juta ke Telkom setelah dikurangi hutang, sebagian lagi dimasukkan ke TelkomVision sebagai penguatan modal.
Grup usaha ini dikabarkan menyingkirkan Elang Media Teknologi (EMTEK) dalam proses tender yang digelar Telkom beberapa waktu lalu.

“Telkom akan lebih fokus di bidang infrastruktur, broadband, dan digital media. Sinergi dua korporasi besar ini diharapkan meningkatkan scale, skill, dan scope tidak hanya di bidang Pay TV. Masuknya CT Corp diharapkan dalam 3 tahun akan meningkat value perusahaan jauh lebih besar,” kata Direktur of Information Technology , Solution & Strategic Portfolio Telkom Indra Utoyo kepada IndoTelko.

Ditambahkannya, walau melepas mayoritas saham di TelkomVision, tetapi melalui unit Multimedia, Telkom tengah menggarap segmen menengah bawah dari pasar TV berbayar. “Kita sedang sedang menyiapkan more for less TV  untuk seluruh lapisan masyarakat tapi bukan segmen premium PayTV. Pasar premium tetap TelkomVision,” jelasnya.

Dampak Pasar
Hal yang menarik disimak adalah dampak akuisisi ini terhadap pasar TV berbayar di Indonesia. Sekadar diketahui, TelkomVision adalah pemain kedua terbesar setelah MNC Sky atau Indovision.

Saat ini, jumlah pelanggan Indovision mencapai 1,8 juta. Indovision menargetkan setiap bulan pelanggannya bertambah 50.000. Pelanggan potensial TelkomVision mencapai 600.000. Jika dihitung dengan pelanggan yang keluar masuk, besarnya dapat mencapai 1 juta pelanggan.

Sayangnya, walau berada di bawah Telkom Group, kinerja TelkomVision tidak begitu membanggakan. Margin laba sebelum biaya bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dari TelkomVision selama periode 2010-2012 berada di posisi   20% atau lebih rendah ketimbang industri yang sebesar 35%.

Pasar bisnis televisi berlangganan di Indonesia memang masih cukup besar. Dari sekitar 45 juta pemilik televisi, kurang dari 5% yang menggunakan jasa TV berbayar. Bandingkan dengan Malaysia yang pelanggannya mencapai hampir 40% serta Singapura yang sebesar 45% dari total pengguna televisi.Sepertinya potensi pasar yang besar menjadikan pengusaha sekaliber CT ingin mencicipi gurihnya bisnis ini.

Beda Bisnis
Pandangan menarik dilontarkan oleh Direktur Utama Aora TV Guntur S Siboro. Pria yang sebelumnya berpeluh di bisnis seluler ini, sejak mundur dari Indosat beberapa tahun lalu mencoba bermain di TV berbayar.

“Seluler dan TV berbayar hampir mirip, tetapi lebih berat TV berbayar. Di bisnis ini harus berpeluh untuk mendapatkan pelanggan,” katanya.

Menurutnya, walau CT Corpora masuk ke TelkomVision dan membawa kekuatan pada konten, tak akan mengubah lanskap bisnis dari TV berbayar Indonesia.

“CT Corpora itu kuat di bisnis Televisi Free To Air (FTA). Bisnis FTA beda sekali, hanya perlu rekrut orang-orang  program dan account executive untuk  jualan iklan. Pay TV seperti telco harus turun ke pasar di setiap kota keringat-keringat mencari pelanggan,” jelasnya.

Masih menurut Guntur, walaupun CT Corpora nantinya memasukkan konten dari stasiun FTA miliknya  ke TelkomVision, belum tentu menjual bagi pasar karena hasil daur ulang dan aslinya gratisan di FTA.

Diungkapkannya,  untuk  memenuhi satu channel Pay TV   perlu minimal 500 jam program baru setiap tahun.“Bayangkan itu berapa channel dimiliki TelkomVision. Kalau CT Corpora mengandalkan konten lokal, 90% konten Pay TV dari luar. Bayar konten luar itu mahal, belum lagi pengadaan dan instalasi decoder. Ini Pekerjaan Rumah bagi semua pemain Pay TV,” katanya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year