JAKARTA (IndoTelko) - Keterbatasan akses internet yang selama ini menjadi tantangan masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) perlahan mulai berubah. Melalui pembangunan infrastruktur digital, Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperluas konektivitas hingga daerah yang sebelumnya sulit mendapatkan layanan telekomunikasi.
Direktur Utama BAKTI Komdigi Fadhilah Mathar mengatakan penguatan konektivitas dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknologi, mulai dari jaringan fiber optik, BTS, hingga satelit.
Salah satu infrastruktur strategis yang mendukung percepatan pemerataan akses internet adalah Satelit Republik Indonesia (Satria-1). Dengan kapasitas 150 Gbps, satelit tersebut digunakan untuk menghubungkan fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, kantor pemerintahan, serta pos keamanan di wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat.
“Keberadaan Satria-1 memungkinkan solusi terestrial dan non-terestrial digunakan secara bersamaan, terutama untuk wilayah yang secara geografis masih sulit dijangkau,” ujar Fadhilah dalam agenda BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta.
Selain satelit, BAKTI juga mengandalkan Palapa Ring sebagai jaringan utama serat optik nasional untuk wilayah non-komersial. Infrastruktur sepanjang 12.148 kilometer tersebut menghubungkan berbagai wilayah Indonesia melalui 131 titik Network Operation Center (NOC).
Program lain seperti BAKTI AKSI dan BAKTI SINYAL turut memperluas akses digital melalui penyediaan internet publik serta pembangunan ribuan BTS 4G di wilayah 3T dan perbatasan.
Dari Sulit Sinyal Jadi Terhubung
Salah satu wilayah yang merasakan perubahan tersebut adalah Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kondisi geografis berupa kepulauan dan pegunungan sebelumnya membuat masyarakat kesulitan memperoleh akses komunikasi.
Kepala Dinas Kominfo Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen mengungkapkan, sebelum adanya infrastruktur BAKTI, warga hingga aparatur pemerintah harus menempuh jarak jauh untuk mencari lokasi yang memiliki sinyal.
“Kadang naik pohon karena di bawah tidak ada sinyal, jadi harus naik pohon,” katanya.
Kini kondisi tersebut mulai berubah. BAKTI telah membangun sejumlah BTS dan menyediakan ratusan akses internet untuk mendukung fasilitas pemerintahan, sekolah, desa, hingga layanan kesehatan di Flores Timur.
Perubahan ini juga dirasakan sektor pendidikan. Kepala SMAN 1 Titehena Konradus Kudarto mengatakan internet kini menjadi bagian penting dalam kegiatan sekolah, termasuk administrasi dan pelaksanaan asesmen berbasis digital.
Meski demikian, meningkatnya penggunaan internet menghadirkan kebutuhan baru, yakni peningkatan kapasitas jaringan agar mampu melayani aktivitas digital dalam jumlah besar secara bersamaan.
Dorong Ekonomi Digital Desa
Selain pendidikan dan layanan publik, konektivitas digital mulai membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, akses internet membantu petani memperoleh informasi harga komoditas secara lebih cepat. Kondisi ini membuat masyarakat memiliki informasi pembanding sebelum menjual hasil pertanian.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kominfo Parigi Moutong Khairuddin menyebut masyarakat kini dapat mengakses informasi dari tingkat kecamatan hingga provinsi berkat hadirnya layanan internet.
Kepala Desa Baina Barat Yuslan mengatakan internet juga membantu pelaku usaha kecil memasarkan produk melalui media sosial dan menjangkau konsumen di luar wilayah mereka.
Dengan semakin luasnya konektivitas, internet tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi mulai berperan sebagai penggerak pendidikan, pelayanan publik, dan ekonomi digital di daerah terpencil. (mas)