JAKARTA (IndoTelko) - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di sektor layanan keuangan terus meningkat pesat. Namun, banyak organisasi masih menghadapi tantangan dalam memperluas implementasi AI akibat keterbatasan tata kelola, kesiapan infrastruktur, dan proses operasional yang belum memadai.
Hal tersebut terungkap dalam laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) 2026 yang dirilis oleh Nutanix, perusahaan penyedia solusi hybrid multicloud. Studi tersebut menunjukkan bahwa meskipun adopsi AI berkembang cepat, banyak institusi keuangan belum siap mengelola teknologi tersebut secara aman dan berkelanjutan dalam skala besar.
Salah satu temuan utama menunjukkan maraknya fenomena shadow AI, yakni penggunaan aplikasi atau layanan AI yang tidak mendapat persetujuan resmi perusahaan. Sebanyak 66 persen eksekutif TI mengaku menemukan praktik tersebut di organisasinya, sementara 86 persen menilai kondisi itu berpotensi menimbulkan risiko bisnis yang serius.
Laporan tersebut juga mengungkap bahwa tantangan terbesar dalam meningkatkan skala implementasi AI bukan lagi persoalan teknologi semata. Sebanyak 38 persen responden menyebut kompleksitas proses bisnis sebagai hambatan utama, disusul faktor organisasi seperti kepemimpinan dan keterampilan sumber daya manusia sebesar 34 persen. Sementara kendala teknis hanya disebut oleh 28 persen responden.
Di sisi lain, isu kedaulatan data (data sovereignty) juga menjadi perhatian. Meski 79 persen organisasi menganggap perlindungan dan lokasi penyimpanan data sebagai prioritas penting, sebanyak 62 persen masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di lingkungan public cloud. Kondisi tersebut menciptakan tantangan baru yang disebut Nutanix sebagai “sovereignty debt” atau utang kedaulatan data.
Kontainerisasi juga semakin menjadi fondasi penting bagi pengembangan AI. Sebanyak 90 persen responden menyatakan AI mendorong percepatan adopsi teknologi kontainer, sementara 89 persen memperkirakan tren tersebut akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, kesiapan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebanyak 68 persen organisasi mengakui infrastruktur mereka belum sepenuhnya siap untuk menjalankan beban kerja AI secara on-premises. Akibatnya, 64 persen responden memilih mengandalkan penyedia layanan pihak ketiga untuk menutup kesenjangan tersebut.
Vice President & General Manager APJ Nutanix, Jay Tuseth, mengatakan keberhasilan implementasi AI kini tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan model yang digunakan, melainkan kemampuan organisasi dalam menerapkannya secara aman, terukur, dan sesuai regulasi.
“Persaingan saat ini bukan lagi soal siapa yang memiliki model AI paling canggih, tetapi siapa yang mampu meningkatkan skala penerapan AI secara aman dan bertanggung jawab. Organisasi perlu menyelaraskan infrastruktur, tata kelola, dan kebutuhan regulasi agar manfaat AI dapat dimaksimalkan,” ujarnya.
Menurut Jay, platform berbasis kontainer yang fleksibel dan mampu mengelola berbagai beban kerja di lingkungan hybrid menjadi salah satu kunci untuk mendukung transformasi AI di industri keuangan, terutama di tengah meningkatnya tuntutan kepatuhan dan kedaulatan data di berbagai negara.
Laporan Financial Sector Enterprise Cloud Index 2026 disusun berdasarkan survei global yang dilakukan Wakefield Research pada November 2025 terhadap 1.600 eksekutif bidang cloud, TI, dan engineering dari organisasi dengan lebih dari 500 karyawan di berbagai negara, termasuk Singapura, Jepang, India, Australia, Inggris, Jerman, hingga Amerika Serikat. (mas)