telkomsel halo

Perbankan APAC waspadai ledakan Fraud berbasis AI

05:49:00 | 14 Jun 2026
Perbankan APAC waspadai ledakan Fraud berbasis AI
JAKARTA (IndoTelko) - Pemimpin industri perbankan di kawasan Asia Pasifik (APAC) menilai agen kecerdasan buatan (AI agents) sebagai kerentanan terbesar yang berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber dalam 12 bulan mendatang. Temuan tersebut terungkap dalam survei global yang dilakukan atas penugasan BioCatch terhadap 1.440 profesional di bidang fraud, anti-money laundering (AML), risiko, dan kepatuhan di 25 negara.

Sebanyak 84% responden menyebut agen AI sebagai ancaman utama yang akan dieksploitasi pelaku fraud. Selain itu, 88% meyakini AI telah meningkatkan kecanggihan modus penipuan, sementara 60% memperkirakan perbankan yang dimediasi AI akan mengurangi efektivitas sistem pencegahan fraud konvensional.

CEO BioCatch, Gadi Mazor, mengatakan AI mulai mengubah cara nasabah berinteraksi dengan layanan keuangan sekaligus mengubah metode yang digunakan pelaku kejahatan keuangan.

“Seiring interaksi digital yang semakin cepat, otomatis, dan digerakkan agen AI, industri perlu beralih dari verifikasi identitas statis menuju pemahaman perilaku, niat, dan tingkat kepercayaan secara real-time,” ujarnya.

Survei juga menunjukkan tren peningkatan fraud yang terus terjadi di APAC. Sebanyak 81% responden mengaku upaya fraud di institusi mereka meningkat, sementara 78% melaporkan kerugian akibat fraud bertambah dan 80% menyatakan sangat khawatir terhadap percepatan aktivitas kejahatan tersebut.

Dari sisi dampak finansial, hampir separuh responden APAC (49%) menyebut organisasinya mengalami kerugian lebih dari US$10 juta per tahun akibat fraud. Bahkan, 22% melaporkan kerugian melampaui US$25 juta dan 2% mencatat kerugian di atas US$100 juta per tahun.

Kerugian juga dirasakan nasabah. Sebanyak 46% responden menyebut pelanggan mengalami kerugian lebih dari US$10 juta per tahun akibat authorized fraud dan berbagai modus penipuan lainnya.

Meski ancaman meningkat, industri perbankan APAC melihat kolaborasi sebagai solusi penting. Sebanyak 92% responden menilai pertukaran intelijen real-time terkait rekening penerima antarbank dapat meningkatkan kemampuan pencegahan penipuan. Bahkan 93% meyakini berbagi intelijen lintas bank akan membantu menekan fraud dan kejahatan keuangan.

Survei juga mengungkap 79% institusi perbankan APAC telah menghadapi serangan yang memanfaatkan agentic AI. Di sisi lain, 98% bank kini mengukur dampak fraud terhadap tingkat kehilangan nasabah (customer attrition), dan lebih dari separuh menjadikannya faktor utama dalam keputusan investasi.

Untuk Indonesia, tingkat risiko fraud dinilai relatif lebih rendah dibanding rata-rata kawasan. Sebanyak 58% responden melaporkan peningkatan upaya fraud, sementara 61% mencatat kenaikan kerugian dan 63% menyatakan sangat khawatir terhadap percepatan aktivitas fraud.

Namun demikian, sektor perbankan Indonesia dinilai cukup agresif dalam memperkuat pertahanan. Lebih dari 90% responden menyatakan institusinya telah menggunakan atau berencana mengimplementasikan sistem pencegahan fraud berbasis AI. Selain itu, 41% bank mengaku mampu mendeteksi rekening penampung dana hasil kejahatan (money mule account) sebelum menerima transaksi pertama, lebih dari dua kali rata-rata global.

GCG BUMN
Sebanyak 67% institusi perbankan di Indonesia juga telah mengukur dan melaporkan tingkat kehilangan nasabah yang berkaitan dengan pengalaman fraud dan penipuan sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories