telkomsel halo

Sequis Life ingatkan bahaya pinjol dan gaya hidup konsumtif

05:57:00 | 08 Jun 2026
Sequis Life ingatkan bahaya pinjol dan gaya hidup konsumtif
JAKARTA (IndoTelko) - PT Asuransi Jiwa Sequis Life menggelar edukasi keuangan bertajuk “Seimbang Gaya Hidup Tanpa Terjebak” guna meningkatkan kesadaran karyawan terhadap pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat di tengah tren gaya hidup konsumtif dan semakin mudahnya akses pinjaman digital.

Program tersebut menjadi bagian dari inisiatif keberlanjutan Better Tomorrow with Sequis sekaligus dukungan perusahaan terhadap Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) 2026. Melalui kegiatan ini, Sequis Life mendorong karyawan untuk lebih bijak dalam mengambil keputusan finansial dan memahami risiko yang dapat muncul dari penggunaan pinjaman online secara berlebihan.

Chief Human Resources & Corporate Services Sequis Life, Agustina Samara, mengatakan literasi keuangan merupakan salah satu langkah preventif yang dapat membantu individu membangun kondisi finansial yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Menurutnya, kesehatan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan seseorang dalam mengelola prioritas, membuat keputusan yang tepat, serta mempersiapkan masa depan dengan lebih baik.

Ia menambahkan bahwa tekanan finansial sering kali berdampak langsung terhadap produktivitas, fokus kerja, hingga kualitas pengambilan keputusan. Karena itu, pemahaman mengenai pengelolaan keuangan menjadi kebutuhan penting di seluruh jenjang karyawan.

Sequis menilai fenomena gaya hidup konsumtif, dorongan Fear of Missing Out (FOMO), dan kemudahan memperoleh pinjaman instan membuat edukasi finansial semakin relevan. Dengan literasi yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat menghindari keputusan keuangan yang impulsif dan berisiko.

Dalam kegiatan tersebut, Sequis menghadirkan perencana keuangan Maryadi Santana yang memberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun financial wellness melalui pengelolaan anggaran, penyediaan dana darurat, pengendalian pengeluaran, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan.

Maryadi juga mengulas berbagai risiko yang kerap menyertai penggunaan pinjaman online, mulai dari bunga dan denda yang tinggi, potensi terjebak dalam siklus utang, hingga ancaman terhadap keamanan data pribadi. Selain itu, tekanan finansial akibat utang berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kehidupan profesional seseorang.

Dalam sesi edukasi, peserta memperoleh berbagai strategi sederhana untuk mengelola utang dan pengeluaran, termasuk penerapan metode snowball serta evaluasi rutin terhadap pola belanja pribadi.

Menurut Maryadi, pinjaman online memang menawarkan kemudahan akses dana dalam waktu singkat. Namun tanpa perencanaan yang matang, fasilitas tersebut dapat menimbulkan beban keuangan jangka panjang yang sulit dikendalikan.

Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan menyusun anggaran, menetapkan prioritas kebutuhan, dan mengurangi perilaku konsumtif sebagai langkah awal menjaga kesehatan finansial.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan pinjaman daring pada 2025 mencapai sekitar Rp96 triliun dengan pertumbuhan tahunan berkisar 20-30 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya pemanfaatan layanan pinjaman digital, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya literasi keuangan di tengah pesatnya perkembangan layanan finansial berbasis teknologi.

Melalui program edukasi ini, Sequis Life berharap dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan produktif. Perusahaan meyakini bahwa karyawan yang memiliki kondisi finansial yang baik akan lebih fokus dalam bekerja, mampu mengambil keputusan secara lebih tenang, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

GCG BUMN
Komitmen tersebut sejalan dengan upaya Sequis Life dalam mendorong kesejahteraan karyawan melalui berbagai program pengembangan dan pembelajaran yang berkelanjutan demi mewujudkan masa depan yang lebih baik. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories