telkomsel halo

CrowdStrike ungkap hacker Korea Utara curi kripto US$2 miliar

07:49:00 | 01 Jun 2026
CrowdStrike ungkap hacker Korea Utara curi kripto US$2 miliar
JAKARTA (IndoTelko) - CrowdStrike merilis Laporan Lanskap Ancaman Jasa Keuangan 2026 yang mengungkap meningkatnya ancaman siber terhadap sektor keuangan global. Laporan tersebut mencatat kelompok pelaku ancaman yang terafiliasi dengan Korea Utara (DPRK) berhasil mencuri aset digital senilai miliaran dolar sepanjang 2025 sekaligus memanfaatkan teknologi AI untuk memperluas operasi kejahatan siber mereka.

Laporan itu menunjukkan serangan langsung terhadap lembaga jasa keuangan meningkat 43 persen secara global dan 48 persen di Amerika Utara dalam dua tahun terakhir. Para pelaku memanfaatkan identitas digital tepercaya dan aplikasi berbasis SaaS untuk menghindari sistem pertahanan tradisional.

Salah satu temuan utama dalam laporan tersebut adalah lonjakan pencurian aset digital. CrowdStrike mencatat nilai kerugian akibat pencurian kripto meningkat 51 persen secara tahunan menjadi US$2,02 miliar pada 2025.

Kelompok ancaman DPRK yang dikenal sebagai PRESSURE CHOLLIMA disebut bertanggung jawab atas salah satu pencurian kripto terbesar yang pernah dilaporkan, dengan nilai mencapai US$1,46 miliar. Serangan dilakukan melalui malware trojan yang disebarkan dengan memanfaatkan celah rantai pasok (supply chain vulnerability).

Sementara itu, GOLDEN CHOLLIMA menggunakan modus lowongan kerja palsu untuk mendapatkan akses ke lingkungan cloud perusahaan fintech di Asia Tenggara dan Kanada.

Selain pencurian aset digital, CrowdStrike juga menemukan peningkatan penggunaan AI dalam operasi siber kelompok Korea Utara.

Kelompok FAMOUS CHOLLIMA dilaporkan memanfaatkan identitas sintetis berbasis AI untuk menyusup ke bursa kripto, perusahaan fintech, dan bank digital.

Adapun STARDUST CHOLLIMA menggunakan persona perekrut virtual dan konferensi video sintetis berbasis AI untuk menargetkan perusahaan fintech di Amerika Utara, Eropa, dan Asia.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya aktivitas kelompok spionase siber yang terafiliasi dengan China.

Kelompok HOLLOW PANDA dilaporkan melakukan intrusi terhadap institusi keuangan di Filipina, Indonesia, dan Brasil. Sementara MURKY PANDA mengoperasikan jaringan relay pada lebih dari 150 endpoint di 36 negara dan menargetkan ratusan organisasi lintas sektor.

Di sisi lain, tekanan dari kelompok kejahatan siber bermotif finansial (eCrime) juga terus meningkat. CrowdStrike mencatat sebanyak 423 organisasi jasa keuangan muncul di situs kebocoran data sepanjang 2025, naik 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kelompok MUTANT SPIDER diketahui aktif melakukan serangan vishing dan menjual akses ke jaringan korban kepada operator ransomware. Sementara SCATTERED SPIDER kembali melancarkan serangan ransomware agresif terhadap perusahaan asuransi pada paruh pertama 2025.

Head of Counter Adversary Operations CrowdStrike, Adam Meyers, mengatakan pemanfaatan AI telah mengubah lanskap ancaman siber secara signifikan.

“Pelaku ancaman menggunakan AI untuk mempercepat proses dari akses awal hingga dampak serangan. Tim pertahanan harus melawan AI dengan AI agar mampu mengejar kecepatan lawan,” ujarnya.

GCG BUMN
Menurut CrowdStrike, kombinasi antara pencurian aset digital, penyalahgunaan AI, dan meningkatnya serangan terhadap sektor keuangan menunjukkan bahwa organisasi perlu memperkuat strategi keamanan siber secara proaktif untuk menghadapi ancaman yang semakin kompleks. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories