JAKARTA (IndoTelko) — VIDA meluncurkan gerakan edukasi publik bertajuk “Faces of Fraud” sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan digital berbasis AI yang semakin marak.
Inisiatif tersebut hadir di tengah tingginya kasus penipuan digital di Indonesia yang disebut telah menimbulkan kerugian hingga Rp9 triliun dengan lebih dari 411 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.
Melalui Faces of Fraud, VIDA menghadirkan kisah nyata dari sejumlah korban penipuan digital untuk menunjukkan dampak yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan sosial korban.
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur mengatakan setiap cerita dalam Faces of Fraud memperlihatkan bagaimana korban pernah mempercayai sistem keamanan identitas digital, namun tetap menjadi sasaran kejahatan siber akibat celah keamanan yang dimanfaatkan pelaku.
Menurutnya, kampanye tersebut bertujuan membuka kesadaran publik bahwa penipuan digital meninggalkan dampak jangka panjang seperti hilangnya rasa aman, trauma emosional, hingga kerusakan reputasi.
Faces of Fraud menampilkan berbagai modus kejahatan digital yang dialami korban dari beragam latar belakang. Salah satunya kasus pensiunan yang kehilangan seluruh tabungan akibat modus pengalihan dana ke aset kripto dalam waktu singkat.
Kasus lain memperlihatkan penyalahgunaan identitas pribadi korban untuk pengajuan pinjaman online ilegal tanpa persetujuan pemilik data. Selain itu, terdapat pula modus manipulasi empati melalui donasi palsu yang menyebabkan korban kehilangan dana pengobatan anak.
VIDA menilai pola penipuan digital saat ini semakin kompleks dengan kombinasi berbagai teknik serangan, mulai dari social engineering hingga pengambilalihan akun.
Dalam whitepaper bertajuk SEA Digital Identity Fraud Outlook, VIDA menyebut pelaku fraud modern kini bekerja secara lebih terorganisasi dengan memanfaatkan teknologi dan manipulasi psikologis dalam satu rangkaian serangan.
Perusahaan menilai pemberantasan penipuan digital tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat untuk memperkuat sistem perlindungan digital.
VIDA juga mendorong perusahaan dan institusi mengadopsi sistem keamanan berlapis guna meminimalkan risiko kebocoran identitas dan penyalahgunaan akun digital.
Menurut Niki Luhur, kampanye Faces of Fraud menjadi bentuk ajakan kolektif agar masyarakat lebih waspada dan aktif menjaga keamanan identitas digital di tengah meningkatnya ancaman penipuan berbasis AI. (mas)