telkomsel halo

Opini dan Kolom

Kala lebih dari 1500 ISP jadi harapan baru pemerataan digital

09:11:00 | 11 May 2026
Kala lebih dari 1500 ISP jadi harapan baru pemerataan digital
Internet yang lancar sering baru terasa penting saat bermasalah. Rapat kantor tiba-tiba tersendat, anak sulit mengikuti kelas daring, toko kecil gagal membalas pesanan, atau pembayaran digital di kasir menunggu terlalu lama. Bagi masyarakat, pengalaman seperti ini sederhana, tetapi sangat nyata. Bagi pelaku usaha, gangguan koneksi bisa berarti pelanggan pergi. Bagi pemerintah, jaringan yang belum merata dapat membuat layanan publik digital tidak terasa sama manfaatnya di semua daerah. Bagi negara, internet yang kuat membantu ekonomi bergerak lebih rapi, lebih produktif, dan lebih tercatat.

Dari keseharian itulah capaian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang anggotanya menembus 1.500 perusahaan penyelenggara jasa internet atau Internet Service Provider (ISP) layak dilihat dengan cara yang lebih dekat. Angka tersebut memberi tanda bahwa pasar internet Indonesia semakin ramai, dan keramaian itu bisa menjadi modal besar untuk memperluas manfaat digital sampai ke rumah, kantor, sekolah, warung, dan usaha kecil.

Jumlah ISP yang terus bertambah memberi masyarakat lebih banyak pilihan. Di beberapa wilayah, pelanggan bisa membandingkan harga, kecepatan, paket keluarga, layanan kantor, atau dukungan teknis yang paling sesuai dengan kebutuhan. Survei APJII 2025 mencatat penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen atau setara lebih dari 229 juta jiwa terkoneksi (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2025).

Angka ini menunjukkan bahwa internet sudah menjadi bagian dari kebiasaan harian banyak orang. Namun, kebutuhan pengguna juga berubah. Banyak orang tidak lagi memilih layanan hanya karena murah. Mereka mulai memperhatikan kestabilan jaringan, kemudahan menghubungi layanan pelanggan, dan apakah koneksi tetap nyaman dipakai saat bekerja, belajar, menonton, atau berdagang. Dalam praktiknya, pelanggan mencari layanan yang terasa seimbang antara biaya dan manfaat. Pilihan yang makin banyak membuat pasar bergerak, namun kualitas tetap menjadi pembeda yang paling mudah dirasakan.

Di balik sambungan yang tampak sederhana di ponsel atau laptop, pekerjaan ISP cukup kompleks. Ada kabel serat optik yang harus dibangun dan dirawat, perangkat jaringan yang perlu diperbarui, pusat data yang harus dijaga, sistem keamanan siber yang terus ditingkatkan, serta tim teknis yang harus siap saat terjadi gangguan. Istilah pusat data merujuk pada fasilitas tempat server dan perangkat penyimpanan data dikelola agar layanan digital dapat berjalan stabil.

Karena karakter industrinya padat modal, ISP perlu ruang usaha yang sehat agar mampu terus berinvestasi. Persaingan harga memang baik untuk pelanggan, selama tidak membuat kemampuan membangun jaringan ikut melemah. Dalam rantai nilai ekonomi digital, konektivitas berada di bagian awal yang menopang banyak aktivitas lain, mulai dari transaksi digital, layanan publik, pendidikan, hiburan, sampai kegiatan usaha (Miao, 2021). Saat bagian awal ini kuat, manfaat digital lebih mudah mengalir ke banyak sektor.

Pemerataan menjadi pekerjaan yang membutuhkan kesabaran dan perhitungan matang. Di kota besar, pelanggan lebih padat sehingga biaya pembangunan jaringan dapat dibagi ke lebih banyak pengguna. Di wilayah yang penduduknya tersebar, perhitungannya berbeda. Menarik kabel, memasang perangkat, menyediakan listrik, menjaga keamanan lokasi, dan menyiapkan dukungan teknis membutuhkan biaya yang tidak kecil. Sementara itu, jumlah pelanggan mungkin belum cukup untuk membuat investasi cepat kembali.

Karena itu, pertumbuhan jumlah ISP perlu ditemani kepastian aturan, insentif yang tepat, serta ruang kerja sama antarpelaku. Kerja sama di sini dapat berarti berbagi infrastruktur tertentu, memperkuat interkoneksi, atau menyelaraskan standar layanan agar biaya tidak seluruhnya ditanggung sendiri-sendiri. Kajian tentang investasi infrastruktur digital menunjukkan bahwa manfaat ekonomi akan lebih terasa jika wilayah memiliki kesiapan sumber daya manusia, kemampuan menyerap teknologi, dan kebijakan pendukung yang mengurangi hambatan investasi (Du et al., 2022).

Dengan cara pandang ini, internet yang merata bukan hanya urusan membangun jaringan, melainkan juga soal memastikan jaringan itu benar-benar dipakai untuk kegiatan yang produktif.

Contoh paling mudah terlihat pada usaha kecil. Warung makan yang menerima pesanan lewat aplikasi membutuhkan koneksi untuk memproses order, menghubungi kurir, dan menerima pembayaran digital. Toko rumahan yang menjual produk lewat media sosial perlu internet untuk membalas pelanggan, memperbarui katalog, dan mengecek pengiriman. Kantor kecil yang memakai penyimpanan awan, rapat daring, dan pembayaran elektronik juga sangat bergantung pada sambungan yang stabil.

Penyimpanan awan berarti layanan penyimpanan data melalui internet, sehingga dokumen bisa diakses dari berbagai perangkat. Ketika koneksi berjalan baik, pekerjaan menjadi lebih cepat, transaksi lebih mudah dicatat, dan peluang masuk ke layanan keuangan digital semakin terbuka. Inklusi keuangan digital membantu masyarakat dan pelaku usaha mengakses pembayaran, tabungan, pinjaman, dan layanan keuangan lain melalui perangkat digital, selama konektivitas tersedia dan digunakan secara aman (Tay et al., 2022). Manfaat seperti ini terasa membumi karena langsung menyentuh penghasilan, waktu kerja, dan kenyamanan pelanggan.

Dalam posisi tersebut, APJII memiliki peran yang perlu dibaca sebagai penghubung. Organisasi ini menghimpun pelaku ISP, membawa masukan industri, dan menyediakan data agar diskusi tentang internet tidak berjalan berdasarkan perkiraan semata. Pemerintah membutuhkan peta kebutuhan yang lebih jelas agar kebijakan bisa tepat sasaran. Pelaku industri membutuhkan kepastian agar berani menanamkan modal. Masyarakat membutuhkan layanan yang stabil, terjangkau, dan mudah dipakai.

Semakin besar basis anggota APJII, semakin besar pula peluang untuk menyusun standar, memperkuat advokasi berbasis data, dan menjaga agar pertumbuhan internet tidak berhenti pada wilayah yang sudah ramai. Capaian 1.500 ISP akhirnya memberi pesan yang optimistis. Indonesia memiliki banyak pelaku yang dapat ikut membangun konektivitas, dan tugas berikutnya adalah membuat pasar, kebijakan, dan kebiasaan penggunaan bergerak searah.

Jika jaringan dijaga kesehatannya, jika pelanggan memilih layanan sesuai kebutuhan nyata, dan jika kebijakan memberi ruang bagi investasi yang berkelanjutan, internet akan terus menjadi fondasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari rumah sampai usaha kecil, dari sekolah sampai kantor pemerintahan, manfaat digital akan terasa lebih wajar, lebih merata, dan lebih berguna.

GCG BUMN
Ditulis oleh : Arki Rifazka
Wakil Sekjen, Dewan Pengurus Harian MASTEL

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories