JAKARTA (IndoTelko) - PT ITSEC Asia Tbk mengimbau masyarakat dan organisasi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi penipuan digital selama Ramadan hingga Idul Fitri. Lonjakan aktivitas digital pada periode ini dinilai menjadi celah yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Perusahaan berkode saham CYBR tersebut mencatat bahwa meningkatnya transaksi online, aktivitas belanja, hingga donasi digital selama Ramadan membuka peluang terjadinya berbagai bentuk serangan, khususnya yang berbasis rekayasa sosial. Meski demikian, hasil pemantauan internal menunjukkan tren serangan siber secara umum mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Maret 2025 tercatat 45 kasus defacement, 77 insiden kebocoran data, dan dua ransomware. Sementara di periode yang sama tahun ini, jumlahnya menurun menjadi 23 defacement, 65 kebocoran data, dan satu ransomware. Penurunan juga terjadi pada upaya serangan Distributed Denial of Service (DDoS), dari sekitar 30.600 percobaan pada 2025 menjadi sekitar 17.900 pada 2026.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menilai bahwa meski jumlah serangan menurun, modus penipuan justru semakin beragam dan canggih. Pelaku memanfaatkan momentum Ramadan dengan menyasar masyarakat melalui berbagai skema penipuan yang tampak meyakinkan.
Beberapa modus yang kerap muncul antara lain donasi palsu, promo dan diskon fiktif, penipuan undian hadiah, hingga penipuan belanja online dan pesan terkait pencairan THR. Selain itu, ditemukan pula penyebaran file APK berbahaya yang menyamar sebagai aplikasi kurir, serta tawaran pekerjaan paruh waktu dengan iming-iming komisi tinggi.
ITSEC juga menyoroti pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan oleh pelaku kejahatan siber. Teknologi ini digunakan untuk membuat pesan phishing yang menyerupai komunikasi resmi, menciptakan situs palsu yang sulit dibedakan, hingga memanfaatkan voice cloning dan deepfake untuk meniru identitas pihak tertentu.
Dalam periode pemantauan 18 Februari hingga 13 Maret 2026, sektor pemerintah tercatat sebagai target serangan terbanyak dengan 56 insiden, terutama terkait kebocoran data dan perusakan situs. Sektor lain seperti pendidikan, keuangan, logistik, perdagangan, dan organisasi sosial juga turut terdampak.
Untuk meminimalkan risiko, ITSEC mengingatkan pentingnya langkah perlindungan dasar seperti memastikan keaslian tautan dan rekening sebelum bertransaksi, menghindari instalasi aplikasi dari sumber tidak resmi, serta mengaktifkan fitur keamanan tambahan pada akun penting. Penggunaan solusi keamanan digital juga dinilai dapat membantu mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Melalui peningkatan kesadaran dan kewaspadaan, ITSEC berharap masyarakat dapat menjalankan aktivitas digital selama Ramadan dan Idul Fitri dengan lebih aman. (mas)