JAKARTA (IndoTelko) Ekonomi digital Indonesia kian menjadi motor pertumbuhan nasional, dengan layanan berbasis aplikasi (on-demand) yang kini melekat dalam keseharian masyarakat. Grab Indonesiamenjadi salah satu pemain utama dalam ekosistem ini, menghadirkan akses penghasilan fleksibel bagi jutaan mitra di lebih dari 300 kota dan kabupaten.
Berdasarkan Studi ITB (2023), industri ride-hailing dan pengantaran online menyumbang Rp382,62 triliun atau sekitar 2% terhadap PDB Indonesia pada 2022. Sementara laporan Oxford Economics (2024) mencatat Grab berkontribusi sekitar 50% di industri transportasi dan pengantaran online, menegaskan besarnya dampak ekonomi yang dihasilkan ekosistem ini.
Fleksibilitas Jadi Fondasi
Model gig economy memungkinkan individu bekerja mandiri tanpa terikat jam kerja tetap. Di ekosistem Grab, sekitar 1 dari 2 mitra pengemudi sebelumnya terdampak PHK atau tidak memiliki penghasilan. Lebih dari 50% mitra berusia di atas 36 tahun, dengan mayoritas lulusan SMA/SMK. Tercatat 182.500 mitra perempuan—banyak di antaranya ibu tunggal—serta lebih dari 700 mitra penyandang disabilitas turut bergabung.
Per Desember 2025, total mitra pengemudi terdaftar mencapai 3,7 juta orang. Namun, mitra yang aktif menyelesaikan minimal satu order per bulan berkisar 700800 ribu atau sekitar 1922% dari total terdaftar. Angka ini fluktuatif dan mencerminkan karakter fleksibel gig economy—mitra bebas menentukan kapan dan seberapa sering mereka “narik”.
Mayoritas mitra juga menjadikan Grab sebagai penghasilan tambahan. Lebih dari 80% mitra roda dua dan sekitar 67% mitra roda empat memanfaatkan platform sebagai sumber pendapatan sampingan.
Pola Penghasilan Mitra Roda 4
Pada kategori roda empat, sekitar 1011% mitra menjadikan Grab sebagai nafkah utama dengan pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dan rata-rata 11 order per hari. Sekitar 2122% lainnya memperoleh Rp410 juta per bulan dengan rata-rata 7 order per hari.
Sementara itu, 3334% mitra memperoleh Rp14 juta per bulan sebagai tambahan, biasanya 24 jam per hari dengan 4 order. Sisanya 3435% berpendapatan hingga Rp1 juta per bulan, cenderung narik 12 jam atau di akhir pekan.
Pola Penghasilan Mitra Roda 2
Untuk roda dua, sekitar 12% mitra memperoleh pendapatan di atas Rp10 juta per bulan dengan rata-rata lebih dari 28 order per hari. Sekitar 1415% berada di kisaran Rp410 juta per bulan dengan rata-rata 15 order per hari.
Di kategori sampingan, 4142% mitra memperoleh Rp14 juta per bulan dengan sekitar 6 order per hari, sedangkan 4243% lainnya berpendapatan hingga Rp1 juta per bulan dengan pola kerja lebih situasional.
Chief Executive Officer Neneng Goenadi menegaskan bahwa fleksibilitas merupakan fondasi model on-demand.
“Mayoritas mitra memilih menjadikan platform sebagai penghasilan sampingan, sementara sebagian kecil menjadikannya nafkah utama. Pendekatan yang adil adalah pendekatan yang proporsional, berbasis produktivitas,” ujarnya.
Apresiasi Ramadan: 105 Paket Umrah
Sejalan dengan komitmen “Grab untuk Indonesia”, perusahaan menghadirkan program apresiasi Ramadan bertajuk “Perjalanan Bermakna dengan Umrah Gratis”. Sebanyak 105 paket umrah disiapkan bagi mitra berprestasi dan inspiratif.
Lima mitra pertama yang menerima umrah gratis antara lain Mpok Fika (relawan juru bahasa isyarat), Bapak Jonathan (pemimpin komunitas di Manado), Bapak Yusuf (pendiri komunitas relawan), Bapak Syamsudin (mitra dengan keterbatasan fisik), dan Bapak Yunus (naik kelas ke GrabCar Premium). Selanjutnya, 100 paket tambahan akan diberikan kepada mitra berprestasi lainnya.
Melalui pendekatan berbasis fleksibilitas dan dukungan proporsional, Grab menegaskan komitmennya untuk memastikan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia tidak hanya besar secara angka, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan bagi para mitra dan keluarganya. (mas)