Bitcoin turun usai data NFP AS, Pasar Kripto terlikuidasi

05:41:00 | 14 Feb 2026
Bitcoin turun usai data NFP AS, Pasar Kripto terlikuidasi
JAKARTA (IndoTelko) Harga Bitcoin terkoreksi tajam pada 11 Februari 2026 setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih solid dari ekspektasi. Aset kripto terbesar itu sempat tergelincir di bawah US$67.000 atau sekitar Rp1,12 miliar, diikuti pelemahan sejumlah altcoin utama.

Data non-farm payrolls (NFP) yang dirilis Bureau of Labor Statistics mencatat penambahan sekitar 130.000 pekerjaan pada Januari, dengan tingkat pengangguran di 4,3%. Sementara itu, pertumbuhan upah rata-rata per jam melambat menjadi 3,7%. Meski menunjukkan ketahanan ekonomi, revisi tahunan mengindikasikan koreksi lebih dari satu juta pekerjaan, memicu kekhawatiran akan potensi perlambatan perekrutan sepanjang 2025.

Sentimen risk-off global turut membebani pasar kripto di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Data platform prediksi Polymarket menunjukkan kenaikan probabilitas eskalasi konflik di Timur Tengah, yang mendorong penguatan aset lindung nilai seperti emas dan franc Swiss. Di sisi lain, Bitcoin kembali bergerak searah dengan aset berisiko, termasuk saham teknologi.

Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto dilaporkan menyusut hampir US$90 miliar dalam beberapa jam. Bitcoin mendekati level US$66.000 dan memicu likuidasi posisi leverage sekitar US$70 juta. Ethereum juga sempat melemah ke area US$1.900. Indeks Fear & Greed kembali masuk zona “ketakutan ekstrem”, mencerminkan sikap defensif pelaku pasar.

Deleveraging Percepat Koreksi

Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai tekanan kali ini lebih dipicu aksi deleveraging di pasar derivatif dibanding perubahan fundamental Bitcoin.

Menurutnya, penurunan open interest lebih dari 10% serta lonjakan likuidasi hingga di atas US$160 juta menunjukkan pengurangan risiko secara agresif. Ketika posisi leverage ditutup paksa, tekanan jual terakumulasi dalam waktu singkat dan memperdalam koreksi harga.

Data juga memperlihatkan minat terbuka kontrak perpetual turun signifikan, sementara total open interest pasar berjangka kini berada di bawah US$100 miliar—jauh dari puncak tahun lalu yang sempat melampaui US$255 miliar. Hal ini mencerminkan pendinginan aktivitas spekulatif.

Secara teknikal, Fyqieh menyebut Bitcoin berada dalam fase konsolidasi dengan bias netral hingga bearish jangka pendek. Area US$67.088 menjadi support Fibonacci krusial. Jika mampu bertahan, peluang rebound ke US$68.400 terbuka. Namun jika tembus ke bawah, potensi penurunan lanjutan ke kisaran US$66.500 dalam 2448 jam masih mungkin terjadi.

Sensitif Data Makro AS

Sejumlah analis global mencatat korelasi Bitcoin dengan saham teknologi semakin kuat, terutama saat indeks utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq melemah. Dinamika kebijakan suku bunga The Fed serta rilis data inflasi AS berikutnya dinilai menjadi katalis utama arah harga selanjutnya.

Fyqieh menambahkan, pasar saat ini masih dibayangi narasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer). Jika inflasi menunjukkan perlambatan signifikan, ruang pemangkasan suku bunga bisa terbuka dan mendukung pemulihan harga kripto.

Akumulasi Whale Jadi Sinyal Positif

Di tengah tekanan jangka pendek, data on-chain menunjukkan adanya akumulasi signifikan oleh investor besar. Lebih dari 66.000 BTC tercatat masuk ke alamat akumulasi pada awal Februari—terbesar dalam siklus saat ini.

Fenomena ini dinilai sebagai fondasi struktural jangka panjang yang positif. Ketika koin ditarik dari bursa dan disimpan, suplai yang tersedia untuk dijual berkurang sehingga berpotensi menciptakan supply squeeze jika sentimen makro membaik.

Meski demikian, pasar kripto masih berada dalam fase tarik-menarik antara akumulasi institusional dan tekanan makro global. Investor disarankan menerapkan manajemen risiko yang disiplin dan menghindari penggunaan leverage berlebihan di tengah volatilitas tinggi. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait