telkomsel halo

Perdagangan global kian adaptif di tengah AI dan gejolak tarif

06:37:00 | 27 Feb 2026
Perdagangan global kian adaptif di tengah AI dan gejolak tarif
JAKARTA (IndoTelko) Citi merilis laporan terbaru Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) bertajuk “Supply Chain Finance: Resilient Global Trade in the AI Era”. Studi ini menyoroti transformasi mendasar dalam perdagangan global yang dipicu volatilitas tarif, percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI), serta pergeseran menuju rantai pasok multipolar dan regional.

Meski menghadapi tekanan kebijakan dan dinamika geopolitik, pelaku usaha dinilai mampu beradaptasi cepat melalui diversifikasi pemasok dan optimalisasi modal kerja. Citi mencatat, tekanan rantai pasok global relatif stabil dan mendekati level pra-pandemi, meskipun tarif Amerika Serikat meningkat signifikan dibanding periode sebelumnya.

Adoniro Cestari, Global Head of Trade and Working Capital Citi, menyatakan teknologi telah merevolusi mekanisme pembiayaan perdagangan. Pemrosesan dokumen berbasis AI mampu meningkatkan akurasi sekaligus memangkas waktu proses menjadi hitungan menit. Uji coba pembayaran perdagangan bersyarat berbasis blockchain juga membuka peluang transisi dari jaminan berbasis kertas menuju eksekusi digital dengan otomasi hampir 24/7.

Perdagangan Bergeser ke Asia Selatan dan ASEAN

Analisis arus perdagangan menunjukkan reorganisasi global yang kompleks. Kawasan Asia Selatan dan ASEAN muncul sebagai penerima manfaat utama, dengan lonjakan pengiriman 44% dari Asia Utara dan Timur. Amerika Latin juga memperdalam integrasi dengan Asia dan Amerika Utara, mencatat kenaikan ekspor 82% ke Asia Selatan dan ASEAN—tertinggi secara global.

Amerika Serikat turut mendiversifikasi sumber impor, dengan peningkatan pengiriman 50% dari Asia Selatan dan ASEAN serta 43% dari Amerika Latin, melampaui pertumbuhan impor dari Asia Utara dan Timur.

AI Dorong Lonjakan Belanja Modal

Laporan Citi juga menyoroti fenomena “super cycle” belanja modal pusat data berbasis AI. Citi Research memproyeksikan investasi global terkait AI dapat mencapai US$7,75 triliun pada 2030. Dalam konteks ini, pembiayaan perdagangan memainkan peran krusial melalui skema pembiayaan rantai pasok dan program piutang terstruktur untuk mendukung proyek pusat data yang padat modal.

Adopsi AI dalam pembiayaan perdagangan pun meningkat signifikan. Sebanyak 36% perusahaan besar kini memanfaatkan perangkat AI—naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Modal Kerja Jadi Prioritas

Manajemen modal kerja kini menjadi perhatian utama jajaran eksekutif. Sebanyak 64% perusahaan menyebut kenaikan biaya input sebagai kekhawatiran terbesar, sementara rata-rata 6,3% modal kerja terserap untuk menutup biaya tarif.

Sebagai respons, perusahaan memanfaatkan pembiayaan inventaris, program piutang terstruktur, serta skema dynamic discounting guna meningkatkan likuiditas. Survei Citi terhadap 710 perusahaan besar menunjukkan 65% responden aktif mendiversifikasi rantai pasok dari satu atau lebih negara, dengan Vietnam, Thailand, India, dan Meksiko menjadi tujuan utama relokasi.

GCG BUMN
Temuan ini memperlihatkan bahwa meski menghadapi tekanan global, perdagangan internasional tetap menunjukkan ketahanan dengan dukungan inovasi teknologi dan strategi pembiayaan yang semakin adaptif di era AI. (mas)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Ramadan 2026
More Stories