JAKARTA (IndoTelko) - Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah mencatat penurunan tajam dalam 24 jam terakhir. Pada Kamis (5/2), aset kripto terbesar dunia ini turun 5,67% ke level US$71.563, lebih dalam dibandingkan pelemahan pasar kripto secara umum yang terkoreksi sekitar 5,1%. Secara mingguan, Bitcoin telah terkoreksi lebih dari 18%, menandai berlanjutnya tren bearish sejak awal tahun.
Tekanan harga dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari keluarnya dana institusional, melemahnya indikator on-chain, hingga meningkatnya ketidakpastian global. Salah satu pemicu utama datang dari arus keluar signifikan pada ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.
Data pasar menunjukkan total aset kelolaan ETF Bitcoin spot AS menyusut drastis dari lebih dari US$128 miliar pada pertengahan Januari menjadi sekitar US$97 miliar di awal Februari. Artinya, sekitar US$31 miliar dana institusional tercatat keluar dalam waktu relatif singkat, mencerminkan menurunnya minat investor besar terhadap Bitcoin.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai pembalikan arus dana ETF tersebut memberi tekanan jual langsung ke pasar. Menurutnya, sepanjang 2024 hingga 2025, ETF menjadi salah satu pendorong utama permintaan Bitcoin. Ketika arusnya berubah menjadi net outflow, dukungan harga pun melemah dan membuka ruang koreksi lanjutan.
Dari sisi fundamental on-chain, permintaan spot juga menunjukkan sinyal pelemahan. Coinbase premium masih berada di zona negatif sejak Oktober, mengindikasikan minat beli investor AS yang rendah. Sementara itu, Bull Score Index dari CryptoQuant berada di level nol, mencerminkan minimnya tekanan beli organik di pasar.
Fyqieh menyebut kondisi ini sebagai demand vacuum, di mana ketiadaan arus modal baru membuat pergerakan harga Bitcoin sangat sensitif terhadap sentimen negatif dan likuidasi posisi leverage.
Tekanan eksternal turut memperburuk situasi. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, menyusul kegagalan rencana perundingan, mendorong pelaku pasar global ke mode risk-off. Di saat yang sama, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada April mengurangi harapan masuknya likuiditas baru dalam waktu dekat.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin kembali bergerak sejalan dengan aset berisiko. Aliran dana global cenderung mengalir ke instrumen safe haven seperti emas, yang justru mencetak rekor harga baru di kisaran US$4.500 per troy ounce.
Tekanan jual ini juga memicu gelombang likuidasi besar di pasar kripto. Dalam 24 jam terakhir, nilai likuidasi tercatat melampaui US$800 juta, seiring turunnya total kapitalisasi pasar kripto sekitar US$500 miliar, dari kisaran US$3 triliun menjadi mendekati US$2,5 triliun.
Dari sisi sentimen, Crypto Fear and Greed Index saat ini berada di level 17, masuk kategori extreme fear. Kondisi ini menunjukkan dominasi sikap defensif investor dan masih terbukanya potensi tekanan lanjutan dalam jangka pendek.
Meski demikian, Fyqieh menekankan bahwa pelemahan Bitcoin saat ini bukan dipicu satu faktor tunggal. Menurutnya, kombinasi arus keluar ETF, ketidakpastian kebijakan moneter, dinamika geopolitik, serta meningkatnya sentimen risk-off global menjadi penyebab utama tekanan pasar.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan arus dana ETF Bitcoin spot. Meredanya arus keluar atau kembalinya inflow institusional dinilai dapat menjadi sinyal awal terbentuknya level support baru bagi harga Bitcoin. (mas)