Paket Semangat Kemerdekaan
Paket Semangat Kemerdekaan
telkomsel halo

WhatsApp, FB, dan data pribadi

10:52:28 | 17 Jan 2021
WhatsApp, FB, dan data pribadi
Beberapa hari terakhir perubahan kebijakan privasi pengguna aplikasi WhatsApp (WA) dan Facebook (FB) mendapatkan perhatian warganet di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

WhatsApp memperkenalkan kebijakan baru yang memuat 10 subtopik dan akan berlaku awal Februari. Salah satu aturan terkait berbagi data pengguna dengan Facebook.  

Aturan ini menuai pro dan kontra. Sedangkan WhatsApp menegaskan bahwa pesan pengguna tidak dibagikan kepada induk, Facebook.

Dikutip dari laman resmi, kebijakan baru WhatsApp itu memuat 10 subtopik.

Data yang dikumpulkan oleh perusahaan dibagi menjadi dua yakni yang disediakan oleh pengguna dan otomatis terkumpul. Informasi yang disediakan oleh pengguna yakni data diri termasuk nomor telepon, pesan, kontak, status, data transaksi dan pembayaran, serta dukungan pelanggan. Sedangkan yang otomatis yang dikumpulkan oleh WhatsApp yaitu aktivitas konsumen, perangkat dan koneksi termasuk alamat IP, lokasi, serta cookie.  

Anak usaha Facebook ini mengklaim, informasi yang dikumpulkan akan digunakan untuk menjalankan layanan, mendukung keselamatan, keamanan, dan integritas. Selain itu, untuk pemasaran dan interaksi bisnis. Namun, WhatsApp menegaskan bahwa perusahaan belum akan menerapkan iklan di platform.  

WhatsApp mengatakan bahwa pertukaran data dengan Facebook sebenarnya sudah berlangsung. Informasi yang dibagikan seperti informasi pendaftaran akun termasuk nomor telepon, transaksi, terkait layanan, interaksi antarpengguna, perangkat seluler informasi, dan alamat IP.

Akan tetapi, pengguna di Uni Eropa dapat memilih untuk tidak berbagi data dengan Facebook. Ini karena Benua Biru itu memiliki regulasi perlindungan data atau General Data Protection Regulation (GDPR).

Reaksi
Pengguna WA pun bereaksi atas rencana kebijakan baru ini. Hal itu terlihat dengan ramai-ramainya pengguna mengunduh dan mempromosikan pesaing dari WA yakni Telegram dan Signal.

Dalam minggu pertama bulan ini, pengguna Telegram tembus di angka 500 juta. Dalam 72 jam terakhir per 12 Januari 2021, terdapat 25 juta pengguna baru bergabung dengan Telegram, dari seluruh dunia - 38% dari Asia, 27% dari Eropa, 21% dari Amerika Latin, dan 8% dari Timur Tengah dan Utara Afrika.

Peningkatan jumlah pengguna ini sangat signifikan dibanding tahun lalu yang hanya 1,5 juta pengguna baru mendaftar setiap hari.

Keunggulan Telegram adalah memiliki kode open source. Semua aplikasi Telegram telah menjadi open source sejak 2013, enkripsi dan API Telegram didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau ribuan kali oleh berbagai pakar keamanan. Selain itu, Telegram adalah satu-satunya aplikasi private messaging di dunia yang memiliki builds yang dapat diverifikasi baik untuk iOS dan Android sementara aplikasi private messaging lain menyembunyikan kode mereka, sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi enkripsi dan privasi mereka.

Siapa pun dapat memeriksa kode open source Telegram dan mengonfirmasi bahwa aplikasi tidak melakukan apa pun di secara diam-diam.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ikut memberikan perhatian yang serius atas tanggapan yang berkembang berkaitan dengan aturan dan tata kelola perlindungan data pribadi serta privasi pengguna yang akan diterapkan WA.  

Secara regulasi posisi Kominfo lemah terkait penegakan perlindungan data pribadi mengingat Indonesia belum memiliki GDPR ala Eropa.

Hal itu dapat dilihat dari permintaan Kominfo ke pihak WA yang hanya sekadar "Meminta" untuk berhati-hati dalam mengelola data pribadi penggunanya.

Ke pengguna pun, Kominfo hanya bisa memberikan saran untuk memilih aplikasi yang mampu memberikan pelindungan data pribadi dan privasi secara optimal. 

Paket Semangat Kemerdekaan
Untunglah pihak WA sekarang berada dalam tekanan publik global. Kabar terakhir, manajemen WA menunda implementasi kebijakan barunya ke bulan Mei dari tadinya akan dijalankan pada Februari mendatang.

Pelajaran dari semua ini, ternyata di era digital untuk melawan "kekuasaan" arogansi pemilik aplikasi, hukuman yang paling menakutkan adalah ketika para pengguna bersatu untuk melawan!

@IndoTelko

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year