Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Prabowo dan fenomena Unicorn

13:20:15 | 23 Feb 2019
Prabowo dan fenomena Unicorn
Capres No 02 Prabowo Subianto menggunakan salah satu layanan Unicorn, Ojek Online.(dok)
telkomtelstra januari - maret
JAKARTA (IndoTelko) - Dalam debat Pemilihan Presiden (Pilpres) II pada Minggu, (17/2) memunculkan salah satu isu yang menarik kalangan milenial.

Hal itu dimulai kala Calon Presiden No 01 Jokowi Widodo (Jokowi) bertanya kepada Capres No 02 Prabowo Subianto.

"Infrastruktur apa yang akan Bapak bangun untuk mendukung perkembangan unicorn Indonesia?"  tanya Jokowi.

Sebelum menjawab, Prabowo sempat bertanya balik, “Yang Bapak maksud unicorn? Maksudnya yang online-online itu, iya, kan?" tanyanya.

Bagian ini kemudian menjadi salah satu adegan yang ‘ramai’ menjadi perbincangan dan pemberitaan di dunia maya oleh pengguna media sosial (warganet) seputar Prabowo dan unicorn.

Mesin analisa media sosial Drone Emprit melakukan monitoring selama 4 hari, dari 17 hingga 20 Februari terkait isu Prabowo dan Unicorn ini.

Kata kunci yang digunakan, Prabowo, difilter dengan kata kunci unicorn dan online, untuk mendapat data percakapan dan pemberitaan yang relavan. Data ditarik dari kanal portal berita dan media sosial Twitter. Bagaimana peta pemberitaan dan percakapan terkait isu ini?

Data yang berhasil ditarik dan ditangkap di dua kanal yakni 90.541 mentions. Dengan perincian, 2.365 mentions di kanal pemberitaan dan 88. 176 di kanal media sosial Twitter. 

Drone Emprit melihat pemberitaan dan percakapan terkait Prabowo dan unicorn meningkat setelah debat capres, yakni pada hari berikutnya tanggal 18. Ini menjadi puncak pemberitaan dan percakapan. Namun, pada dua hari berikutnya, 19 dan 20 Febuari 2019, perlahan pemberitaan dan percakapan seputar isu ini turun di kanal pemberitaan maupun di kanal percakapan (Twitter).

Kendati sudah turun dua hari ini, isu Prabowo dan unicorn mendapat respons yang cukup tinggi di warganet. Terlihat dari interaction rate yang muncul dalam percakapan (media sosial Twitter), yang menunjukkan angka cukup tinggi, yakni 8.18. Artinya, isu ini mendapat respons dari netizen.

Ini juga tercermin dari jumlah pengguna aktif. Ada 46.082 pengguna aktif yang terlibat dalam percakapan. Mereka memiliki followers, yang juga berpotensi mengikuti percakapan. Percakapan terkait isu Prabowo dan unicorn tersebut punya potensi jangkauan (potential reach) sangat tinggi, yakni 68.605.380 pengguna Twitter.

Adapun beragam tanda pagar (Tagar) yang muncul dalam percakapan terkait Prabowo dan unicorn di antaranya #02GagapUnicorn yang ramai digunakan oleh pendukung capres 01. Selain menggunakan hestek untuk menyerang capres 02, pendukung 01 juga menggunakan hestek untuk mempromosikan capres 01 dengan menggunakan #DebatPintarJokowi, #DebatMantulJokowi, dan #LebihBaikJokowi.

Kubu pendukung 02 tampak juga menggunakan hestek menyerang dan mempromosikan jagoannya. Namun, hestek yang digunakan lebih dominan hestek yang menyerang capres 01 seperti #JokowiBohongLagi, #LyingAwardsForPresident, #CapresO1Bohong, #BohongLagiJokowi. Sementara hestek yang digunakan untuk mempromosikan capres 02 yakni #PrabowoMenangDebat. 

Panasnya perdebatan soal Unicorn ini dianggap sebagai pertarungan untuk merebut persepsi dan berharap bisa dikonversi mempengaruhi preferensi publik.

Perlu Aturan
Terlepas dari isu Unicorn telah dibawa ke ranah politik, Lembaga riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan startup dengan valuasi US$1 miliar ini memang perlu diatur agar arus modal keluar Indonesia tak terjadi.

Ekonom Senior Indef Didik J Rachbini mengingatkan Unicorn jika tak diatur dampaknya ke depan lebih hebat dan cukup berbahaya, karena dapat menarik aliran dana keluar (capital outflow). Hal ini karena persaingan modal bersifat the winner take all, sifat dari bisnis ini adalah disruption, yakni mematikan yang sudah ada dan membesarkan yang sudah besar.

"Ini sudah menjadi isu capres tapi belum melihat bahayanya sehingga jika abai kita bisa terjerumus kalah perang ekonomi," ujar Didik.

Berdasarkan teori creative distruction, inovasi baru akan menyebabkan yang lama akan punah. Ini menimbulkan masalah sosial, seperti perang jalanan antara ojek pangkalan dengan ojek online. Sedangkan, pengemudi ojek adalah pekerja tanpa asuransi, tanpa pengembangan sumber daya manusia.

Apabila unicorn Indonesia tidak diatur dan tidak diproteksi dengan baik, maka akan dicaplok modal asing. Akibatnya, arus modal dari royalti di masa depan lewat eCommerce akan sangat besar.

"Sekarang defisit neraca berjalan atau sangat besar karena pendapatan primer, royalti, income tenaga kerja asing sangat besar. Dengan tumbuhnya unicorn yang bebas tanpa peran pemerintah maka defisit neraca berjalan akan besar dan bahkan jebol," jelas Didik.

Telkom Marketing 2
Menurutnya, akar masalah kelemahan ekonomi Indonesia berada di sektor luar negeri, neraca berjalan dan defisit neraca jasa. Neraca berjalan Indonesia selalu negatif, yang utamanya karena defisit di sektor ekspor impor jasa. Saat ini, neraca berjalan defisit lebih besar karena neraca perdagangan terpuruk. Pada neraca jasa, desifit yang besar dan paling abadi adalah defisit jasa angkutan.

"Sekarang defisit raksasa itu adalah pendapatan primer, utamanya adalah royalti dan gaji asing yang menyedot ekonomi indonesia keluar negeri," kata Didik.

Angkasa Pura 2
Saat ini Indonesia memiliki empat Unicorn, yakni Go-Jek, Bukalapak, Tokopedia, dan Traveloka. Tiga diantaranya sudah didominasi oleh investor asing.(id)

Ikuti terus perkembangan berita ini dalam topik
telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
atta 300 x 250.gif
More Stories
telkom sigma
Financial Analysis
CCSI raih dana IPO Rp50 miliar