Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Kolom Opini

New media, inovasi atau intervensi?

07:01:45 | 11 Dec 2018
New media, inovasi atau intervensi?
Remaja SMU tengah mengakses informasi melalui ponsel. Tingginya penetrasi seluler menjadi informasi berada dalam genggaman.(dok)
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
Seiring berkembangnya zaman, ilmu pengetahuan dan seluruh teknologi ilmiah pun ikut berkembang bersamaan dengan lahirnya penemuan-penemuan baru yang mengklaim kegunaan utamanya adalah untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas.

Contoh nyata dari semua penemuan di zaman modern ini adalah new media atau media baru berupa elektronik dan internet yang dapat kita nikmati secara luar biasa mudahnya saat ini.

Dimulai dari rencanan mengadakan riset tentang cara menghubungkan beberapa komputer hingga membentuk jaringan organik yang dilakukan oleh  Departmen Pertahanan Amerika Serikat lalu terbentuklah program yang disebut ARPANET (Advance Research Project Agency Network) tahun 1969,  kemudian  jaringan ini diperbaharui sedemikiran rupa hingga akhirnya dapat berkembang diseluruh belahan dunia sekarang ini.

Setiap inovasi atau penemuan yang ada memang selalu memiliki tujuan utama yaitu untuk mempermudah apa yang sudah ada, seperti yang ada dalam buku Meyrowitz yang berjudul No Sense Of Place, dimana didalamnya mengulas efek media sosial bagi perilaku masyarakat dan perannya dalam mengkonstruksi budaya sosial.

Ia berpendapat bahwa sosial media atau media elektornik secara umum lahir bukan untuk mengubah apa yang ada melainkan sebagai tambahan pelengkap atau penyempurna dari apa yang telah diciptakan sebelumnya.

Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa keberadaan media sosial atau apapun jenis platform elektronik yang ada sekarang ini bukan semata-mata hal baru atau “alien” yang muncul ditengah-tengah peradaban manusia. Melainkan merupakan kelanjutan dari yang dulunya telah ada, namun yang perlu didiskusikan disini adalah, apakah new media benar benar sebuah inovasi atau sebaliknya malah menjadi intervensi bagi manusia?

New media dapat diakses oleh siapapun dan dimanapun khususnya bagi para pemuda dengan kisaran umur (15-25) dan remaja yang merupakan lapisan masyarakat dengan persentase terbesar dalam keterlibatannya di media sosial.

Hal ini tentunya akan memiliki berbagai dampak , baik positif maupun negatif. Ini ditinjau dari literasi media dalam masyarakat yang tinggi namun rendah. Dalam artian, hampir seluruh masyarakat sadar dengan keberadaan new media atau media sosial namun tidak semua, bahkan dapat dikategorikan minim yang menyadari pentingnya untuk mem-filter yang dipaparkan didalamnya.

Seluruh konten dan pesan yang diekspos oleh media menjadi alat konstruksi cara pandang masyarakat yang perlahan menggeser nilai atau norma yang telah berlaku dimasyarakat, khususnya bagi remaja.

KPRI atau komisi perlindungan remaja indonesia menyatakan bahwa lebih dari 54% remaja di indonesia pernah menonton pornografi dan sisanya telah melakukan sexual intercourse yang atas pengakuan mereka itu semua didasari oleh rasa ingin tahu mereka terkait tontonan yang dikonsumsinya lewat media.

Riset juga membuktikan bahwa 45,6% dari populasi remaja di Pulau Jawa telah hamil diluar nikah dan beberapa diantaranya melakukan aborsi ilegal yang dilakukan ditempat yang  jauh dari pemukiman warga dan beresiko kematian. Persentase ini hanya mencakup satu regional saja, dapat dibayangkan berapa banyak remaja yang telah melakukan hal tercela tersebut jika dipaparkan melalui cakupan nasional.

Tentunya banyak aspek dan oknum yang menjadi penyebab dari peristiwa tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua, kerabat terdekat, dan lingkungan menjadi salah satu faktor terjadinya kejadian diatas.

Namun yang telah men-trigger fenomena ini terjadi adalah media dan segala kemudahannya untuk mendapatkan semua konten yang kita inginkan. Walaupun telah ada kebijakan filterisasi konten media yang mengandung SARA di internet khususnya Indonesia (Restricted Mode) , tidak menutup kemungkinan adanya alternatif lain bagi oknum-oknum gelap untuk mencari celahnya.

Seiring maraknya fenomena tersebut dan melihat bagaimana media tidak henti hentinya mengekspos berbagai macam sisi yang terkait kenakalan remaja di zaman ini. Terdekteksi adanya pola  keuntungan  tersembunyi yang dijalankan oleh media, karena pada hakikatnya, jika ada sesuatu yang blow up di media dan terus menerus dipaparkan, pasti ada kepentingan dari beberapa pihak dibelakangnya yang mengambil keuntungan pribadi dari peristiwa tersebut.

Media sendiri merupakan lapak ekonomi terbesar yang menjanjikan bagi para penggunanya yang memiliki sifat unseen bussines, dimana kegiatan pasar yang dilakukan didalamnya tidak terlihat dan perputaran uang yang terjadi pun tidak dapat dideteksi, munculah istilah “lingkaran setan” yang merupakan sirkulasi uang dalam media yang dinilai ghaib.

Hal ini menjadi salah satu sisi yang harus diperhatikan, bukan hanya mencari tahu mengapa hal itu terjadi dan siapa pelakunya, namun apa penyebab hal itu kerap dan terus menerus terjadi. Karena semakin banyak media mengekspos suatu kejadian dari hanya satu sudut pandang, semakin marak homogenisasi perspektif yang terbentuk dalam masyarakat.

Media yang ada saat ini memang dapat dikategorikan mempunyai alur yang heterogen dalam arti variasi yang ditawarkan sangat beragam, namun yang tidak disadari adalah efeknya yang bersifat homogen dan cenderung menyeragamkan publik.

Telkom Marketing 2
Fenomena diatas pastinya menggiring opini masyakarat yang tidak kalah mengejutkan karena beberapa diantara mereka menganggap itu sebagai hal yang “tidak asing” karena mereka berpendapat bahwa itu telah menjadi stigma perilaku dan nilai yang melekat pada remaja saat ini.

Tentunya sebagai salah satu dari remaja di indonesia, saya merasa tidak terima dengan stereotip negatif yang berkembang, karena itu saya berharap semakin banyak remaja dan generasi muda yang menyadari pentingnya media literasi dan cerdas dalam menggunakan new media ini, agar inovasi yang dibentuk demi memudahkan manusia tidak berubah menjadi intervensi yang memecah belahkan masyarakat sosial.(*)

Angkasa Pura 2
Ditulis oleh, Puti Andam Sari, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma