telkomsel halo

Kominfo harus atur tarif internet

09:24:32 | 03 May 2017
Kominfo harus atur tarif internet
ilustrasi
Angkasa Pura 2
JAKARTA (IndoTelko) – Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) diminta untuk memberikan rambu-rambu yang jelas bagi operator dalam menawarkan tarif internet agar tidak terjadi gaduh di pasar.

“Internet sekarang sudah mengalahkan pamor layanan suara dan SMS. Kalau di suara dan SMS ada sejumlah regulasi untuk formulasi pentarifan, rasanya sudah saatnya hal yang sama diberlakukan di internet atau paket data yang ditawarkan operator,” saran Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) Kamilov Sagala, di Jakarta, Rabu (3/5).

Menurutnya, jika  pemerintah melalui Kominfo tak melakukan intervensi dengan memberikan formulasi pentarifan ala layanan suara dan SMS, maka aksi hukum rimba seperti di-deface-nya situs resmi Telkomsel beberapa waktu lalu sebagai bentuk protes pengguna akan terus berulang.

“Kemarin Telkomsel, tak ada jaminan itu besok Indosat, XL, Tri, atau Smartfren pula yang dikerjain oleh pengguna yang mampet saluran protesnya. Sebaiknya Kominfo jangan kerja yang rutin-rutin saja, ini (pengaturan tarif) butuh inovasi dan butuh nyali menyelesaikannya,” sungutnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengakui memang sudah saatnya ada pengaturan yang lebih jelas untuk tarif paket data bagi pelanggan dari operator seluler.

“Dulu kan dianggap data itu sebagai Value Added Service (VAS), sekarang sudah menjadi konsumsi utama. Kalau di suara dan SMS itu jelas, ada Peraturan Menteri untuk suara dan SMS, selain aturan soal biaya interkoneksi. Ini di paket data harus jelas,” katanya.

Dikatakannya, banyak komponen yang mempengaruhi penawaran paket data. Misal, belanja bandwidth yang biasanya menggunakan dollar AS. Kondisi konten yang diakses  banyak diluar negeri menjadikan operator harus pintar-pintar mengelola bandwidth agar tidak jebol.

Diingatkannnya, negara harus hadir di layanan internet ini sesuai dengan visi Nawacita dari sang Presiden Joko Widodo. Tugas pemerintah dalam hal layanan broadband hanya ada empat yakni meningkatkan teledensitas, pemerataan akses, tarif terjangkau, layanan berkualitas, dan mengoptimalkan broadband untuk ekonomi digital.

“Jadi, kalau pemerintah tak hadir di layanan internet ini, percuma saja berkoar-koar soal digital ekonomi kalau salah satu tugas tersebut diabaikan negara. Menkominfo harus menunjukkan perannya disini, kalau tidak ada aksi, layak dievaluasi dalam gelombang  reshuffle  mendatang,” pungkasnya.

Sebelumnya, pasca diusilin situs resminya, di media sosial marak artikel tentang analisa keuntungan yang terlalu tinggi diambil Telkomsel dengan judul  “Kisah Hacker Melawan Telkomsel : Keserakahan Bisnis Bernilai 28 Triliun”. (Baca: Situs Telkomsel diretas)

Dalam artikel tersebut menyorot net margin yang terlalu tinggi dipatok Telkomsel alias di atas rata-rata pemain global.

Telkomsel meraih laba bersih Rp 28 triliun melalui pendapatan Rp 86 triliun pada 2016. Itu artinya net profit margin Telkomsel berada pada angka 32%. Net profit margin adalah perbandingan antara net profit dengan total pendapatan.                  

Namun, analisa di artikel ini mendapat balasan pula dari tulisan lainnya yang diviralkan melalui media sosial dengan memberikan pandangan bahwa telaahan yang dibuat terlalu dangkal dan tak memahami industri telekomunikasi.

Artikel lainnnya membandingkan paket data Telkomsel dengan operator negara di Asia Tenggara. Paket Singtel Combo di Singapura dipatok dengan harga Rp 259 ribu (US$ 19,9), dan mendapatkan kuota data sebesar 2 Giga dan bonus 2 Giga di jaringan Wifi. Sehingga rata-rata konsumen membeli  paket data Rp 126,5 per mega. Globe di Philipina mengeluarkan paket kuota utama Rp 52,1 per mega, sedangkan Airtel India mengeluarkan paket data 2 Giga dengan harga Rp 95 ribu atau Rp 46,4 per mega. (Baca: Turunkan tarif  internet)

Bandingkan dengan Telkomsel. Jika seluruh bonus konten  dihitung maka tarif internet Telkomsel hanya Rp 3,2 per mega. (Baca: Godaan perang tarif)

Beberapa pihak bilang  tarif internet Telkomsel mahal karena ada berbagai bonus seperti video atau musik  yang kurang  bermanfaat. Padahal ada paket tanpa embel-embel bonus konten seperti paket Telkomsel Maxplore  sebesar 2 Giga dengan bonus sebesar 5 Giga di jaringan 4G dan 13 Giga untuk pemakaian di jam tertentu senilai  total  Rp 70 ribu. Artinya tarif efektif menjadi Rp. 3,4 per mega. Beberapa operator lain juga memiliki paket sejenis dan jika dihitung  maka kisaran tarif terendah dan tertinggi berkisar   Rp. 1,4 hingga Rp. 14,6 per mega. (baca: Kominfo ingin revisi tarif)

Di artikel ini menguak tingginya net profit margin Telkomselkarena mampu mengelola biaya operasi dengan efisien. Selain itu, beban bunga dan hutang Telkomsel juga kecil sekali mengingat hutang perusahaan relatif kecil dibandingkan operator lain. Maka wajar jika biaya lain-lain Telkomsel pun  kecil yang pada akhirnya membuat laba bersih Telkomsel menjadi lebih baik dari operator lain.(dn)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year