telkomsel halo

MVNO akan Percepat Adopsi 4G?

18:47:49 | 14 Mar 2013
MVNO akan Percepat Adopsi 4G?
Hasnul Suhaimi (DOK)
Angkasa Pura 2
JAKARTA – Model bisnis Mobile Virtual Network Operator (MVNO) diyakini bisa mempercepat pengembangan jaringan 4G di Indonesia karena menawarkan efisiensi investasi.

MVNO adalah sebuah layanan bergerak yang menyewa atau memakai spektrum frekuensi milik Mobile Network Operator (MNO) melalui suatu perjanjian bisnis.

MVNO dalam hal ini dapat hanya berperan sebagai reseller dari MNO atau bisa membangun infrastrukturnya sendiri yang dibutuhkan sesuai dengan teknologi dan izin spektrum frekuensi yang dimiliki oleh MNO.  

“Jika bicara MVNO untuk mengembangkan jaringan, saya rasa itu bisa diadopsi. Tetapi jika MVNO hanya untuk  menambah pemain menjual jasa, itu justru akan merusak industri. Bisa jadi kembali ke masa perang tarif dan berguguran para pemain,” ungkap Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi dalam diskusi 4G: New Tech, New Services, New Needs  di Jakarta, Kamis (14/3).

Menurutnya, pola MVNO layak dijajal untuk mengembangkan teknologi 4G yang masih baru di Indonesia. “Mungkin bisa dicoba dengan menerapkan di tiap-tiap pulau ada satu pemain atau konsorsium  MNO mengelola 4G, setelah itu operator menyewa bandwidth ke MNO itu. Nanti tinggal hitung-hitungan tanggung jawab masing-masing layaknya menghitung interkoneksi,” katanya.

Presiden Direktur Indosat Alexander Rusli mengaku siap saja untuk mengdopsi pola MVNO mengembangkan jaringan 4G, dengan syarat ada payung hukum yang jelas.

“Kami punya pengalaman pahit sekarang dengan masih berlangsungnya kasus IM2. Kita pada prinsipnya siap saja asal ada payung regulasi yang jelas sebagai pelindung,” katanya.

Dikatakannya, perseroan memandang pola MVNO sebagai revenue stream yang lain sebagai penyelenggara jaringan dan jasa.

“Bagi kami ini channel untuk diferensiasi. Tetapi sebagai MNO kami akan tetap investasi, soalnya kita sudah lama disana,” katanya.

CTO Smartfren Merza Fachys memprediksi sebenarnya konsep MVNO bisa diterapkan tidak hanya untuk 4G tetapi juga 3G. “Kalau saya melihat dengan kekuatan dari jaringan Telkomsel sekarang, bisa saja MVNO menggunakan infrastruktur mereka,” katanya.

Kajian
Menanggapi usulan Merza, Direktur Network Telkomsel Abdus Somad Arief mengatakan, untuk menuju MVNO dalam mengembangkan jaringan diperlukan kajian yang matang dan harus ada model bisnis yang jelas, terutama penilaian mendalam dari sisi modal karena perusahaan membawa nilai masing-masing.

“Jaringan Telkomsel untuk melayani pelanggan sendiri masih harus ditingkatkan.  Kita sendiri menargetkan broadband untuk seluruh kecamatan baru 2015,” katanya.

Namun, lanjutnya, untuk berbagi infrastruktur aktif dengan pemain lain, Pria yang akrab disapa ASA ini mengaku tidak keberatan. “Berbagi infrastruktur aktif itu model bisnisnya sudah jelas. Ini berbeda dengan kerjasama Over The top (OTT) yang terus dicari model bisnis terbaiknya,” katanya.

Konsolidasi
Sementara Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika Kemenkominfo  Muhammad Budi Setiawan mendorong  operator telekomunikasi   untuk melakukan konsolidasi jaringan dalam menyongsong era  seluler 4G yang mengusung teknologi Long Term Evolution (LTE).

"Mendorong konsolidasi jaringan dapat meningkatkan efisiensi infrastruktur, mengurangi belanja modal dan biaya operasional operator, namun tetap menjaga kompetisi layanan," katanya.

Dikatakan Pria yang akrab disapa Iwan ini,  konsolidasi jaringan antar operator telekomunikasi bisa menjadi salah satu terobosan dalam menyelenggarakan layanan 4G. “Sembari kita mencarikan frekuensi ideal untuk 4G, operator mulailah bicara konsolidasi,”  katanya.
     
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M.Ridwan Effendi mengungkapkan, konsep pengembangan jaringan bisa dicoba di 850 MHz dimana para pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) memiliki keterbatasan frekuensi untuk menerapkan LTE.

“Masing-masing pemain hanya punya 5 MHz. Idealnya, semua pemain itu mengonsolidasikan frekuensinya dalam satu entitas, setelah itu menyewa ke bentuk usaha baru yang fokus mengembangkan jaringan. Dengan 20 MHz itu sudah ideal sekali menjalankan LTE,” katanya.(id)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
More Stories
Data Center Service Provider of the year