Telkom Marketing 2
Telkom Marketing 2
blanja 2019
telkomsel halo

Bisnis Satelit

Telkom-Indosat Batal Garap Slot Satelit

23:14:20 | 15 Dec 2012
Telkom-Indosat Batal Garap Slot Satelit
Ilustrasi (Dok)
telkomsat
telkomtelstra januari - maret
Sungguh sial nasib slot 150,5 derajat bujur timur (BT) yang dimiliki Indonesia di angkasa. Sejarah kelam sepertinya belum bisa lepas dari slot satelit yang cocok untuk C-Band ini.

Untuk diketahui, slot orbit ini sempat “hilang”. Ceritanya bermula lima tahun lalu atau 2007 kala Indonesia divonis kehilangan slot orbit satelit 150,5 derajat BT oleh International Telecommunication Union (ITU)

Semula pemerintah telah menyerahkan hak pengelolaan slot satelit tersebut kepada PT Satelindo yang kemudian bergabung ke Indosat. Berdasarkan data Ditjen Postel, slot tersebut sebenarnya telah berakhir pada 2005 lalu. Namun karena adanya komitmen Indosat untuk mengisi slot sebelum 2009, maka Indonesia tetap memiliki slot 150,5 derajat BT.

ITU sendiri telah menginformasikan pada Februari 2005 slot tersebut bisa lepas dari Indonesia. Pemerintah Indonesia pun diberikan peluang memperpanjang hingga Agustus 2005. Sayangnya, kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan, hingga akhirnya tiga tahun lalu jagat telekomunikasi heboh dengan berita lepasnya slot orbit 150,5 derajat BT.

Untunglah, berkat keuletan melakukan negosiasi, slot tersebut tidak jadi lepas. Belajar dari kesalahan tersebut, pemerintah menyatakan slot orbit 150,5 derajat BT dikelola secara konsorsium oleh Telkom dan Indosat melalui surat yang diterbitkan pada Maret 2009.

Dua operator yang selama ini aktif bermain di bisnis satelit ini pada 2010 lalu telah menandatangani Mmorandum of Understanding (MoU) untuk mengisi slot 150,5 derajat bujur timur (BT), disaksikan Menkominfo Tifatul Sembiring.

Telkom yang kala itu dibawah komandan Direktur Utama Rinaldi Firmansyah menyatakan mengatakan, proyek sharing infrastruktur itu dapat meningkatkan efisiensi belanja modal kedua belah pihak. Indosat sendiri kala itu diwakili oleh Direktur Utama Harry Sasongko.

"Ini baru tahap MoU, setelah itu akan ada tim dari kedua belah pihak yang akan menentukan planning, spesifikasi teknis foot print, dan harga," ungkap Rinaldi kala itu.


Diperkirakan, jika MoU itu berjalan lancar, dibutuhkan investasi sekitar US$ 200 juta untuk 48 transponden.

Telkom menyatakan memiliki kepentingan dengan satelit di slot ini walau berencana meluncurkan juga satelit Telkom-3.

Masih di momentum usai MoU ditandatangani yakni semester II-2010, Director and Chief Wholesale & Infrastruktur Officer Indosat Fadzri Sentosa mengatakan proyek kerja sama membutuhkan waktu persiapan sekitar 2 tahun. Pengadaan satelit tersebut akan dimulai pada 2013 dan diharapkan pada 2014 bisa mulai beroperasi.

”Kami (Indosat dan Telkom) sedang membicarakan pengadaan Palapa C3 karena Palapa C2 sudah harus selesai sebelum 2014,” jelasnya.

Indosat sendiri berencana akan memanfaatkan slot orbit 150.5 BT sebagai seluler backhaul dan komunikasi data, khususnya di remote area seperti untuk kebutuhan perusahaan minyak, gas, dan pertambangan.


Bubar
Namun, kabar terakhir yang dilontarkan Direktur Utama Indosat Alexander Rusli lumayan menyentak dan membuat galau komunitas TIK Indonesia.

“MoU-nya bubar. Tidak masalah batal, karena MoU belum mengikat. Telkom merasa tidak cocok dengan perkembangan kebutuhan mereka. Akhirnya Telkom mundur dan memilih bangun sendiri," ungkap Alex usai peluncuran iPhone5 di Jakarta, kemarin.

Dijelaskan Alex, slot orbit yang akan digarap itu dianggap tidak seksi karena lebih cocok untuk C-Band. Sedangkan operator televisi berbayar di Indonesia banyak menggunakan Ku-Band.

“Disamping itu, jika Ku-Band kan bisa juga digunakan untuk internet,” katanya.

Berkaitan dengan rencana pengadaan satelit Palapa C3 untuk menggantikan C2, Alex menyatakan, sedang melihat kemungkinan kerjasama dalam pendanaan atau penggunaan. “Masih dua tahun lagi. Tetapi mulai tahun depan memang harus sudah digarap, terutama masalah pendanaan,” katanya.

Menyesalkan
Menanggapi bubarnya MoU antara kedua operator, Juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo menyesalkan bubarnya rencana kerjasama tersebut.

“Meskipun itu lebih ke B to B, tetapi ini bagaimana perencanaan mereka? Apalagi kala MoU menghadirkan Menkominfo sebagai saksi. Lain kali harus serius kalau pakai hadirkan menteri. Ini menjadi pelajaran bagi kami, dan ke depan akan meminta jaminan jika hal serupa terulang lagi. Bukan jaminan uang, tetapi trust warranty document,” tegasnya.

Telkom Marketing 2
Gatot mendesak kedua belah pihak untuk menyerahkan rencana ke depan terkait slot yang dikelola berdua oleh operator tersebut.

“Kedua pihak harus tetap prepare sesegera mungkin dalam penyusunan program untuk satelit masing-masing karena waktu terus berjalan sementara di sisi lain kebutuhan untuk satelit berikutnya tidak bisa ditunda lagi. Kita juga ingin tahu apakah pemutusan itu mendadak atau ada rentang waktu tertentu seperti yang disepakati bersama,” katanya.

Angkasa Pura 2
Pemerintah wajar galau terkait ketersediaan infrastruktur satelit karena masih menjadi andalan untuk penyiaran dan telekomunikasi di area rural. Apalagi, Satelit Telkom-3 yang diharapkan bisa menambah kapasitas mengalami gagal orbit pada medio 2012 ini. (ak)

telkom sigma
Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
telkom solution travel
More Stories
telkom sigma