JAKARTA (IndoTelko) - Inflasi pangan bergejolak (volatile food) di Indonesia mencapai 5,03% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada September 2026, jauh di atas inflasi umum sebesar 3,28%. EBC Financial Group menilai kenaikan tersebut perlu diwaspadai apabila berlanjut dan mendorong ekspektasi kenaikan harga barang serta jasa lainnya.
Tekanan harga pangan menjadi perhatian pasar menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 2021 Oktober 2026. Menurut BI, kenaikan inflasi pangan dipengaruhi gangguan cuaca dan meningkatnya biaya input.
Kelompok pangan bergejolak mencakup komoditas seperti cabai, beras, telur, dan daging ayam yang harganya rentan berubah akibat kondisi cuaca dan musim panen.
Analis Pasar Keuangan EBC Financial Group, Sana Ur Rehman, mengatakan risiko utama bukan hanya kenaikan harga pangan, melainkan kemungkinan tekanan tersebut meluas ke berbagai sektor perekonomian.
“Jika pelaku usaha dan rumah tangga mulai berekspektasi harga akan terus naik, guncangan pangan yang sifatnya sementara bisa berubah menjadi tekanan yang menetap,” ujarnya.
Meski demikian, inflasi umum Indonesia masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5% ± 1 poin persentase, atau rentang 1,5%3,5%. Inflasi inti juga melandai menjadi 2,84% pada September 2026, dibandingkan 2,92% pada bulan sebelumnya.
Menurut EBC, perbedaan antara inflasi pangan dan inflasi inti tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga masih terkonsentrasi pada sisi pasokan pangan dan belum meluas secara merata ke seluruh perekonomian.
Ekspektasi Harga Peritel Meningkat
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Indeks Ekspektasi Harga dalam Survei Penjualan Eceran BI. Untuk Februari 2027, indeks tersebut meningkat menjadi 177,9 dari 166,0 pada periode sebelumnya.
Kenaikan indeks menunjukkan peritel memperkirakan tekanan harga akan lebih tinggi. Jika perkiraan tersebut berujung pada penyesuaian harga jual, kenaikan harga pangan berpotensi merembet ke barang dan jasa lainnya.
Namun, EBC mengingatkan bahwa ekspektasi harga peritel tidak sama dengan ukuran ekspektasi inflasi masyarakat secara keseluruhan. Karena itu, peningkatan indeks tersebut merupakan sinyal risiko yang perlu dipantau, bukan bukti bahwa Indonesia sedang memasuki krisis inflasi.
EBC juga merujuk kajian Dana Moneter Internasional (IMF) mengenai krisis biaya hidup. Kajian tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga kebutuhan pokok, terutama pangan dan energi, dapat membuat ekspektasi inflasi bertahan di atas tingkat sebelum krisis selama bertahun-tahun.
Dampaknya juga cenderung lebih berat bagi rumah tangga berpendapatan rendah karena porsi pengeluaran mereka untuk pangan dan energi relatif lebih besar.
Meski demikian, kondisi Indonesia saat ini belum menunjukkan pola krisis tersebut. Inflasi umum masih berada dalam sasaran BI, inflasi inti menurun, dan ekspektasi inflasi dinyatakan tetap terjangkar.
El Niño Membayangi hingga 2027
Risiko kenaikan harga pangan juga berkaitan dengan prospek cuaca. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Niño berada pada level sangat kuat. Pada dasarian II Oktober 2026, sekitar 66,09% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan rendah.
Fenomena El Niño diperkirakan berlangsung hingga akhir April 2027, melewati periode Februari 2027 yang menjadi horizon ekspektasi harga peritel. Kondisi kering dapat memengaruhi produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan, meskipun dampaknya berbeda menurut wilayah dan jenis komoditas.
EBC menegaskan bahwa kesamaan waktu antara El Niño dan kenaikan ekspektasi harga peritel belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Namun, BI telah mengidentifikasi gangguan cuaca sebagai salah satu faktor yang mendorong inflasi pangan.
Ruang Pelonggaran Suku Bunga BI Berpotensi Terbatas
BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% dalam keputusan 23 September 2026. Bank sentral juga menegaskan bahwa lonjakan harga yang bersifat sementara tidak dengan sendirinya menjadi alasan untuk mengubah kebijakan suku bunga.
Namun, jika ekspektasi kenaikan harga semakin meluas dan tekanan inflasi menjadi lebih persisten, ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga dapat menyempit. Perubahan ekspektasi suku bunga juga berpotensi memengaruhi imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan pergerakan nilai tukar rupiah.
Menurut Rehman, perkembangan harga pangan, ekspektasi harga peritel, dan kondisi cuaca perlu dipantau secara bersamaan untuk menilai apakah tekanan yang terjadi bersifat sementara atau berlangsung lebih lama.
“Jika terus naik selama El Niño berlangsung, masalah cuaca bisa berubah menjadi masalah harga yang lebih panjang. Jika berhenti naik, ini hanya akan menjadi lonjakan harga pangan jangka pendek,” katanya.
Pelaku pasar dapat mencermati rilis inflasi bulanan, Survei Penjualan Eceran BI, serta pembaruan prakiraan curah hujan BMKG untuk melihat arah perkembangan tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang. (mas)