JAKARTA (IndoTelko) - Salesforce memperluas cara pengguna berinteraksi dengan sistem CRM melalui AIforce, lapisan antarmuka dinamis yang memungkinkan kemampuan Salesforce digunakan langsung dari berbagai lingkungan kerja berbasis kecerdasan buatan (AI).
Diperkenalkan dalam ajang Dreamforce 2026, AIforce membawa data, workflow, logika bisnis, semantik, hak akses, keamanan, dan tata kelola yang tersimpan di Salesforce ke berbagai antarmuka AI.
Dengan pendekatan ini, pengguna tidak lagi harus selalu membuka aplikasi Salesforce untuk mencari informasi, memperbarui data, atau menjalankan workflow. Aktivitas tersebut dapat dilakukan melalui platform seperti Slack dan Claude maupun antarmuka lain yang terhubung.
Bagi agen AI, akses tersebut memungkinkan sistem membaca berbagai catatan dan sumber data, kemudian menggunakan logika bisnis Salesforce untuk memberikan jawaban maupun menjalankan tindakan.
Chair dan CEO Salesforce Marc Benioff mengatakan perkembangan AI mendorong perubahan besar pada cara manusia berinteraksi dengan perangkat lunak.
“AI sedang menciptakan revolusi antarmuka,” ujar Benioff. Menurutnya, Salesforce menggabungkan kemampuan model AI dengan konteks bisnis yang telah dibangun pelanggan untuk menghadirkan sistem yang dinamis dan dapat disusun.
Senior Vice President dan General Manager ASEAN Salesforce Paul Carvouni mengatakan pendekatan tersebut relevan dengan karakter Asia Tenggara yang banyak menggunakan perangkat mobile dan kanal percakapan untuk bekerja.
Tiga fungsi utama
Salesforce merancang AIforce agar interaksi AI tetap mengikuti struktur keamanan dan aturan bisnis yang sudah ada. Setiap permintaan mengacu pada hak akses pengguna, sehingga agen hanya dapat mengakses informasi yang memang tersedia bagi pengguna tersebut.
AIforce juga dirancang composable, sehingga pengguna dapat membuat tampilan atau pengalaman AI berdasarkan kebutuhan mereka hanya dengan menjelaskan apa yang ingin dibangun. Developer dapat memperluasnya menggunakan MCP, API, plug-in, dan skill.
Selain itu, Salesforce menerapkan konsep Zero Data Retention, di mana data bisnis digunakan untuk menjawab permintaan dan tidak disimpan oleh penyedia model.
AIforce menjadi lapisan baru dalam arsitektur Agentic Enterprise Salesforce, yang sebelumnya ditopang Data 360, Customer 360, semantik aplikasi, serta Agentforce sebagai tenaga kerja digital berbasis AI.
Salesforce masuk ke Claude dan Slack
Peluncuran AIforce dibarengi sejumlah integrasi baru. Melalui Claudeforce, Salesforce membawa kemampuan CRM ke Claude milik Anthropic melalui server MCP yang telah disiapkan.
Salesforce di Claude menyediakan 37 skill penjualan, mulai dari pencarian prospek hingga pengelolaan kualitas pipeline. Integrasi tersebut telah diuji oleh sejumlah perusahaan, termasuk Deloitte, GitLab, dan Legora, serta tersedia bagi pelanggan dalam versi beta.
Sementara itu, Slackforce membawa konteks dan kemampuan Salesforce ke dalam percakapan serta workflow di Slack.
Salah satu kemampuannya adalah Slackbot yang dapat menggunakan konteks percakapan Slack sekaligus data dan logika Salesforce. Pengguna dapat meminta Slackbot mengidentifikasi akun yang mulai tidak aktif, menelusuri kasus dukungan, membuat tugas tindak lanjut, hingga menyiapkan email pelanggan.
Salesforce juga memperkenalkan Slack CRM, yang memungkinkan pengguna membuat akun, mencatat hasil panggilan, dan memperbarui catatan Salesforce melalui perintah berbasis prompt langsung dari Slack.
Untuk kebutuhan pengembangan, Slack memperkenalkan Slack Code, yang memungkinkan tim bekerja bersama agen AI dalam sesi coding dan proyek secara kolaboratif.
Agentforce Coworker
Di lingkungan Salesforce sendiri, AIforce hadir bersama Agentforce Coworker, rekan kerja AI yang terintegrasi langsung dengan antarmuka Lightning.
Coworker dapat menalar informasi akun, aktivitas, dan riwayat pelanggan, memberikan insight, serta menjalankan tindakan tanpa pengguna harus berpindah lingkungan kerja.
Salesforce menyatakan Agentforce Coworker telah diaktifkan oleh 100.000 pengguna dalam 35 hari pertama. Di Fulton Bank, misalnya, teknologi tersebut digunakan untuk lebih dari 20 use case di lingkungan produksi dan mendukung sekitar 3.000 pengguna.
Dibangun dengan arsitektur terbuka
AIforce menggunakan Headless Toolkit, yang memberikan akses kepada developer dan builder terhadap berbagai komponen Salesforce melalui MCP, API, plug-in, skill, serta perangkat pengembangan.
Salesforce juga memperluas AgentExchange, ekosistem mitra untuk membangun antarmuka, agen AI, aplikasi, integrasi, dan workflow. Ekosistem ini mencakup berbagai perusahaan teknologi dan pengembang, termasuk Anthropic, Amazon Web Services, Google, OpenAI, Lovable, Vercel, Docusign, Gamma, Jasper, Ramp, dan Rippling.
Melalui AIforce, Salesforce menempatkan data dan logika bisnis CRM tidak hanya di dalam satu aplikasi, tetapi juga di berbagai antarmuka tempat manusia dan agen AI bekerja. Perusahaan menyebut pendekatan tersebut sebagai bagian dari pergeseran menuju perusahaan berbasis agen atau Agentic Enterprise. (mas)