JAKARTA (IndoTelko) - Perusahaan bioteknologi asal Australia, Uluu, resmi memperluas operasinya ke Indonesia melalui pendirian PT Uluu Solusi Indonesia. Langkah ini diarahkan untuk membangun rantai pasok rumput laut yang tertelusur dan berkelanjutan sebagai bahan baku alternatif plastik berbasis fosil.
Indonesia menjadi pasar strategis bagi Uluu karena merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar dunia. Perusahaan ingin mengembangkan bahan berbasis rumput laut yang dapat digunakan sebagai alternatif material plastik sekaligus meningkatkan praktik budi daya dan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
PT Uluu Solusi Indonesia dipimpin Dian Kurniawati sebagai Presiden Direktur, dengan Boedi Sardjana Julianto sebagai Komisaris.
“Sebagai produsen rumput laut terbesar kedua di dunia, Indonesia memiliki peran penting dalam misi Uluu untuk menggantikan plastik berbasis fosil dengan material yang terbuat dari rumput laut,” ujar Dian.
Menurutnya, kehadiran Uluu Indonesia akan memperkuat kemitraan dengan pembudi daya dan pelaku rantai pasok lokal, sekaligus memastikan aspek ketertelusuran serta praktik budi daya yang bertanggung jawab diterapkan sejak awal.
Co-founder dan Co-CEO Uluu, Dr Julia Reisser, mengatakan keberadaan tim lokal penting karena rumput laut merupakan bahan utama dalam pengembangan material Uluu.
“Dengan adanya tim di Indonesia, kami dapat bekerja secara langsung dengan mitra lokal dan para pembudi daya seiring dengan berkembangnya bisnis kami,” katanya.
Rumput Laut Tertelusur dari Sulawesi Selatan
Uluu telah menyelesaikan pengiriman perdana rumput laut yang sepenuhnya tertelusur dari CV Persada Semesta di Sulawesi Selatan.
Bersama Koltiva, perusahaan menerapkan pencatatan digital pada setiap tahapan rantai pasok, mulai dari pembudi daya, proses pengolahan hingga pengiriman. Sistem tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk meningkatkan transparansi sekaligus memperkuat pengelolaan rantai pasok ketika volume produksi meningkat.
General Manager CV Persada Semesta, Indra Santoso, mengatakan sistem ketertelusuran memberikan visibilitas terhadap perjalanan rumput laut dari tingkat pembudi daya hingga pengiriman.
“Kami bangga dapat bekerja sama dengan Uluu dan Koltiva dalam proyek percontohan ini dan berharap dapat memperluasnya untuk terus memberikan nilai tambah bagi masyarakat pembudi daya kami,” ujarnya.
Selain ketertelusuran, Uluu menggandeng Seafood Savers, platform inisiatif WWF-Indonesia, untuk menjalankan Aquaculture Improvement Program (AIP) di Luwu, Sulawesi Selatan.
Program bersama CV Persada Semesta tersebut bertujuan meningkatkan praktik budi daya dan sistem pengelolaan agar semakin selaras dengan Standar Rumput Laut ASC-MSC.
Jika berhasil, inisiatif ini berpotensi menjadi rantai pasok rumput laut pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi ASC-MSC. Sertifikasi independen tersebut akan melengkapi sistem ketertelusuran yang telah mulai diterapkan Uluu.
Dian menegaskan ekspansi di Indonesia masih berada pada tahap awal dan akan dilakukan melalui pendekatan bertahap.
“Kami memulainya melalui proyek percontohan yang terfokus, belajar bersama para mitra, dan menyempurnakan sistem sebelum memperluasnya ke jaringan yang lebih luas,” pungkasnya.
Melalui strategi tersebut, Uluu tidak hanya membidik pasokan bahan baku, tetapi juga membangun ekosistem rumput laut yang lebih transparan dan bertanggung jawab sebagai bagian dari misi mengembangkan material alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbasis fosil. (mas)