JAKARTA (IndoTelko) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membuat lanskap keamanan siber berubah semakin kompleks. Pelaku ancaman kini memanfaatkan AI untuk mempercepat serangan, sementara organisasi dituntut membangun pertahanan yang mampu menggabungkan kemampuan teknologi dan keahlian manusia.
Managing Director Kaspersky Asia Pasifik Adrian Hia mengatakan, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kecepatan serangan berbasis AI yang sering kali melampaui kemampuan organisasi dalam mendeteksi dan merespons ancaman.
“Keamanan siber saat ini bukan hanya perlombaan melawan waktu, tetapi juga perlombaan melawan ketidakjelasan karena semakin banyak titik buta dalam lingkungan teknologi informasi dan operasional,” ujar Hia.
Menurut Kaspersky, sejumlah tren ancaman utama yang berkembang di kawasan Asia Pasifik meliputi serangan berbantuan AI, sabotase terhadap infrastruktur teknologi informasi dan operasional (TI/OT), serta peningkatan aktivitas spionase siber.
Kaspersky mencatat telah mendeteksi dan memblokir sekitar 500 ribu file berbahaya unik setiap hari pada tahun lalu, meningkat 7% dibandingkan tahun sebelumnya. Perusahaan juga menemukan lebih dari 15 ribu sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak berbasis AI.
Ancaman berbasis AI dinilai semakin berbahaya karena ekosistem teknologi modern bergantung pada berbagai komponen pihak ketiga, seperti framework, API, dan plugin. Celah pada salah satu komponen tersebut dapat membuka akses bagi pelaku ancaman untuk menyerang sistem yang lebih luas.
Selain meningkatnya ancaman berbasis AI, masalah visibilitas keamanan masih menjadi tantangan bagi banyak organisasi. Berdasarkan laporan Kaspersky Compromise Assessment, sebanyak 31% insiden yang dianalisis menunjukkan aktivitas berbahaya telah berlangsung lebih dari tiga bulan sebelum terdeteksi.
Bahkan, lebih dari separuh kasus pelanggaran dengan tingkat keparahan tinggi baru ditemukan setelah melewati periode 90 hari. Dalam beberapa kasus, aktivitas berbahaya tidak terdeteksi hingga empat tahun.
Kaspersky menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa investasi teknologi keamanan saja belum cukup. Organisasi membutuhkan pusat operasi keamanan (Security Operations Center/SOC) yang mampu melakukan pemantauan berkelanjutan, analisis ancaman, serta respons cepat terhadap insiden.
HuMachine Intelligence Jadi Strategi Pertahanan
Menghadapi perkembangan ancaman siber, Kaspersky mendorong pendekatan HuMachine Intelligence, yaitu kombinasi antara kemampuan AI dan keahlian manusia dalam proses pengamanan digital.
Hia menjelaskan, AI telah menjadi bagian dari teknologi Kaspersky selama lebih dari dua dekade melalui pengembangan machine learning yang dilatih menggunakan data telemetri global.
“AI bukan sekadar tambahan bagi Kaspersky. Teknologi ini telah tertanam dalam berbagai lapisan perlindungan kami untuk menghadirkan deteksi lebih cepat, otomatisasi lebih baik, dan perlindungan yang lebih konsisten,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, Kaspersky menilai sistem keamanan dapat bekerja lebih efektif karena AI membantu mengolah data dalam jumlah besar, sementara manusia tetap berperan dalam pengambilan keputusan strategis dan analisis kompleks.
Untuk mendukung kebutuhan organisasi, Kaspersky menyediakan rangkaian solusi keamanan yang mencakup perlindungan real-time, visibilitas ancaman, serta kemampuan investigasi dan respons melalui teknologi EDR/XDR.
Selain itu, perusahaan juga menawarkan layanan keamanan terkelola seperti Kaspersky Compromise Assessment, Kaspersky MDR, dan Kaspersky Incident Response untuk membantu organisasi menemukan, menangani, hingga memulihkan dampak serangan siber.
Kaspersky juga menyediakan layanan konsultasi SOC untuk membantu perusahaan membangun maupun meningkatkan kemampuan pusat operasi keamanan agar lebih siap menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
Menurut Kaspersky, kombinasi AI dan keahlian manusia akan menjadi fondasi penting dalam menghadapi era baru keamanan siber, ketika serangan semakin otomatis dan kompleks. (mas)