JAKARTA (IndoTelko) - Red Hat memperluas portofolio teknologi sovereign cloud dan private AIuntuk membantu organisasi mendapatkan kendali lebih besar terhadap infrastruktur, data, dan pengembangan teknologi mereka.
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan dan pemerintah terhadap sistem digital yang lebih mandiri, aman, serta mampu memenuhi berbagai tuntutan regulasi terkait pengelolaan data.
Melalui pembaruan tersebut, Red Hat menghadirkan pendekatan berbasis teknologi terbuka yang memungkinkan organisasi membangun dan mengelola lingkungan cloud sesuai kebutuhan masing-masing, tanpa ketergantungan penuh terhadap satu penyedia teknologi.
“Inovasi seharusnya tidak mengorbankan kontrol. Kami menghadirkan kemampuan yang memungkinkan organisasi membangun masa depan digital yang lebih mandiri sesuai dengan kebutuhan mereka sendiri,” ujar Ashesh Badani, Senior Vice President sekaligus Chief Product Officer Red Hat.
Portofolio terbaru Red Hat mencakup sejumlah pengembangan, mulai dari peningkatan kemampuan kepatuhan, penyederhanaan proses audit, hingga penyediaan infrastruktur cloud yang siap digunakan sejak tahap awal implementasi.
Salah satu pembaruan yang diperkenalkan adalah peningkatan framework kepatuhan pada Red Hat OpenShift Compliance Operator yang dikombinasikan dengan Red Hat Advanced Cluster Security for Kubernetes. Fitur ini membantu organisasi mengotomatisasi proses pemeriksaan teknis untuk memenuhi berbagai standar seperti NIS2, GDPR, dan DORA.
Selain itu, Red Hat menghadirkan landing zone siap produksi yang memungkinkan perusahaan membangun lingkungan komputasi terisolasi dengan konfigurasi keamanan dan kepatuhan yang telah disiapkan sejak awal.
Untuk kebutuhan kecerdasan buatan, Red Hat juga memperluas kemampuan sovereign AI melalui layanan yang memungkinkan pelanggan dan mitra menyediakan layanan seperti GPU-as-a-service, models-as-a-service, dan inferencing-as-a-service berbasis private cloud.
Perusahaan juga memperkenalkan kemampuan telemetri on-premise melalui Red Hat Lightspeed untuk membantu organisasi memantau biaya cloud tanpa harus memindahkan data operasional keluar dari lingkungan yang mereka kendalikan.
Menurut Red Hat, konsep kedaulatan digital saat ini tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga kemampuan organisasi mempertahankan kendali atas teknologi, data, dan arah transformasi digital mereka.
Penguatan ekosistem ini turut dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai mitra teknologi, termasuk NVIDIA, Google Cloud, IBM, serta sejumlah penyedia layanan regional untuk menghadirkan solusi sovereign cloud dan private AI yang lebih fleksibel.
Melalui strategi tersebut, Red Hat menargetkan organisasi dapat mempercepat inovasi berbasis cloud dan AI, sekaligus menjaga transparansi, keamanan, serta kontrol terhadap aset digital mereka di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. (mas)